Tren Transportasi Publik di Indonesia: Jakarta Melonjak, Daerah Lain Terkendala Infrastruktur
Angka pengguna transportasi publik di Jakarta mencetak rekor tertinggi, didominasi Gen Z dan Milenial. Namun, tren transportasi publik secara nasional masih menghadapi tantangan infrastruktur yang signifikan di luar ibu kota.
Angka penumpang Transjakarta pada tahun 2025 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah operasionalnya, yakni 413,3 juta orang, menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata harian mencapai 1,4 juta orang, dengan lebih dari 80 persen di antaranya berasal dari Generasi Z dan Milenial. Lonjakan serupa juga terjadi pada MRT Jakarta, yang mencatat total 45,41 juta penumpang pada 2025 atau rata-rata 100 ribu penumpang per hari.
Data ini seringkali diinterpretasikan sebagai bukti bahwa generasi muda Indonesia kini beralih ke transportasi publik secara kolektif. Namun, penting untuk memahami bahwa tren positif ini sangat dipengaruhi oleh perbaikan dan peningkatan layanan yang masif di ibu kota. Tanpa konteks yang lebih luas, kesimpulan bahwa seluruh Indonesia mengalami pergeseran serupa bisa jadi terlalu dini.
Perbaikan tersebut meliputi ekspansi rute Transjakarta menjadi 233 jalur, revitalisasi 46 halte BRT (bus rapid transit), integrasi antarmoda dengan MRT dan LRT, serta sistem pembayaran digital yang efisien. Peningkatan kualitas layanan inilah yang mendorong peningkatan minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menggunakan transportasi umum di Jakarta.
Lonjakan Pengguna Transportasi Publik di Jakarta
Peningkatan signifikan jumlah penumpang Transjakarta dan MRT Jakarta pada tahun 2025 menjadi indikator kuat keberhasilan pengembangan infrastruktur di ibu kota. Transjakarta, misalnya, berhasil melayani 413,3 juta orang, meningkat drastis dari 191 juta pengguna pada tahun 2022. Angka ini mencerminkan respons positif masyarakat terhadap layanan yang terus diperbaiki dan diperluas.
Generasi Z dan Milenial mendominasi pengguna transportasi publik di Jakarta, dengan lebih dari 80 persen dari rata-rata 1,4 juta penumpang harian Transjakarta berasal dari kelompok ini. Minat generasi muda terhadap konektivitas transportasi juga terlihat dari preferensi hunian. Survei Jakpat pada Mei 2023 menunjukkan 65 persen Gen Z memprioritaskan lokasi strategis dekat transportasi umum saat memilih tempat tinggal.
Lebih lanjut, survei dari platform penyedia layanan hunian bersama (co-living) Cove mengungkapkan bahwa enam dari 10 Gen Z di Jakarta mempertimbangkan pindah tempat tinggal semata untuk memangkas waktu perjalanan harian. Bahkan, harga sewa properti dalam radius kurang dari 500 meter dari titik transit dapat naik lima hingga 10 persen dibandingkan properti serupa yang lebih jauh. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan transportasi publik yang memadai secara langsung memengaruhi perhitungan biaya hidup dan pilihan hunian.
Realitas Berbeda di Luar Ibu Kota
Berbeda dengan Jakarta, gambaran penggunaan transportasi publik di luar ibu kota masih sangat kontras. Data BPS pada akhir 2025 menunjukkan bahwa 90,32 persen dari 7,97 juta pekerja komuter di Indonesia masih menggunakan transportasi pribadi. Hanya sekitar 19 persen penduduk Indonesia yang mengandalkan transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari.
Populasi kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 173 juta unit pada akhir 2025, dengan sepeda motor mendominasi lebih dari 83 persen atau setara 145 juta unit. Di wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan luar Jawa, sepeda motor bukan hanya alternatif, melainkan moda utama yang tidak tergantikan untuk hampir semua kebutuhan pergerakan. Ini menyoroti ketergantungan yang tinggi pada kendaraan pribadi di banyak daerah.
Bahkan di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang memiliki banyak kampus dan kawasan padat anak muda, penggunaan kendaraan pribadi saat libur Nataru 2025 justru melonjak. Sementara itu, jumlah penumpang transportasi umum di wilayah tersebut malah menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa tanpa infrastruktur yang memadai, minat terhadap transportasi publik sulit tumbuh secara signifikan.
Infrastruktur Kunci Pendorong Adopsi Transportasi Publik
Ada tiga hambatan struktural utama yang menghambat adopsi tren transportasi publik di Indonesia, bukan karena faktor kultural. Pertama, masalah titik awal keberangkatan dan transit lanjutan menuju tujuan akhir. Jaringan transportasi umum di sebagian besar kota hanya tersedia di jalan-jalan utama, sementara pergerakan dari permukiman menuju halte atau stasiun seringkali tidak difasilitasi dengan baik.
Kedua, kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, menawarkan fleksibilitas waktu dan perjalanan langsung dari pintu ke pintu tanpa terikat jadwal. Di kota-kota yang belum memiliki sistem transit terpadu, ketergantungan pada satu moda dapat menyebabkan keterlambatan berantai, yang disederhanakan oleh penggunaan sepeda motor. Ini menjadi alasan kuat bagi banyak orang untuk memilih kendaraan pribadi.
Ketiga, absennya jaringan transportasi publik yang memadai di luar kota-kota besar. Saat ini, hanya Jakarta yang memiliki kombinasi BRT massal, MRT, dan LRT yang cukup terintegrasi. Kota-kota lain seperti Surabaya, Medan, atau Makassar memang memiliki armada bus kota, namun cakupan dan frekuensinya belum memadai untuk menjadi andalan mobilitas harian. Ini menunjukkan bahwa investasi infrastruktur adalah prasyarat utama untuk mendorong pergeseran perilaku mobilitas.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan penggunaan transportasi umum mencapai 40 persen dari total pergerakan warga ibu kota pada 2029. Untuk mencapai target ini, program pengenalan transportasi publik kini menyasar pelajar SMP hingga SMK, dengan harapan membangun kebiasaan sejak dini. Hal ini secara implisit mengakui bahwa adopsi transportasi umum bukan soal selera generasi, melainkan soal pembiasaan yang didukung oleh ketersediaan layanan yang berkualitas.
Sumber: AntaraNews