21 Sekolah Terdampak Banjir Situbondo, Aktivitas Belajar Mengajar Terhenti
Banjir bandang di Situbondo mengakibatkan 21 Sekolah Terdampak Banjir Situbondo, memaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara untuk pembersihan material lumpur.
Banjir luapan air sungai atau banjir bandang melanda lima kecamatan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Rabu (21/1) malam. Bencana ini tidak hanya menerjang ribuan rumah warga tetapi juga membanjiri sedikitnya 21 lembaga pendidikan tingkat SD dan SMP. Akibatnya, aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah tersebut terpaksa diliburkan untuk sementara waktu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo, Sopan Efendi, mengonfirmasi data ini pada Sabtu (24/1) di Situbondo. Dari total 21 sekolah yang terdampak, dua di antaranya mengalami kerusakan paling parah. Kondisi ini memerlukan penanganan cepat agar kegiatan pendidikan dapat kembali normal.
Insiden ini terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah aliran sungai meluap di berbagai wilayah. Material banjir berupa lumpur dan sampah memenuhi ruang kelas serta area sekolah, membutuhkan upaya pembersihan besar-besaran. Pihak berwenang terus berkoordinasi untuk mempercepat proses pemulihan.
Dampak Parah pada Dua Sekolah Unggulan
Sopan Efendi menjelaskan bahwa dua sekolah yang paling parah terdampak adalah SDN 1 Banyuglugur dan SMPN 1 Banyuglugur. Kedua institusi pendidikan ini berlokasi berdekatan dan mengalami kerusakan signifikan akibat terjangan banjir bandang. Tembok pagar belakang sekolah ambruk, serta material banjir seperti lumpur dan sampah masuk ke dalam area sekolah.
Kondisi ini membuat kedua sekolah tersebut membutuhkan perhatian khusus dalam proses pembersihan dan perbaikan. Dispendikbud Situbondo telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk menangani dampak bencana ini. Upaya pembersihan difokuskan pada area-area yang paling parah terkena dampak.
Upaya Penanganan dan Pembersihan Pasca-Banjir
Pasca-banjir bandang, aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah-sekolah terdampak diliburkan sejak Kamis (22/1). Keputusan ini diambil agar para guru dan warga dapat bergotong royong membersihkan air bercampur lumpur yang masuk ke ruang kelas maupun ruang guru. Proses pembersihan ini sangat krusial untuk mengembalikan fungsi sekolah.
Dispendikbud Situbondo juga telah meminta bantuan dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk membantu membersihkan lumpur di SMPN 1 Banyuglugur dan SDN 1 Kalianget. Kedua sekolah ini menjadi prioritas utama karena tingkat kerusakan yang paling parah. Kolaborasi antarinstansi diharapkan dapat mempercepat pemulihan lingkungan sekolah.
Data Lengkap Sekolah Terdampak Banjir Situbondo
Secara keseluruhan, 21 lembaga pendidikan SD dan SMP di Situbondo terdampak banjir bandang. Daftar sekolah ini mencakup berbagai wilayah di lima kecamatan yang terkena bencana. Kerusakan bervariasi, mulai dari genangan lumpur hingga kerusakan fisik bangunan.
Berikut adalah daftar lengkap lembaga pendidikan SD dan SMP yang terdampak banjir di Situbondo:
- SDN 9 Kilensari
- SDN 4 Sumberkolak
- SDN 2 Curahkalak
- SDN 1 Klatakan
- SDN 2 Klatakan
- Kantor Korwil Kendit
- SDN 5 Kendit
- SDN 1 Bugeman
- SDN 1 Banyuglugur
- SDN 1 Kalianget
- SDN 3 Lubawang
- SD Terpadu An Nadwah Lubawang
- SDN 2 Kalimas
- SDN 2 Pesisir
- SDN 6 Pesisir
- SDN 7 Pesisir
- SDN 2 Blimbing
- SDN 5 Olean
- SMPN 1 Kapongan
- SMPN 1 Banyuglugur
Data ini menunjukkan skala dampak yang luas terhadap sektor pendidikan di Kabupaten Situbondo.
Skala Kerusakan Rumah Warga Akibat Banjir
Selain fasilitas pendidikan, banjir bandang juga menyebabkan kerusakan signifikan pada ribuan rumah warga di Situbondo. Di Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, banjir luapan Sungai Lubawang menerjang 440 rumah warga, menjadikannya salah satu desa paling parah terdampak. Desa Kalianget, masih dalam satu kecamatan, juga mengalami dampak parah dengan 246 unit rumah terdampak.
Dampak banjir luapan air Sungai Lubawang juga meluas ke Kecamatan Besuki, dengan total 5.425 rumah terdampak. Rumah-rumah tersebut tersebar di Desa Pesisir (2.882 rumah), Desa Kalimas (193 rumah), Desa Demung (44 rumah), dan Desa Besuki (2.306 rumah).
Hujan intensitas tinggi pada Rabu (21/1) turut menyebabkan luapan sungai di Kecamatan Bungatan, menggenangi 113 rumah di Desa Mlandingan Wetan. Sementara itu, di Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, 169 rumah terdampak, dan di Desa/Kecamatan Kendit, 154 rumah juga terendam banjir.
Sumber: AntaraNews