Disdikbud Siapkan Sekolah Darurat Aceh Tamiang Pasca Banjir, Proses Belajar Dimulai 5 Januari
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang sigap siapkan sekolah darurat Aceh Tamiang berupa tenda untuk enam sekolah terdampak banjir bandang dan longsor, memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Tamiang telah mengambil langkah cepat menyiapkan tenda sebagai sekolah darurat bagi enam institusi pendidikan yang mengalami kerusakan parah. Langkah ini diambil menyusul bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut baru-baru ini. Plt Kepala Disdikbud Aceh Tamiang, Sepriyanto, mengonfirmasi bahwa tenda-tenda tersebut sudah terpasang di lokasi yang membutuhkan.
Upaya ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan proses belajar mengajar bagi ribuan siswa di Aceh Tamiang. Pembersihan lumpur sisa banjir juga sedang digencarkan di sekolah-sekolah lain yang tersebar di seluruh kabupaten. Menurut Sepriyanto, targetnya adalah agar seluruh siswa dapat kembali bersekolah pada Senin, 5 Januari 2026, setelah libur semester.
Enam sekolah yang akan menggunakan fasilitas sekolah darurat ini menghadapi kondisi yang beragam, mulai dari atap ambruk hingga tertutup lumpur tebal. Khusus untuk SD Sekumur, tenda darurat didirikan di daerah pengungsian. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan akses pendidikan kepada para siswa yang terdampak langsung oleh bencana tersebut dan masih berada di lokasi pengungsian.
Upaya Pemulihan Cepat Pendidikan di Aceh Tamiang
Disdikbud Aceh Tamiang bergerak cepat dalam penanganan dampak banjir terhadap fasilitas pendidikan. Pemasangan tenda darurat menjadi solusi sementara agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti terlalu lama. Selain itu, tim gabungan terus berupaya membersihkan sisa-sisa lumpur di ratusan sekolah lainnya.
Plt Kepala Disdikbud Aceh Tamiang, Sepriyanto, menjelaskan bahwa pembersihan lumpur ini melibatkan seluruh jajaran Disdikbud serta bantuan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Aceh. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan. Target utama adalah mengembalikan kondisi sekolah agar layak digunakan secepatnya.
Proses pembersihan difokuskan pada sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat atau masih tertutup lumpur tebal. Bagi sekolah yang rusak parah dan belum bisa digunakan, siswa akan belajar sementara di sekolah lain atau di tenda darurat yang telah disediakan. Disdikbud juga akan terus memantau perkembangan dan menyesuaikan kebutuhan tenda tambahan jika diperlukan.
Sebaran Kerusakan Sekolah Akibat Banjir Bandang di Aceh Tamiang
Data sementara dari Disdikbud Aceh Tamiang menunjukkan skala kerusakan yang signifikan pada fasilitas pendidikan. Total 459 unit sekolah berada di wilayah tersebut, dengan 394 di antaranya terdampak banjir bandang dan longsor. Hanya 65 unit sekolah yang dinyatakan tidak terdampak sama sekali oleh bencana ini.
Dari 394 sekolah yang terdampak, rincian kerusakannya bervariasi. Sebanyak 47 unit sekolah mengalami rusak ringan, sementara 269 unit lainnya menderita kerusakan sedang. Kondisi paling parah menimpa 78 unit sekolah yang dikategorikan rusak berat, beberapa bahkan hilang tersapu banjir bandang.
Beberapa sekolah yang secara spesifik akan menggunakan fasilitas sekolah darurat meliputi SD N 1 Babo yang atapnya ambruk, SD N Alur Jambu yang tertutup lumpur tebal, dan SMP Babo dengan kerusakan berat serta lumpur tebal. SD Swasta dan SMP Swasta Dharma Patra juga menghadapi kondisi serupa dengan endapan lumpur yang tebal.
- Daftar sekolah yang akan menggunakan tenda darurat:
- SD N 1 Babo: Rusak parah, atap ambruk.
- SD N Alur Jambu: Tertutup lumpur tebal.
- SMP Babo: Rusak berat, lumpur tebal.
- SD Swasta dan SMP Swasta Dharma Patra: Tertutup lumpur tebal.
- SD Sekumur: Hilang tersapu banjir bandang, tenda darurat di daerah pengungsian.
- Rusak ringan: 47 unit.
- Rusak sedang: 269 unit.
- Rusak berat: 78 unit.
Sumber: AntaraNews