Warga Desa Babo, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, kini menghadapi tantangan berat setelah bencana banjir melanda pada 26 November 2025. Bencana tersebut telah melumpuhkan perekonomian desa, memaksa banyak warga mencari cara baru untuk bertahan hidup. Sebagian besar warga yang sebelumnya bekerja di perkebunan sawit kini kehilangan mata pencarian utama mereka.
Kepala Desa Babo, Khairi Ramadhan, menjelaskan bahwa kondisi ini mendorong warga untuk beralih profesi. Mereka kini banyak yang menjadi buruh kayu sisa banjir guna memperoleh pendapatan rumah tangga. Pergeseran profesi ini menjadi solusi sementara bagi para penyintas bencana Babo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pekerjaan sebagai buruh kayu gelondongan bekas banjir menjadi pilihan utama bagi mereka. Aktivitas ini meliputi membelah dan mengangkat kayu. Adaptasi ini menunjukkan ketangguhan warga dalam menghadapi dampak bencana alam yang parah.
Advertisement
Advertisement
Dampak Banjir dan Pergeseran Profesi Penyintas Bencana Babo
Bencana banjir yang terjadi pada November 2025 memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan warga Desa Babo. Lahan-lahan perkebunan sawit, baik milik pribadi maupun perusahaan, hancur diterjang air bah. Akibatnya, ribuan warga kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan utama mereka.
Khairi Ramadhan menyatakan, "Banyak warga sekarang kerja belah kayu, angkat kayu, jadi buruh kayu gelondongan bekas banjir." Keputusan untuk beralih profesi ini merupakan langkah terpaksa. Warga harus memiliki sumber pendapatan demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka yang mendesak.
Ketiadaan lahan sawit yang bisa digarap membuat mereka harus mencari alternatif. Pekerjaan sebagai buruh kayu menjadi jalan keluar. Ini menunjukkan adaptasi cepat masyarakat dalam kondisi darurat.
Advertisement
Advertisement
Dinamika Pekerjaan Buruh Kayu di Desa Babo
Para warga Desa Babo tidak hanya bekerja sebagai buruh kayu untuk kayu bekas banjir yang berada di desa setempat. Mereka juga aktif mengangkat kayu-kayu dari desa lain. Kayu-kayu ini diangkut melalui pelabuhan yang aktif di Desa Babo.
Khairi menjelaskan, "Kebetulan pelabuhan kami aktif jadi kayu-kayu gelondongan dari atas (desa-desa lain) dihanyutkan ke sini untuk bongkar muat dari sini." Proses ini menciptakan rantai pasokan kayu yang cukup terorganisir. Kayu-kayu tersebut kemudian diolah lebih lanjut.
Kayu-kayu bekas banjir biasanya dibelah sebelum dijual kepada warga. Kayu ini dimanfaatkan untuk pembangunan rumah, tempat usaha, dan keperluan lainnya. Selain itu, kayu gelondongan juga disalurkan ke pabrik-pabrik di Medan, Sumatera Utara.
Advertisement
"Jadi sudah ada pembeli yang memesannya," tambah Khairi. Hal ini menunjukkan adanya permintaan pasar yang stabil untuk kayu-kayu tersebut. Aktivitas ini menjadi tulang punggung ekonomi baru bagi penyintas bencana Babo.
Advertisement
Upaya Pemulihan Ekonomi dan Harapan Warga
Saat ini, warga Desa Babo sedang berjuang keras menata kembali perekonomian yang lumpuh akibat bencana banjir. Selain bekerja sebagai buruh kayu, sebagian warga juga menjalankan usaha kecil menengah (UKM). Usaha ini meliputi penjualan sembako, makanan, hingga berjualan takjil.
Khairi Ramadhan menambahkan, "Memang masih banyak warga yang mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan mereka tetapi banyak juga yang mulai menghidupkan lagi usaha ekonomi mereka." Ini mencerminkan semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat.
Meskipun tantangan masih besar, upaya pemulihan terus dilakukan. Warga Desa Babo menunjukkan resiliensi luar biasa. Mereka berusaha bangkit dari keterpurukan. Adaptasi profesi menjadi buruh kayu adalah salah satu bukti nyata perjuangan mereka.
Advertisement
Sumber: AntaraNews