Terdampak Banjir, 1.835 Sekolah di Bali Bakal Dapat Bantuan Sarpras Sekolah Terdampak Banjir Bali dari Kemendikdasmen
Kemendikdasmen berjanji menyalurkan bantuan sarpras sekolah terdampak banjir Bali pada tahun anggaran 2026, menyusul ribuan fasilitas pendidikan yang rusak akibat curah hujan tinggi. Apa saja bantuan yang diberikan?
Ribuan sekolah di Provinsi Bali mengalami kerusakan signifikan akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada Selasa (9/9) pukul 23:15 WITA. Curah hujan tinggi menjadi pemicu utama bencana alam ini, mengakibatkan dampak serius pada infrastruktur pendidikan.
Menanggapi kondisi darurat ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) melalui Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen) Gogot Suharwoto, memastikan bantuan akan segera disalurkan. Bantuan ini bertujuan untuk memulihkan fasilitas pendidikan yang rusak.
Dalam kunjungan kerja ke Bali, Dirjen Gogot didampingi Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bali I Made Alit Dwitama, meninjau langsung beberapa sekolah yang terdampak. Kunjungan ini sekaligus untuk menyerahkan bantuan awal berupa school kit kepada para siswa.
Komitmen Bantuan dan Data Kerusakan Infrastruktur Pendidikan
Dirjen Gogot Suharwoto menegaskan komitmen Kemendikdasmen untuk membantu sekolah-sekolah yang terdampak banjir di Bali. Kemendikdasmen melalui Dirjen PAUD Dasmen Gogot Suharwoto memastikan akan menyalurkan bantuan sarpras sekolah terdampak banjir Bali pada tahun anggaran 2026. “Kami akan memberikan bantuan berupa sarana dan perbaikan prasarana sekolah sehingga mengurangi risiko dampak banjir, pada tahun anggaran 2026,” ujar Dirjen Gogot dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta. Bantuan ini diharapkan dapat memulihkan kondisi belajar mengajar.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun, sebanyak 60 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat terjangan banjir. Selain itu, musibah ini juga berdampak langsung pada 906 siswa dan 74 guru yang aktivitas pendidikannya terganggu. Kondisi ini memerlukan penanganan cepat dan terkoordinasi.
Pemetaan data pokok pendidikan (Dapodik) menunjukkan bahwa total ada 1.835 sekolah di Bali yang terdampak banjir. Sebaran sekolah terdampak meliputi 214 sekolah di Kabupaten Badung, 285 sekolah di Kabupaten Gianyar, 226 sekolah di Kabupaten Jembrana, 49 sekolah di Kabupaten Klungkung, 113 sekolah di Kabupaten Tabanan, dan 948 sekolah di Kota Denpasar. Angka ini menunjukkan skala kerusakan yang luas pada fasilitas pendidikan.
Dampak Luas Bencana dan Imbauan Layanan Pendidikan
Selain kerusakan fasilitas pendidikan, banjir di Bali juga menelan korban jiwa. Tercatat sebanyak 16 jiwa menjadi korban, dengan rincian 14 orang meninggal dunia dan 2 orang lainnya masih dalam pencarian. Musibah ini juga menyebabkan 562 jiwa harus mengungsi dari tempat tinggal mereka, menambah daftar panjang dampak kemanusiaan.
Dalam kunjungannya, Dirjen Gogot secara langsung menyerahkan bantuan awal berupa school kit kepada murid-murid di SDN 04 Dauh Puri, SDN 12 Duh Puri, SDN 10 Paguyangan, dan SDN 11 Paguyangan. Penyerahan bantuan ini merupakan langkah awal untuk memastikan siswa tetap memiliki perlengkapan belajar.
Mengingat kondisi pasca bencana yang masih memerlukan penanganan, Dirjen Gogot mengimbau pemerintah daerah di Bali untuk tetap menyelenggarakan layanan pendidikan. “Layanan pendidikan harus tetap diberikan segera untuk memastikan anak-anak kita tetap belajar walaupun di kondisi pasca darurat bencana,” tegasnya. Hal ini penting agar proses belajar mengajar tidak terhenti terlalu lama dan pemulihan pendidikan dapat berjalan optimal.
Sumber: AntaraNews