Disdikbud Kalsel Catat 20 Sekolah Negeri Terdampak Banjir Kalsel, Prioritaskan Perbaikan 2026
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan mencatat setidaknya 20 sekolah negeri terdampak banjir Kalsel, dengan perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama pada tahun 2026 mendatang.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat sekitar 20 sekolah negeri di daerah itu terdampak bencana banjir pada awal Januari ini. Identifikasi menyeluruh masih terus dilakukan untuk mendata seluruh sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana alam tersebut. Proses pendataan ini mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMA, SMK, hingga SLB.
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, mengungkapkan bahwa pendataan masih berlangsung, terutama untuk sekolah swasta yang juga berpotensi terdampak. Bencana banjir ini secara signifikan mengganggu proses belajar mengajar di berbagai wilayah terdampak, menimbulkan tantangan besar bagi dunia pendidikan di Kalsel. Pihaknya berupaya keras untuk memastikan pendidikan tetap berjalan.
Untuk meminimalkan dampak, Disdikbud Kalsel telah mengambil langkah pengamanan sarana prasarana sekolah dan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Perbaikan sekolah yang rusak akibat banjir menjadi prioritas utama pada tahun 2026 mendatang, menunjukkan komitmen jangka panjang dalam pemulihan. Fokus utamanya adalah mengembalikan kondisi sekolah seperti semula.
Dampak Banjir Terhadap Pendidikan di Kalsel
Bencana banjir yang melanda Kalimantan Selatan telah menimbulkan kerugian signifikan pada sektor pendidikan, dengan sekitar 20 sekolah negeri dilaporkan terdampak. Disdikbud Kalsel masih terus mengidentifikasi jumlah pasti sekolah swasta yang juga mengalami kerusakan. Dampak ini bervariasi, mulai dari genangan air di halaman hingga masuk ke dalam ruang kelas dan praktik, mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menjelaskan bahwa banjir berdampak langsung pada kelangsungan proses belajar mengajar. Salah satu contohnya adalah SMAN 3 Martapura, di mana akses masuk sekolah terendam air hingga sekitar 60-70 centimeter. Situasi ini tentu menyulitkan siswa dan guru untuk beraktivitas normal, bahkan beberapa area terendam hingga 50 centimeter.
Meski demikian, pihak Disdikbud Kalsel telah berupaya melakukan langkah mitigasi untuk mengurangi kerugian. Pengamanan sarana dan prasarana sekolah, seperti meja dan kursi, berhasil dilakukan untuk meminimalkan kerusakan. Hal ini menunjukkan kesigapan dalam menghadapi kondisi darurat dan melindungi aset pendidikan.
Strategi Disdikbud Kalsel Hadapi Banjir dan Prioritas Perbaikan
Menghadapi kondisi banjir yang meluas, Disdikbud Kalsel mendorong pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring bagi siswa. Kebijakan ini diambil mengingat banyak rumah siswa juga terendam banjir, sehingga menyulitkan mereka untuk datang ke sekolah. Relaksasi absensi juga diberikan untuk memastikan tidak ada siswa yang kehilangan kesempatan belajar.
Galuh Tantri Narindra menegaskan bahwa perbaikan sekolah terdampak banjir menjadi prioritas utama Disdikbud Kalsel pada tahun 2026. Saat ini, tim sedang menghitung tingkat kerusakan dan mengalokasikan anggaran yang diperlukan untuk rehabilitasi. Fokus pada perbaikan infrastruktur pendidikan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk pemulihan jangka panjang.
Sejumlah daerah di Kalimantan Selatan yang memiliki sekolah terdampak antara lain Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut. Beberapa sekolah yang tercatat terdampak meliputi SLB Negeri 1 Amuntai, SMAN 3 Martapura, SMAN 1 Aluh-Aluh, SMAN 1 Beruntung Baru, SMAN 1 Gambut, SMK Sungai Tabuk, SMK Kertak Hanyar, SMK NU Ma’arif, SMAN 13 Banjarmasin, SMAN 1 Jejangkit, SMAN 1 Mandastana, serta SMK Harapan Bangsa. Sementara itu, beberapa kabupaten lain seperti Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tanah Bumbu, Kotabaru, dan Kota Banjarbaru dilaporkan tidak terdampak banjir.
Upaya Pengamanan dan Harapan Normalisasi Aktivitas Pendidikan
Upaya pengamanan sarana dan prasarana sekolah telah dilakukan secara proaktif oleh Disdikbud Kalsel. Di SMAN 3 Martapura, misalnya, meskipun akses terendam, meja dan kursi berhasil diamankan dari kerusakan. Langkah ini penting untuk meminimalkan kerugian aset pendidikan dan memastikan fasilitas dapat digunakan kembali setelah banjir surut.
Kepala Disdikbud Kalsel berharap agar banjir segera surut sehingga seluruh aktivitas belajar mengajar dapat kembali normal. Dukungan dari seluruh masyarakat sangat diharapkan dalam menghadapi bencana ini, agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat. Normalisasi kegiatan sekolah menjadi kunci untuk memastikan pendidikan tidak terhambat terlalu lama.
Meskipun menghadapi tantangan besar, Disdikbud Kalsel berkomitmen untuk memastikan siswa tetap mendapatkan hak pendidikan mereka. Penerapan PJJ dan rencana perbaikan jangka panjang adalah bukti keseriusan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi darurat. Hal ini juga mencakup pemberian relaksasi kepada sekolah, guru, dan peserta didik, termasuk dalam hal absensi.
Sumber: AntaraNews