Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengumumkan bahwa sebanyak 50 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMP terdampak banjir yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini mendorong penerapan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk memastikan keselamatan dan kesehatan para peserta didik. Kebijakan ini diambil menyusul genangan air yang signifikan di berbagai fasilitas pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama, menegaskan bahwa puluhan sekolah negeri yang terdampak banjir diberikan kelonggaran untuk melaksanakan PJJ. Langkah ini merupakan respons cepat pemerintah kota terhadap situasi darurat banjir yang mengganggu aktivitas belajar mengajar. Fokus utama adalah meminimalkan dampak negatif banjir terhadap pendidikan.
Banjir yang terjadi di Banjarmasin disebabkan oleh kombinasi air pasang laut (rob) yang tinggi dan air kiriman dari hulu sungai akibat intensitas hujan deras. Sejak 1 Januari 2026, beberapa daerah di Kota Banjarmasin telah mengalami banjir rob, dengan ketinggian air pasang mencapai sekitar 3,1 meter di atas permukaan laut. Pemerintah kota telah mengeluarkan peringatan waspada terkait kondisi ini.
Advertisement
Advertisement
Dampak Banjir pada Fasilitas Pendidikan dan Kebijakan PJJ
Sebanyak 50 sekolah yang tercatat terdampak banjir merupakan sekolah negeri di bawah naungan Pemerintah Kota Banjarmasin. Rinciannya meliputi 5 TK/PAUD, 26 SD, dan 19 SMP yang tersebar di berbagai wilayah kota. Genangan banjir di sekolah-sekolah ini bervariasi, mulai dari ketinggian sedang hingga cukup tinggi yang bahkan sudah memasuki ruangan kelas, serta ada juga genangan yang lambat surut.
Ryan Utama menjelaskan bahwa sekolah-sekolah swasta dan tingkat SMA juga kemungkinan besar terdampak, namun kebijakan untuk mereka berada di bawah kewenangan masing-masing lembaga atau Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Fokus Disdik Banjarmasin saat ini adalah penanganan Sekolah Terdampak Banjir Banjarmasin yang berada di bawah yurisdiksi pemerintah kota. Dua wilayah yang paling banyak mengalami genangan banjir adalah Kecamatan Banjarmasin Timur dan Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi solusi strategis untuk menjaga keberlangsungan pendidikan tanpa mengorbankan keamanan siswa. "Untuk puluhan sekolah yang terdampak banjir ini kita beri kebijakan boleh melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ)," ujar Ryan Utama. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas bagi sekolah dan siswa dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Advertisement
Advertisement
Prioritas Keselamatan Siswa dan Apresiasi DPRD
Ketua Komisi IV DPRD Kota Banjarmasin, Neli Listriani, memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Kota Banjarmasin yang menetapkan PJJ bagi Sekolah Terdampak Banjir Banjarmasin. Menurutnya, kebijakan ini sangat tepat sebagai upaya melindungi keselamatan dan kesehatan peserta didik. Kondisi banjir berpotensi menimbulkan berbagai risiko, termasuk penyakit kulit yang rentan dialami anak-anak.
Neli menekankan pentingnya menjadikan keselamatan dan kenyamanan peserta didik sebagai prioritas utama. “Keselamatan dan kenyamanan peserta didik harus menjadi prioritas. Dengan pembelajaran jarak jauh, anak-anak tidak dipaksakan berangkat ke sekolah dalam kondisi yang berisiko,” ungkap Neli. Hal ini menunjukkan dukungan penuh dari legislatif terhadap keputusan pemerintah kota.
Risiko kesehatan yang mungkin timbul akibat genangan air, seperti infeksi kulit atau penyakit lain yang berhubungan dengan sanitasi buruk, menjadi pertimbangan utama. Dengan PJJ, siswa dapat belajar dari rumah dalam lingkungan yang lebih aman dan terkontrol. Kebijakan ini juga membantu mengurangi potensi kecelakaan atau insiden lain yang bisa terjadi saat siswa harus melintasi area banjir untuk mencapai sekolah.
Advertisement
Advertisement
Kondisi Banjir dan Antisipasi Pemerintah Kota
Banjir rob yang melanda sebagian Kota Banjarmasin telah berlangsung sejak awal Januari 2026, dengan puncak air pasang yang melebihi ambang batas normal. Fenomena ini diperparah oleh air kiriman dari hulu sungai akibat curah hujan yang tinggi. Kombinasi faktor alam ini menyebabkan genangan air yang meluas dan berdampak pada infrastruktur kota, termasuk fasilitas pendidikan.
Pemerintah Kota Banjarmasin telah mengeluarkan peringatan waspada terkait air pasang rob dan air kiriman ini. Meskipun demikian, perkiraan menunjukkan bahwa air pasang mulai turun setelah tanggal 10 Januari 2026. Antisipasi ini memungkinkan pemerintah dan masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi dampak lanjutan dan memulai proses pemulihan setelah banjir surut.
Langkah-langkah mitigasi dan respons cepat dari Dinas Pendidikan serta pemerintah kota menunjukkan keseriusan dalam menangani krisis ini. Koordinasi antarlembaga juga penting untuk memastikan bantuan dan dukungan dapat disalurkan secara efektif kepada masyarakat dan sekolah yang membutuhkan. Penanganan Sekolah Terdampak Banjir Banjarmasin menjadi bagian integral dari upaya penanggulangan bencana di kota ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews