Banjir Rendam 10 Desa di Sirenja Donggala, Ratusan Rumah Terdampak
Banjir bandang melanda 10 desa di Kecamatan Sirenja, Donggala, Sulawesi Tengah, merendam ratusan rumah warga akibat hujan deras. BPBD setempat bergerak cepat tangani dampak Banjir Sirenja Donggala.
Banjir bandang melanda wilayah Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat petang, 3 April 2026, setelah hujan deras mengguyur daerah tersebut. Kejadian ini menyebabkan meluapnya sungai-sungai dan merendam ratusan rumah warga di sepuluh desa yang tersebar di kecamatan tersebut. Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengonfirmasi dampak signifikan dari bencana alam ini.
Dampak Banjir Sirenja Donggala terasa parah di beberapa desa, dengan Desa Balentuma mencatat 177 rumah terendam dan Desa Tompe sekitar 150 rumah terdampak. Selain itu, fasilitas umum seperti SDN 3 Lende Tovea dan kantor desa setempat juga tidak luput dari genangan air. Meskipun kerugian materiil diperkirakan cukup besar, tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden ini, menjadi fokus utama dalam upaya penanganan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Donggala segera turun ke lokasi untuk melakukan asesmen. Koordinasi intensif dengan aparat desa setempat juga dilakukan guna mempercepat penanganan darurat dan pendataan warga terdampak. Upaya pemulihan dan pencegahan jangka panjang kini menjadi prioritas utama.
Detail Dampak Banjir di Sirenja
Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada Jumat petang menjadi pemicu utama meluapnya sungai di Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Akibatnya, genangan air dengan cepat merendam permukiman warga di sepuluh desa. Beberapa desa yang terdampak cukup parah antara lain Desa Balentuma dengan 177 unit rumah terendam, Desa Tompe sekitar 150 rumah, dan Desa Dampal sebanyak 30 rumah warga.
Selain itu, Desa Tanjung Padang melaporkan sekitar 40 unit rumah terendam, sementara Desa Lompio mencatat 60 rumah terdampak. Di Desa Tondo, sekitar 30 rumah juga terendam banjir. Kondisi serupa terjadi di Desa Lende Tovea, di mana sekitar 35 rumah warga terendam, ditambah dengan genangan di fasilitas umum seperti SDN 3 Lende Tovea dan kantor desa setempat.
Beberapa desa lain seperti Desa Jono Oge, Desa Lende, dan Desa Sipi masih dalam tahap pendataan oleh pihak terkait untuk mengetahui jumlah pasti rumah yang terdampak. Proses pendataan juga sedang berlangsung untuk menghitung jumlah warga yang mengungsi akibat Banjir Sirenja Donggala ini. Meskipun demikian, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, meskipun kerugian materiil diperkirakan besar.
Respons Cepat Penanganan Bencana
Menanggapi bencana Banjir Sirenja Donggala, Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) dari BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Donggala segera diterjunkan ke lokasi. Mereka bertugas melakukan asesmen awal untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan dan kebutuhan mendesak di lapangan. Koordinasi erat juga dijalin dengan aparat desa di wilayah terdampak.
Langkah awal penanganan meliputi pendataan kerusakan infrastruktur dan permukiman warga, serta pemantauan kondisi kesehatan dan keselamatan warga. Selain itu, koordinasi lintas instansi dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan efektif. Aparat setempat turut dilibatkan aktif dalam upaya penanganan dan pengamanan wilayah guna menjaga ketertiban.
BPBD terus memantau situasi di lokasi, yang dilaporkan mulai membaik seiring dengan berhentinya hujan dan surutnya genangan air di sebagian besar wilayah. Meskipun demikian, warga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi. Pemantauan dan koordinasi berkelanjutan menjadi kunci dalam fase pemulihan ini.
Upaya Pemulihan dan Pencegahan
Dalam penanganan lanjutan pasca-Banjir Sirenja Donggala, BPBD telah mengidentifikasi beberapa kebutuhan mendesak untuk mempercepat proses pemulihan. Salah satu prioritas utama adalah pengerahan alat berat. Alat berat ini diperlukan untuk membantu pembersihan material sisa banjir yang menumpuk serta mempercepat proses normalisasi sungai.
Normalisasi sungai menjadi langkah krusial untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang, mengingat meluapnya sungai adalah penyebab utama banjir kali ini. Selain itu, BPBD juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat desa untuk memastikan seluruh dampak bencana dapat ditangani secara komprehensif. Pendataan lanjutan masih terus dilakukan untuk memastikan tidak ada warga atau area yang terlewat dari bantuan.
Meskipun kondisi mulai kondusif, kewaspadaan tetap menjadi hal penting bagi masyarakat di Sirenja. Edukasi mengenai mitigasi bencana dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem terus digalakkan. Upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat membangun ketahanan bencana yang lebih baik di wilayah Donggala.
Sumber: AntaraNews