Ahli Forensik Ungkap Kematian Diplomat Kemlu Arya Daru dengan Wajah Terbungkus Lakban Bukan Metode Baru
Hasil riset dilakukan Apsifor seseorang meninggal dengan wajah dilakban pernah terjadi di Indonesia dan di luar negeri.
Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) mengungkapkan kematian Arya Daru Pangayunan (39), ditemukan dengan wajah terlilit lakban bukan metode baru. Arya Daru diketahui ditemukan meninggal dunia dengan wajah dililit lakban di indekos kama 105 kawasan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7).
Menurut perwakilan Apsifor Himpsi, Nathanael EJ Sumampouw, hasil riset dilakukan Apsifor seseorang meninggal dengan wajah dilakban pernah terjadi di Indonesia dan di luar negeri.
"Berkaitan dengan katakanlah metode ini, berdasarkan hasil riset kami, bahwa metode ini bukan lah sesuatu metode yang baru," kata Nathanael Jakarta, Rabu (30/7).
Nathanael menjelaskan, seseorang yang nekat mengakhiri hidupnya itu tidak terjadi begitu saja. Melainkan ada beberapa faktor seperti kesehatan mental yang negatif dan kemudian sangat intens terus berkepanjangan.
"Ini bukan terjadi secara instan, artinya di sini kita perlu melihat bagaimana pada individu ditemukan adanya suatu riwayat. Adanya riwayat yang kemudian berkaitan dengan situasi, berkaitan dengan faktor dalam diri dia atau kepribadian, lingkungan, masalah, situasi hidup dan sebagainya," kata dia.
Temuan Psikolog Forensik
Kemudian pada akhirnya seseorang disebutnya memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Hal itu lah yang kemudian perlu dilakukan identifikasi.
"Kemudian, kami menemukan ada riwayat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang kemudian bisa dikatakan intens dan cukup berkepanjangan seperti itu. Dan berkaitan juga dengan prilaku yang teramati di situasi terakhir dari kehidupannya," ujar dia.
Menurutnya, yang paling mengetahui mengenai bagaimana keadaan emosinya, suasana hatinya orang tersebut adalah dirinya sendiri.
"Dengan kemudian bagaimana persepsi kita tentang ingin mengenal kita dan sebagainya tentu di beberapa kasus pada individu individu kita melihat bahwa diakhiri hidupannya pun dia masih tetap berinteraksi," sebutnya.
"Meskipun relatif terbatas dibandingkan, ketika dia dalam episode atau dalam kondisi yang positif," pungkasnya.