214 Siswa Keracunan Makanan Bergizi Gratis di Bogor, BGN Nonaktifkan Dapur dan Lakukan Evaluasi
Kepala BGN Dadan Hindayana memastikan, pihaknya kini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.
Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor terus menjadi sorotan. Setelah 214 siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan, Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan menonaktifkan sementara dapur MBG yang diduga menjadi sumber makanan tercemar.
Kepala BGN Dadan Hindayana memastikan, pihaknya kini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.
"BGN melakukan evaluasi mendasar. Sementara (dapur MBG di Bogor) non aktif," kata Dadan kepada Liputan6.com, Selasa (13/5).
Ditemukan Bakteri E. Coli dan Salmonella
Hasil uji laboratorium dari Labkesda Kota Bogor mengungkapkan, makanan yang dikonsumsi siswa terkontaminasi bakteri E. coli dan Salmonella Typhosa.
"Tadi pagi pemeriksaan sampel dari Labkesda Kota Bogor keluar. Hasilnya ada kandungan bakteri E Coli dari sampel telur ceplok saus barbeque. Untuk bakteri Salmonella ada di tumis toge dan tahu," ujar Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Senin (12/5).
Selain makanan, sampel lain seperti air minum dan muntahan siswa masih dalam proses uji laboratorium. Dedie menyebutkan bahwa distribusi makanan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bosowa Bina Insani diduga menjadi sumber utama kontaminasi.
"Untuk pemeriksaan sampel lainnya seperti air minum dan muntahan dari tubuh siswa, hasilnya baru keluar sore ini," ungkap Dedie.
Ia juga meminta agar BGN memperketat SOP dan pengawasan di seluruh dapur MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Jangan kemudian dianggap sepele. Ini betul-betul sesuatu kejadian serius, karena menyangkut anak-anak," tegas Dedie.
Kondisi Korban Berangsur Membaik
Hingga saat ini, jumlah korban mencapai 213 siswa, dengan 12 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Gejala yang dilaporkan meliputi mual, lemas, dan pusing.
"Tapi kondisi pasien berangsur membaik. Memang mereka masih mengeluh lemas, mual, dan pusing," lanjut Dedie.