Cegah Keracunan, SPPG Dilarang Masak Mi untuk Menu MBG Tanpa Juru Masak Andal
Imbauan itu disampaikan Badan Gizi Nasional menyusul seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan surat edaran kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak memasak menu mi tanpa juru masak andal untuk mencegah keracunan pangan.
Surat edaran tersebut disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang usai mengunjungi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta Timur pada Minggu (10/5) yang menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan pada Jumat (8/5) malam.
"Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah," kata Nanik dalam Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn yang dikutip dari Jakarta, Selasa (12/5).
Siswa Terkena Gangguan Pencernaan
Nanik juga menjelaskan pada hari Jumat (8/5) siswa terkena gangguan pencernaan setelah menyantap bakmie Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan buah semangka.
"Minggu malam saya sidak ke dapur yang mengolah MBG dan menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan di Jakarta Timur, dimana 33 diantaranya sempat dirawat, namun hari Senin (11/5) kemarin sudah pulang semua," ucap Nanik.
10 KLB Selama Program MBG
Dia menjelaskan di Jakarta selama Program MBG berjalan 1,5 tahun telah terjadi 10 Kejadian Luar Biasa (KLB) gangguan pencernaan, tujuh diantaranya disebabkan menu mi.
"Agak kaget waktu dikabari menu mi lagi yang dipakai, karena sebulan sebelumnya di Jakarta Timur juga menu spaghetti menjadi penyebab beberapa anak gangguan perut, bahkan sempat ada yang dirawat di rumah sakit yang sama," ujar dia.
Nanik mengemukakan menu mi basah atau mi kuning segar memang sangat mudah basi karena kadar air yang tinggi, menjadikannya tempat ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme.