Keracunan MBG di SMA 2 Kudus, Tim Medis Lakukan Pemeriksaan
Fakta menarik muncul terkait kasus keracunan ini. SPPG, yang kini menjadi mitra sekolah, baru saja bergabung setelah anggota DPRD mengunjungi pihak sekolah.
Kondisi para siswa di SMA 2 Kudus yang sebelumnya dirawat di beberapa rumah sakit akibat dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menunjukkan perbaikan. Sebagian dari mereka telah diizinkan untuk pulang ke rumah.
"Pada 29 Januari 2026, tercatat 47 siswa yang menjalani perawatan, tetapi saat ini jumlahnya berkurang menjadi 21 anak," ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto, di Kudus. Pernyataan ini dikutip dari Antara pada Minggu, 1 Februari 2026.
Awalnya, total siswa SMA 2 Negeri Kudus yang memerlukan perawatan medis mencapai 131 orang, namun beberapa di antaranya harus dirawat inap setelah mengalami gejala seperti mual, muntah, dan sakit kepala yang parah setelah menikmati menu MBG.
Mereka kemudian dirawat di berbagai rumah sakit, termasuk RSUD Loekmono Hadi Kudus, RS Mardi Rahayu, RS Kartika, RS Kumala Siwi, RS Islam, RS Aisyiyah, dan RS Sarkies Aisyiyah. Saat ini, 31 siswa masih dirawat inap di beberapa rumah sakit, termasuk RSUD dr Loekmono Hadi, RSI, RS Mardi Rahayu, RS Sarkies, RS Aisyiyah, RS Kumala Siwi, RS Kartika Husada, dan RS Nurussyifa.
Ketika ratusan siswa diduga mengalami keracunan pada Kamis, 29 Januari, Pemkab Kudus bersama TNI/Polri segera mengambil tindakan cepat dengan mengerahkan semua armada ambulans untuk membantu pengiriman siswa ke rumah sakit terdekat. Langkah ini diambil untuk memastikan penanganan yang cepat dan tepat bagi mereka yang membutuhkan perawatan medis.
Sejumlah Ambulans Beroperasi
Pada hari Kamis, 29 Januari 2026, terlihat sejumlah ambulans beroperasi di halaman sekolah setempat. Belasan unit ambulans tersebut bolak-balik antara sekolah dan rumah sakit untuk merujuk siswa-siswa yang mengalami keracunan. Kejadian ini tidak hanya membuat tenaga medis dan kesehatan bekerja keras, tetapi juga menimbulkan kebingungan di kalangan orang tua siswa yang bersekolah di SMA tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo, mengungkapkan bahwa gejala gangguan kesehatan sebenarnya sudah mulai muncul sebelum para siswa tiba di sekolah.
Menurut Mustiko, beberapa siswa sudah mengeluhkan sakit kepala dan diare sejak malam hari pada Rabu, 28 Januari 2026. Meskipun demikian, mereka tetap pergi ke sekolah seperti biasa.
"Keluhan awal (siswa SMA 2 Kudus) sudah dirasakan saat mereka berada di rumah," jelas Mustiko saat ditemui di SMA 2 Kudus. Ia juga menyebutkan bahwa dugaan sementara mengenai penyebab gangguan kesehatan massal ini mengarah pada makanan MBG yang mereka konsumsi sehari sebelumnya, karena efeknya baru dirasakan keesokan harinya. Kondisi kesehatan siswa semakin memburuk ketika mereka berada di sekolah, dengan banyak yang mengalami mual, muntah, hingga diare berat.
Lebih menyedihkan lagi, tenaga kesehatan dan guru di sekolah menemukan dua siswa yang sempat pingsan dan segera dievakuasi ke rumah sakit. Proses evakuasi masih berlangsung hingga pukul 14.00 WIB hari ini. Pihak Dinas Kesehatan setempat melaporkan bahwa jumlah siswa yang memerlukan perawatan terus meningkat dan telah mencapai 70 orang.
Berpindah ke SPPG Dipaksakan
Dari informasi yang dihimpun Liputan6.com, SMA 2 Kudus telah menjalin kerja sama dengan SPPG Yayasan Srikandi Glantengan. Selama beberapa bulan menerima distribusi MBG dari SPPG tersebut, tidak ada keluhan yang muncul dari pelajar maupun guru terkait kualitas menu yang disediakan.
"Selama beberapa bulan menerima MBG dari SPPG Glantengan baik-baik saja. Dan siswa pun merasa puas dengan kualitas dan layanan SPPG Glantengan," ungkap salah satu pegawai SMA 2 Kudus yang enggan disebutkan namanya, pada Jumat (30/1).
Namun, sejak 8 Desember 2025, SMA 2 Kudus diduga mengalami tekanan untuk beralih ke SPPG baru, yaitu SPPG Purwosari. Dapur gizi SPPG Purwosari berlokasi di area pabrik pengolahan kapas milik PT Perkebunan Nusantara IX. Dalam proses perpindahan dari SPPG Yayasan Srikandi Glantengan ke SPPG Purwosari, beredar rumor adanya 'tekanan' dari beberapa pihak. Pegawai SMA tersebut mengungkapkan, sejak awal mereka merasa ragu terhadap pelayanan di SPPG Purwosari.
Dia masih ingat dengan jelas, saat masa libur siswa setelah ujian semester, pihak sekolah didatangi oleh seorang anggota DPRD Kudus bersama aparat. Mereka menemui kepala sekolah dan sejumlah guru untuk meminta agar sekolah beralih kerja sama dengan SPPG Purwosari. Namun, pegawai tersebut tidak menyebutkan siapa anggota DPRD yang datang ke sekolah pada waktu itu.
"Anggota dewan itu tampak arogan dan mengancam pihak sekolah jika tidak mau beralih mendapatkan distribusi MBG di SPPG Purwosari," jelasnya kepada Liputan6.com.
Untuk menghindari situasi yang lebih buruk, pihak guru SMA 2 Kudus akhirnya setuju untuk berpindah ke SPPG Purwosari.
"Bahkan anggota dewan itu sempat menekan kepala sekolah dengan ancaman bahwa jika tidak mau beralih ke SPPG Purwosari, akan dimutasi ke kabupaten lain," ucapnya sambil meminta namanya dirahasiakan. Akhirnya, sejak 8 Desember 2025, SPPG Yayasan Srikandi Glantengan resmi mengakhiri kontrak kerja sama distribusi MBG dengan sekolah tersebut.