63 Siswa Keracunan MBG di Banjar: Polres Siapkan Posko, Sampel Makanan Diuji Laboratorium
Puluhan siswa di Kabupaten Banjar dilarikan ke rumah sakit usai diduga mengalami keracunan MBG. Polres Banjar siapkan posko khusus dan selidiki penyebab insiden ini. Apa hasil uji lab makanan?
Puluhan siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, harus dilarikan ke rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan massal. Insiden ini terjadi pada Kamis, 09/10, dan menimpa siswa dari MI, MTs, serta SMA IT Assalam di Kelurahan Pesayangan Martapura, serta dua sekolah di Desa Tungkaran. Mereka diduga keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para korban menunjukkan gejala seperti sakit perut, muntah-muntah, hingga kondisi tubuh yang lemas, sehingga memerlukan penanganan medis segera. Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura menjadi pusat penanganan utama bagi para siswa yang terdampak. Pihak berwenang bergerak cepat untuk menangani situasi darurat ini dan memastikan keselamatan para siswa.
Menanggapi kejadian ini, Polres Banjar bersama Kodim 1006/Banjar dan Pemerintah Kabupaten Banjar segera mengambil langkah-langkah penanganan. Posko khusus didirikan, dan investigasi mendalam sedang dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti keracunan tersebut. Penanganan medis dan penyelidikan ini menjadi prioritas utama bagi seluruh pihak terkait.
Penanganan Cepat dan Posko Khusus Korban Keracunan
Polres Banjar, di bawah pimpinan AKBP Fadli, telah menyiapkan posko khusus di depan ruang IGD RS Ratu Zalecha Martapura untuk memfasilitasi penanganan korban keracunan MBG. "Para tenaga medis seperti dokter dan perawat sudah siap untuk menangani korban yang datang ke rumah sakit dan langsung ditangani petugas IGD," ucap Kapolres Banjar tersebut. Kesiapan ini bertujuan untuk memberikan respons cepat terhadap setiap siswa yang membutuhkan pertolongan.
Selain itu, Polres Banjar juga meminta puskesmas terdekat untuk siaga dan menyiapkan mobil ambulans guna penanganan awal serta evakuasi ke rumah sakit. Koordinasi erat juga terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Banjar, yang telah menetapkan RS Ratu Zalecha sebagai pusat pelayanan utama bagi korban MBG, didukung oleh rumah sakit lain dan dua puskesmas sebagai rujukan.
Komandan Kodim 1006/Banjar Letkol Inf Bambang Prasetyo Prabujaya menegaskan bahwa Pemkab Banjar akan membebaskan seluruh biaya perawatan siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit. "Kami juga sudah berkoordinasi dengan Pemkab agar membebaskan seluruh biaya perawatan siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit disamping penanganan maksimal yang diberikan," tegas Dandim. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban.
Investigasi Mendalam dan Uji Laboratorium Sampel Makanan
Untuk mengungkap penyebab pasti keracunan, Polres Banjar sedang melakukan investigasi menyeluruh. "Kasus dugaan keracunan MBG sedang kami tangani dan beberapa sampel makanan dan muntah siswa, kami lakukan uji laboratorium," terang AKBP Fadli. Sampel makanan dan bekas muntah siswa yang dirawat di rumah sakit telah dibawa ke laboratorium di Jakarta atau Surabaya untuk diuji.
Dapur MBG yang menyediakan menu bagi siswa juga telah dihentikan operasionalnya hingga pemeriksaan lebih lanjut selesai dilakukan. Tindakan ini diambil untuk mencegah potensi insiden serupa dan memastikan keamanan pangan. Pihak berwenang berupaya keras untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi dan mengambil tindakan yang diperlukan.
Menu makanan yang disajikan dan diduga menjadi penyebab keracunan meliputi nasi kuning, ayam suwir, buah, sayuran, dan sambal goreng tempe. Sampel dari menu-menu ini menjadi fokus utama dalam proses uji laboratorium. Hasil uji lab akan menjadi kunci untuk menentukan penyebab pasti keracunan massal yang menimpa puluhan siswa ini.
Kondisi Korban dan Upaya Pemulihan
Hingga pukul 19.30 WITA, jumlah siswa yang dilarikan ke RS Ratu Zalecha Martapura mencapai 63 orang. "Jumlah korban yang dilarikan ke RS Ratu Zalecha hingga pukul 19.30 WITA mencapai 63 orang namun jumlahnya diperkirakan bertambah karena ada kemungkinan korban lain dibawa ke rumah sakit," ujar Dandim Bambang.
Dari total 63 orang yang sempat dirawat dan mendapatkan penanganan medis, sebanyak 22 orang diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Sementara itu, lima orang dirujuk ke fasilitas kesehatan lain, dan sisanya masih menjalani perawatan intensif. Gejala yang dialami siswa meliputi sakit perut hingga muntah-muntah, dengan sebagian besar dalam kondisi lemas.
Meskipun kondisi umum siswa yang dirawat membaik, pihak berwenang tetap waspada. "Secara umum, kondisi siswa yang dirawat membaik tetapi jumlah yang dibawa ke rumah sakit diperkirakan bertambah karena waktu krusial atau titik kritis 12 jam sehingga mungkin ada korban lainnya," ucap Dandim. Pemantauan ketat terus dilakukan untuk memastikan tidak ada korban susulan dan semua siswa mendapatkan perawatan terbaik.
Sumber: AntaraNews