Geger Keracunan MBG di Berbagai Daerah: Ini Jumlah Siswa Tumbang, Gejala dan Menu Makanannya

Terbanyak, terjadi di wilayah Jawa Barat dan salah satunya di Cipongkor, Bandung Barat mencapai 840 orang.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Geger Keracunan MBG di Berbagai Daerah: Ini Jumlah Siswa Tumbang, Gejala dan Menu Makanannya
Geger Keracunan MBG di Berbagai Daerah: Ini Jumlah Siswa Tumbang, Gejala dan Menu Makanannya (Merdeka.com)

Siswa yang menjadi korban keracunan Makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) terus terjadi di sejumlah daerah. Terbanyak, terjadi di wilayah Jawa Barat dan salah satunya di Cipongkor, Bandung Barat mencapai 840 orang sejak 22-24 September 2025.

Berbagai macam gejala muncul yang dialami siswa di wilayah tersebut, seperti mengalami mual, muntah, pusing, diare, sakit kepala, lemas, sesak napas, demam, sakit perut hingga mengalami Kejang.

Mereka pun kemudian dibawa ke sejumlah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), RSIA Anugrah, Klinik Permata Hati hingga Posko Puskesmas, Posko Kecamatan.

Kemudian, terkait dengan menu makan yang dimakan siswa yang berasal dari SPPG di Kampung Pasirsaji, Kecamatan Cipongkor yaitu ayam goreng tepung, tahu kecap, juga buah-buahan seperti stroberi dan melon.

"Kalau makanannya enak, tapi tahu gorengnya agak berair. Terus stroberinya agak berlumut," kata salah satu korban dari SMK Karya Perjuangan, Aisah (16) kepada wartawan di Posko Kecamatan Cipongkor, Rabu (24/9).

Tak hanya terjadi di daerah Cipongkor, Bandung Barat, Jawa Barat saja, merdeka.com mencoba merangkum ada beberapa daerah yang mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG sejak Agustus 2025.

Suasana Panik 500 Siswa Kembali Tumbang Imbas Keracunan MBG di Cipongkor
Suasana Panik 500 Siswa Kembali Tumbang Imbas Keracunan MBG di Cipongkor merdeka.com

Ternyata kejadian siswa keracunan MBG juga terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu (24/9). Disana, sebanyak 11 orang siswa mengalami gejala pusing, mual, muntah dan diare usai menyantap MBG.

Lalu, untuk menu makanan yang bersumber dari MBG yang diketahui berasal dari Dapur MBG Kayu Putih dan dibagikan ke siswa SDN Liliba itu yakni sayur, telur, tahu hingga susu itu tampak sudah berlendir.

"Ketika minum susu, terasa ada kuning-kuning dan seperti ada ulat, sehingga kami langsung muntah," ujar salah satu siswa Ranti Selan saat ditemui di rumah sakit.

Survei Poltracking Indonesia: 69,8% Publik Setuju Program MBG Prabowo--Gibran
Pekerja menyiapkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Dapur Makan Bergizi Gratis Kebayunan, Tapos, Depok, Jawa Barat, Senin (6/1/2025). (merdeka.com/Arie Basuki) © 2025 Liputan6.com

Keracunan usai menyantap MBG ini juga terjadi atau dialami oleh empat siswa di SMPN 1 Jonggol. Mereka mengalami gejala mual, muntah dan pusing.

Untuk menu pada hari kejadian yakni Selasa (23/9) itu terdiri dari nasi, telur balado dan capcay. Sedangkan, pada Rabu siang menu MBG berupa nasi dan lauk ikan berbumbu.

Meski begitu, dalam kejadian di wilayah itu masih belum bisa dipastikan apakah karena MBG atau bukan. "Keputusannya, setelah investigasi belum bisa dipastikan itu keracunan. Kita menunggu hasil lab dan gejala-gejala yang muncul," ujar Camat Jonggol, Andri Rahmat.

Kejadian di Kalimantan Barat

Kemudian, keracunan MBG juga dialami 16 siswa dan seorang guru dari SDN 12 Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Kejadian ini terjadi usai menyantap menu MBG yang terdiri dari ikan hiu filet dengan saus tomat, serta oseng kol dan wortel dan ternyata terdeteksi mengeluarkan bau anyir dan lendir pada sayurannya.

"Baunya agak menyengat," ungkap Kepala Sekolah Dewi Hardina pada Selasa (23/9).

Tak lama setelah menyantap MBG, suasana di ruang kelas berubah menjadi panik, di mana anak-anak mulai mengeluh mual. Mereka kemudian berbondong-bondong menuju ruang UKS, lalu melanjutkan ke puskesmas dan IGD RSUD dokter Agoesdjam.

Kepala Regional MBG Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, mengumumkan bahwa dapur Mitra Mandiri 2 akan dinonaktifkan dan Kepala SPPG akan dirumahkan akibat insiden ini. "Menu itu jarang dikonsumsi siswa. Ada kelalaian," jelasnya.

Ratusan Siswa Keracunan MBG, Pemkab Bandung Barat Tetapkan Status Kejadian Luar Biasa
Korban Keracunan MBG di Cipongkor KBB (Foto: Robby/merdeka.com) © 2025 Liputan6.com

Kasus keracunan massal siswa usai menyantap makan bergizi gratis (MBG) yang disalurkan pemerintah mencuat di Sumatera Selatan (Sumsel). Peristiwa ini terjadi di empat daerah, yakni Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, Empat Lawang, dan Musi Banyuasin. Hingga kini penyebab pasti masih dalam penyelidikan.

Gubernur Sumsel Herman Deru menyoroti dugaan bahwa menu MBG tersebut tidak dimasak langsung di dapur resmi, melainkan dikerjakan vendor. Hal ini lantaran kasus keracunan hanya muncul di beberapa titik, padahal dapur resmi biasanya melayani distribusi untuk banyak sekolah.

"Pertanyaannya, kenapa keracunan hanya terjadi di satu titik, sementara dapurnya melayani beberapa sekolah? Apakah dapur ini izinnya satu, tetapi yang masak sebenarnya vendor," kata Herman, Rabu (24/9).

Keracunan Massal MBG di Garut

Ratusan siswa mulai tingkat SD, hingga dan SMA di Kadungora Kabupaten Garut Jawa Barat turut mengalami keracunan. Hal tersebut dialami para siswa diduga usai mengonsumsi paket MBG di sekolah pada Selasa (16/9) lalu yang didistribusikan oleh Yayasan Al Bayyinah 2 Garut di Desa Karangmulya.

Kapolres Garut AKBP Yugi Bayu Hendarto melalui Kasi Humas Ipda Adi Susilo mengatakan, menu dalam paket MBG tersebut antara lain adalah nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi.

Adi menyampaikan, para siswa merasakan sejumlah gejala seperti mual, muntah, hingga pusing usai menyantap makanan itu. Hingga Rabu (17/9), tercatat sebanyak 194 yang mengalami keracunan massal dan telah memperoleh penanganan medis.

Dari jumlah tersebut 19 siswa mesti menjalani perawatan intensif di Puskesmas. Adi menjelaskan, 19 siswa yang dirawat terdiri dari 12 siswa MA Maarif Cilageni, 3 siswa SMP Siti Aisyah, 1 siswa SMA Siti Aisyah, dan 3 siswa SDN 2 Mandalasari.

"Tercatat sebanyak 194 siswa terdampak, dengan rincian 177 siswa mengalami gejala ringan dan 19 siswa harus menjalani perawatan intensif di UPT Puskesmas Kadungora," kata Adi, Kamis (18/9).

Kejadian keracunan diduga akibat MBG juga tejadi di beberapa sekolah yang berada di wilayah Jawa Timur. Hal ini pertama terjadi di SD Negeri 1 Pasanggar, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, pada tanggal 16 September 2025.

Penyedia makanan tersebut adalah pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Al-Bukhori Murtajih. Dari ribuan paket nasi tersebut, hanya empat orang yang mengalami keracunan, yakni siswa di SDN 1 Pasanggar, Pamekasan," ujar Kapolres Pamekasan AKBP Hendra Eko Triyulianto.

Kasus keracunan makanan juga dilaporkan terjadi di TK Al-Falah, Tlanakan, Pamekasan. Dalam kasus ini sebanyak delapan orang terpaksa harus dirujuk ke RSU Kabupaten Pamekasan usai mengalami gejala keracunan.

Program MBG di Pamekasan juga diwarnai dengan temuan lain yang mengkhawatirkan, yaitu belatung dalam makanan, seperti yang terjadi di SMA Negeri 3 Pamekasan. Kasus ini sempat diunggah ke media sosial dan menjadi viral di kalangan warganet, menimbulkan perdebatan.

Hasil penyelidikan oleh pihak sekolah dan penyedia makanan menyimpulkan bahwa belatung yang ditemukan dalam makanan kemungkinan berasal dari buah jeruk yang luka. Kondisi buah yang rusak tersebut diduga menjadi pemicu munculnya ulat, bukan karena kontaminasi langsung dari proses masak.

Kasus Keracunan MBG di Sleman

Kasus dugaan keracunan MBG juga terjadi di SMP Negeri 3 Berbah, Kabupaten Sleman, DIY. Sebanyak 137 siswa di SMP Negeri 3 Sleman mengalami gejala keracunan makanan terjadi pada Rabu (27/8).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Khamidah Yuliati mengatakan, menu MBG yang dikonsumsi siswa ini adalah nasi kuning, telur dadar potong, abon, kering tempe, timun dan jeruk.

Kejadian itu juga sebelumnya sempat terjadi di SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati dan SMP Pamungkas Mlati pada 13 Agustus 2025, mereka yang terdampak hingga ada yang harus dirujuk ke rumah sakit terdekat.

Kasus keracunan setelah konsumsi MBG juga dialami siswa di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Kasus pertama keracunan ini dilaporkan pada Rabu (17/9), dan hingga Sabtu (20/9), tercatat sebanyak 335 pasien telah dirawat akibat gejala yang muncul.

Ratusan orang itu pun kemudian dibawa ke RSUD Tolikara Salakan yang juga turut mendapatkan bantuan tenaga medis spesialis dari RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, yang langsung diterjunkan ke lokasi kejadian.

Direktur RSUD Trikora, Feldy Deki, menjelaskan bahwa penanganan medis telah diberikan secara maksimal, meliputi pemberian obat dan tindakan sesuai gejala. "Mengenai kondisi tersebut, pihak rumah sakit telah memberikan penanganan maksimal dengan memberikan obat serta penanganan medis lainnya sesuai dengan gejala yang dialami masing-masing korban," kata Feldy Deki dalam keterangannya di Palu, Minggu.

Hingga Sabtu (20/9), data menunjukkan bahwa dari 335 pasien yang dirawat, mayoritas telah pulih. Sebanyak 301 pasien telah diizinkan pulang setelah kondisi mereka membaik. Namun, 34 pasien masih menjalani perawatan intensif karena mengalami gejala seperti sesak napas dan kram pada otot dada serta tangan, yang memerlukan pemantauan lebih lanjut oleh tim medis.

196 Siswa, guru, karyawan hingga keluarga siswa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah diduga mengalami keracunan, usai menyantap menu program MBG. Keracunan terjadi di Sekolah Dasar Negeri 4 Gemolong dan SMP Negeri 3 Gemolong.

Informasi dihimpun menyebutkan, sejumlah siswa dan guru dari SDN 4 Gemolong dan SMPN 3 Gemolong mengalami gejala mual, pusing, dan diare usai menyantap menu MBG yang didistribusikan oleh Dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong-1 pada 11 Agustus 2025.

Data sementara dari Puskesmas Gemolong mencatat setidaknya 196 orang diduga mengalami keracunan. Mereka terdiri dari siswa, guru, karyawan sekolah dan bahkan anggota keluarga yang ikut mengkonsumsi, mengalami gejala keracunan.

Kepala Puskesmas Gemolong, Agus Pranoto Budi mengatakan, data korban saat ini tidak hanya berasal dari dua sekolah tersebut, tetapi juga dari beberapa sekolah lainnya.

"Data sementara 196 orang yang mengalami gejala-gejala keracunan. Ada murid, guru, karyawan, atau keluarga yang memakan makanan yang dibawa pulang," kata Agus, Selasa (12/8).

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada September 2025, bahwa pada 1.379 SPPG ada sebanyak 413 yang memiliki SOP Keamanan Pangan dan 312 SPPG yang menjalankan SOP. Hal itu menjadi upaya penyelesaian masalah di setiap rangkaian peristiwa keracunan yang terjadi.

"Dari sini kan sudah kelihatan kalau mau mengatasi masalah ini, maka kemudian SOP-nya harus ada SOP Keamanan Pangan harus ada dan dijalankan. Pada sisi lain, Kemenkes memiliki Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi, SLHS, sebagai bukti tertulis untuk pemenuhan standar baku mutu dan persyaratan keamanan pangan olahan dan pangan siap saji," kata dia.

Singkatnya, lanjut Qodari, SPPG harus mempunyai SLHS dari Kemenkes sebagai upaya mitigasi dan pencegahan keracunan pada program MBG.

"Ya ini kan contoh bagaimana satu program itu nggak bisa berdiri sendiri, terlibat juga kementerian lembaga yang lain. Berdasarkan data Kemenkes lagi, dari 8.583 SPPG per 22 September ada 34 SPPG yang sudah memiliki SLHS, 8.549 SPPG existing belum memiliki SLHS," terangnya.

"Hasil koordinasi dan pengecekan yang datang oleh Kedeputian III KSP, bahwa dari sisi regulasi dan aturan telah diterbitkan oleh BGN dan dibantu oleh BPOM. PR-nya adalah aktivasi dan pengawasan kepatuhan," Qodari menandaskan.

Rekomendasi