196 Pelajar Diamankan Usai Demo DPR, KPAI: Banyak Tak Paham Tujuannya
Mereka mengaku hanya ikut-ikutan. Diajak oleh teman hingga alumni sekolah untuk melakukan aksi demo DPR.
Polisi mengamankan 351 orang buntut kericuhan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR Jakarta Pusat, Senin (25/8). Dari jumlah tersebut, 196 di antaranya adalah anak di bawah umur, termasuk pelajar.
Komisioner KPAI, Sylvana Maria, mengungkapkan sebagian besar anak-anak itu tidak memahami alasan mereka hadir di lokasi demonstrasi.
Mereka, kata Sylvana, mengaku hanya ikut-ikutan. Mirisnya, dari hasil percakapan singkat, para pelajar itu tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan di lokasi demo.
“Intinya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya ikut-ikutan,” jelas Sylvana.
Medsos Berperan Besar
Selain pengaruh ajakan teman hingga alumni sekolah, peran media sosial berperan dalam mendorong anak-anak ikut berunjuk rasa. Salah satu media sosial yang jadi rujukan untuk ikut aksi itu adalah TikTok.
“Anak-anak menyebut TikTok sebagai sumber informasi cepat yang memicu rasa ingin tahu, lalu mendorong mereka ikut aksi,” jelas Sylvana.
Mereka bahkan, lanjut dia, menggunakan uang pribadi untuk biaya transportasi. Di sisi lain, Ia mengakui banyak pelajar yang datang dari luar Jakarta, seperti Cikarang, Cibitung, hingga Cibinong.
Desakan ke Aparat
KPAI menilai keterlibatan anak dalam aksi ini bukan sekadar salah langkah, melainkan bentuk pelanggaran serius terhadap hak anak.
Sylvana mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas pola perekrutan dan menemukan aktor di balik ajakan masif tersebut.
“Kami berharap pihak kepolisian mengungkap pola ini secara tuntas dan menemukan akar masalahnya dari sisi penegakan hukum. Jangan sampai peristiwa ini terulang, karena telah merampas hari-hari terbaik sekaligus masa depan anak-anak,” pungkasnya.