Hamas Setuju Gencatan Senjata Tapi Israel Menolak, Utusan Trump Malah Bilang Sebaliknya
Kesepakatan tersebut mencakup gencatan senjata selama 70 hari, pembebasan 10 tawanan Israel yang masih hidup, dan penarikan sebagian militer Israel dari Gaza.
Hamas mengumumkan pada Senin (26/5) bahwa mereka setuju pada kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang didukung Amerika Serikat (AS). Namun utusan AS, Steve Witkoff, mengklaim sebaliknya bahwa Hamas menolak kesepakatan tersebut sementara Israel menyetujuinya.
Dilansir Quds News Network, kesepakatan tersebut mencakup gencatan senjata selama 70 hari, pembebasan 10 tawanan Israel yang masih hidup, dan penarikan sebagian militer Israel dari Jalur Gaza. Kesepakatan tersebut juga menyerukan pembebasan ratusan tahanan Palestina, termasuk mereka yang divonis hukuman seumur hidup.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada Al Jazeera, mereka setuju dan menerima proposal AS. Rencana tersebut didasari pada kerangka kerja Witkoff sendiri, yang berisi kesepakatan pasukan Israel meninggalkan rute-rute utama dan daerah-daerah berpenduduk. Daerah tersebut mencakup jalan Salah al-Din dan koridor Netzarim di Gaza tengah.
Namun stasiun televisi Channel 14 Israel melaporkan Israel menolak tawaran tersebut. Seorang sumber Israel mengatakan Hamas mengusulkan kesepakatan tersebut, dan bahkan dengan jaminan AS untuk mengakhiri perang. Namun Israel menolaknya.
Dalam situasi yang membingungkan, Steve Witkoff secara terbuka menentang Hamas, “Apa yang saya lihat dari Hamas sangat mengecewakan dan sama sekali tidak bisa diterima,” ujarnya kepada Axios.
Witkoff menegaskan Israel siap menerima kesepakatan tersebut yang mencakup pengembalian “setengah dari tawanan Israel yang masih hidup dan setengah dari yang tewas” serta akan mengarah pada perundingan untuk gencatan senjata permanen.
“Hamas harus menerimanya,” tambah Witkoff.
Kontradiksi ucapan Witkoff menyebabkan kejatuhan politik yang serius. Hamas mengatakan bahwa bola ada di tangan Israel, sedangkan Israel mengatakan Hamas tidak akan bekerja sama. Di sisi lain, Witkoff mengklaim Hamas harus disalahkan atas kebuntuan tersebut.
Dengan lebih dari 53.000 warga Palestina terbunuh sejak Oktober 2023, genosida di Gaza terus berlanjut. Sementara upaya diplomatik seperti terkubur di bawah lapisan penyangkalan dan narasi yang saling bertentangan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey