Trump Ancam Cabut Gencatan Senjata Jika Hamas Langgar Kesepakatan
Trump berjanji akan memberi lampu hijau ke Israel bila Hamas tidak melucuti senjata dan mematuhi kesepakatan.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya siap mempertimbangkan izin bagi Israel untuk melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza.
Ini dilakukan apabila kelompok Hamas gagal mematuhi perjanjian gencatan senjata yang disepakati akhir September lalu.
“Apa yang terjadi dengan Hamas — itu akan segera diselesaikan,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan CNN, Rabu (15/10).
Trump menegaskan bahwa dirinya sebelumnya telah menahan Israel untuk tidak melanjutkan operasi militer, namun akan memberi lampu hijau bila Hamas tidak melucuti senjata dan mematuhi kesepakatan.
“Israel akan kembali ke jalan-jalan [di Gaza] itu segera setelah saya mengatakannya. Jika Israel bisa masuk dan menghancurkan mereka, mereka akan melakukannya,” kata Trump.
“[Sebelumnya] saya harus menahan mereka,” tambahnya dikutip dari Antara.
Pembebasan Sandera
Trump menyebut bahwa pembebasan 20 sandera Israel yang masih hidup adalah hal “paling penting” dalam kesepakatan gencatan senjata tahap pertama.
Namun ia menegaskan, Hamas juga harus memenuhi komitmen untuk mengembalikan jasad sandera lain serta menyerahkan seluruh senjata mereka.
“Pembebasan sandera yang masih hidup adalah yang terpenting. Tapi Hamas harus menepati janji mereka untuk menyerahkan jasad yang tersisa dan melucuti senjata,” tegas Trump.
Hamas Serahkan Jasad Dua Sandera
Di sisi lain, Brigade Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan telah menyerahkan jenazah dua sandera Israel pada Rabu malam sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Israel.
“Kami telah mematuhi kesepakatan, menyerahkan semua sandera yang masih hidup dan jasad yang dapat kami jangkau,” kata Brigade Qassam dalam pernyataan resmi.
Pemindahan jasad dilakukan pukul 22.00 waktu setempat (Kamis, 02.00 WIB), dengan pengawasan perantara internasional. Hamas menambahkan, evakuasi jasad lain masih membutuhkan upaya signifikan dan peralatan khusus.
“Kami sedang bekerja keras untuk menyelesaikan kasus ini,” ujar juru bicara Hamas.
Tahapan Gencatan Senjata
Rencana gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang dimulai 29 September 2025, mencakup beberapa tahap:
Tahap pertama: pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.
Tahap kedua: pembentukan pemerintahan baru di Gaza tanpa keterlibatan Hamas, penempatan pasukan multinasional, dan perlucutan senjata Hamas secara penuh.
Berdasarkan kesepakatan, Hamas wajib membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup serta menyerahkan jenazah delapan lainnya, dengan imbalan pembebasan sekitar 2.000 tahanan Palestina oleh Israel.
Sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 67.900 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
PBB melaporkan lebih dari 70 persen infrastruktur Gaza hancur, membuat wilayah tersebut nyaris tidak layak huni dan bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan.