Trump Beri Netanyahu ‘Lampu Hijau’ untuk Ratakan Gaza, Batal dari Upaya Gencatan Senjata
Menurut media Axios, Gaza bukan lagi prioritas utama bagi Trump.
Pejabat Israel mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mundur dari upaya gencatan senjata di Gaza. Trump memberikan kebebasan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk bertindak sesuai keinginannya. Menurut Axios, Gaza bukanlah prioritas utama presiden AS tersebut.
Trump dikabarkan akan mengunjungi Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab pekan depan. Ia diduga tidak akan singgah di Israel. Pejabat AS dan Israel mengatakan genosida yang sedang berlangsung membuat kunjungan tersebut dapat berisiko secara politis.
“Tidak ada hal baik yang bisa diperoleh dari kunjungan ke Israel saat ini,” kata pejabat AS kepada Axios seperti dikutip dari Quds News Network, Selasa (6/5).
Israel Tetapkan Tenggat Waktu
Namun, Gaza tidak ada dalam agenda Trump. Pejabat Arab dan AS yang terlibat dalam perencanaan kunjungan tersebut mengatakan Trump lebih fokus pada kesepakatan bisnis dan hubungan bilateral.
“Kesan yang ditimbulkan dari kunjungan Trump sangat buruk di tengah situasi perang,” kata seorang pejabat Arab.
“Dia sempat menarik perhatian dengan mendorong gencatan senjata sebelum menjabat. Tetapi kini, situasinya justru memburuk.”
Di balik layar, para pemimpin Israel telah menetapkan tenggat waktu. Mereka mengatakan jika tidak ada gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan yang dicapai hingga 15 Mei, sebelum atau selama kunjungan Trump, maka Israel akan melancarkan invasi besar-besaran ke Gaza.
Menemui Jalan Buntu
Pada Minggu, Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana untuk menjajah kembali Gaza ‘tanpa batas waktu’ jika tidak ada kesepakatan yang dibuat. Militer Israel akan menghancurkan semua bangunan yang tersisa, dan mengusir paksa lebih dari 2 juta penduduk asli Palestina ke tempat yang disebut zionis sebagai ‘zona kemanusiaan’ di dekat Rafah.
Menurut pejabat Israel, warga Palestina akan diminta ‘secara sukarela’ meninggalkan Gaza di bawah visi Trump untuk daerah yang dijajah tersebut.
Sementara itu, pejabat Israel dan AS mengakui bahwa perundingan gencatan senjata menemui jalan buntu. Israel menginginkan kesepakatan parsial tanpa mengakhiri genosida. Sedangkan Hamas menginginkan genosida diakhiri sepenuhnya dan membebaskan semua tahanan Israel yang tersisa.
Pejabat zionis tersebut mengatakan rencana perang baru sebagai “Kereta Perang Gideon.” Rencana tersebut mencakup invasi dengan empat atau lima divisi dan penghancuran bangunan-bangunan.
Israel menyatakan berencana mengusir seluruh warga sipil ke Rafah. Penduduk Palestina yang memasuki zona kemanusiaan tersebut akan menjalani pemeriksaan dan pemindaian wajah. PBB dan sejumlah lembaga kemanusiaan menolak terlibat dalam rencana ini, dan menyebutnya sebagai taktik militer.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey