Tahap Pertama Pertukaran Tawanan Setelah Gencatan Senjata, Hamas Bebaskan Tujuh Sandera Israel
Bus-bus Palang Merah juga menuju Khan Younis, Gaza, untuk menjemput kelompok kedua sandera Israel.
Media Israel melaporkan tujuh sandera Israel yang dibebaskan oleh Hamas dalam tahap pertama dari rencana gencatan senjata Presiden AS Donald Trump di Jalur Gaza telah diserahkan kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan dilaporkan dalam kondisi baik.
Pagi sebelumnya, militer Israel menyatakan kendaraan ICRC telah tiba di lokasi yang disepakati di utara Jalur Gaza untuk menerima para sandera yang dibebaskan. Perkembangan ini terjadi setelah beberapa hari negosiasi intensif yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat.
Selain itu, bus-bus Palang Merah juga menuju Khan Younis, Gaza, untuk menjemput kelompok kedua sandera Israel.
Dilansir Almayadeen, Senin (13/10), militer Israel mengonfirmasi kesiapan mereka untuk menerima para sandera tambahan, dengan menyatakan bahwa lebih banyak sandera diperkirakan akan dipindahkan ke Palang Merah pada hari yang sama.
Menurut Channel 13, penyerahan tahanan dijadwalkan dimulai pukul 8 pagi di area Netzarim, diikuti dengan pemindahan berikutnya pukul 10 pagi di Khan Younis. Proses ini dilakukan di bawah pengawasan internasional.
Para tahanan Palestina bersiap untuk dibebaskan
Di pihak Palestina, bus-bus berangkat dari Gaza menuju perbatasan Karem Abu Salem untuk mempersiapkan penyambutan para tahanan Palestina yang dijadwalkan akan dibebaskan.
Menurut koresponden Al Mayadeen di Gaza, keluarga para tahanan belum menerima daftar resmi nama-nama yang akan dibebaskan atau apakah ada yang akan dideportasi. Sementara itu, Brigade al-Qassam merilis nama-nama sandera Israel yang masih hidup dan akan dibebaskan.
Media Israel melaporkan bus-bus yang membawa para tahanan Palestina telah tiba di Penjara Ofer pada pagi hari, dan sumber-sumber memastikan bahwa persiapan akhir telah selesai untuk pembebasan lebih dari 2.000 tahanan Palestina sebagai bagian dari tahap pertama perjanjian tersebut.
Shosh Bedrosian, juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa pemerintah mengharapkan semua 20 sandera yang masih hidup dibebaskan sekaligus dan diserahkan kepada Palang Merah secara bersamaan. Pada hari keempat gencatan senjata, Netanyahu menyebut kembalinya para sandera sebagai “peristiwa bersejarah” yang diwarnai dengan “kesedihan dan kebahagiaan.”
Pihak berwenang Israel juga mengakui bahwa jenazah beberapa sandera yang telah meninggal mungkin tidak dapat ditemukan. Dalam kasus seperti itu, badan internasional yang ditunjuk berdasarkan rencana gencatan senjata Trump akan membantu menemukan dan mengambil kembali jenazah tersebut.
Gencatan senjata di Gaza
Dalam wawancara dengan Channel 12 Israel, Trump menyebut perjanjian Gaza ini sebagai “pencapaian politik terbesarnya.” Gedung Putih mengonfirmasi bahwa mereka terus mengawasi pelaksanaan tahap pertama, yang mencakup:
- Gencatan senjata penuh
- Penarikan pasukan pendudukan Israel
- Pembebasan tahanan secara bertahap dari kedua belah pihak
Kesepakatan ini menandai titik balik besar dalam perang di Gaza, dengan perhatian dunia kini tertuju pada apakah semua tahap perjanjian akan berjalan lancar dalam beberapa hari mendatang.
Pada 9 Oktober, Khalil al-Hayya, kepala Hamas di Gaza sekaligus ketua perunding Palestina, mengumumkan bahwa kesepakatan telah dicapai untuk mengakhiri perang dan agresi terhadap rakyat Palestina setelah dua tahun perang brutal tanpa henti yang menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina.
Al-Hayya menjelaskan bahwa pihaknya menerima jaminan dari para mediator dan pemerintah AS, serta menegaskan bahwa semua pihak menyatakan perang telah benar-benar berakhir.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa perjanjian tersebut mencakup pembebasan 250 tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup, 1.700 tahanan dari Gaza yang ditangkap setelah 7 Oktober, serta pembebasan semua perempuan dan anak-anak.