Indonesia Kecam Keras Aksi Tentara Israel Pasang Spanduk Berisi Ayat Taurat di Rumah Sakit Indonesia di Gaza
Sejak Senin lalu di kanal Telegram Israel beredar foto spanduk itu terpasang di bekas reruntuhan rumah Sakit Indonesia di Gaza.
Indonesia mengecam keras dan memprotes pemasangan spanduk bertuliskan “Rising Lion” oleh pasukan Israel di atas reruntuhan Rumah Sakit Indonesia di Gaza.
Penggunaan simbol dan propaganda militer di atas reruntuhan rumah sakit yang telah dihancurkan, terlebih dengan mengaitkannya pada operasi militer tertentu, merupakan tindakan yang sangat provokatif dan tidak dapat dibenarkan.
Rumah Sakit Indonesia adalah fasilitas sipil yang didedikasikan sepenuhnya untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat Gaza, bukan tempat untuk propaganda militer atau pesan intimidatif. Tindakan tersebut merupakan penghinaan terhadap fasilitas kemanusiaan yang dibangun dari solidaritas rakyat Indonesia untuk membantu rakyat Palestina.
Indonesia menegaskan bahwa rumah sakit dan seluruh fasilitas medis harus dihormati dan dilindungi sesuai hukum humaniter internasional. Indonesia mendesak Israel untuk menghentikan segala tindakan yang melanggar perlindungan terhadap infrastruktur sipil serta memastikan akuntabilitas atas serangan terhadap fasilitas medis di Gaza.
Nama Sandi Perang
Gambar-gambar spanduk tersebut mulai beredar di kanal Telegram Israel pada Senin, dengan salah satu kanal menulis: “Batalyon 9208 dari Brigade Negev sedang bersiap untuk Hari Peringatan dan Hari Kemerdekaan di Rumah Sakit Indonesia, Jabalia”.
Dilansir Middle East Eye, Selasa (21/4), spanduk itu tampaknya merujuk pada sebuah ayat dari Taurat, yang juga menjadi inspirasi di balik nama sandi perang Israel terhadap Iran pada tahun 2025, yaitu “Rising Lion”.
Rumah Sakit Indonesia kini tidak lagi dapat melayani pasien akibat berulang kali menjadi sasaran serangan Israel selama perang di Gaza. Setelah pertama kali dikepung oleh pasukan Israel pada November 2023 dan dikuasai selama beberapa bulan, rumah sakit tersebut sempat dibuka kembali pada Juni 2024 sebagai satu-satunya fasilitas medis di Gaza utara yang melayani pasien, sebelum kembali diserbu pada 2025 hingga akhirnya ditutup.