AS Wanti-Wanti Israel! Tak Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza
Wakil Presiden AS, JD Vance, meminta Israel untuk bersikap proporsional agar gencatan senjata di Jalur Gaza dapat terjaga.
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, bersama dengan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, telah mendesak pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memberikan respons yang tepat terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Hamas. Mereka meminta agar Israel bersikap proporsional demi menjaga gencatan senjata yang berlaku di Jalur Gaza, seperti yang dilaporkan oleh The Wall Street Journal (WSJ).
Menurut WSJ, tekanan dari AS memiliki peran penting dalam keputusan Israel untuk menahan diri setelah kematian dua tentaranya baru-baru ini, yang diungkapkan oleh pejabat Israel dan mediator Arab, sebagaimana dikutip dari laman Antara News pada Minggu (26/10).
Pada hari Ahad, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa dua tentaranya tewas akibat serangan dari warga Palestina di Gaza selatan. Sebagai respons, militer Israel pun melancarkan serangan terhadap target-target Hamas.
Stasiun TV Ynet melaporkan bahwa Israel menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza karena adanya dugaan pelanggaran gencatan senjata "hingga pemberitahuan lebih lanjut" dan juga melakukan serangan terhadap kamp-kamp Palestina. Gencatan senjata yang disepakati antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mulai berlaku pada 10 Oktober.
Pada 13 Oktober, Presiden AS Donald Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi gencatan senjata untuk Gaza.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Hamas setuju untuk membebaskan seluruh 20 sandera yang masih hidup, yang ditahan di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza serta 250 tahanan Palestina yang sedang menjalani vonis berat.
Saat ini, Hamas tengah dalam proses mengembalikan jenazah para sandera yang meninggal selama penahanan kepada Israel. Sesuai dengan kesepakatan, Palestina diwajibkan untuk mengembalikan seluruh 28 jenazah sandera yang tersisa.