Kenapa GERD Bisa Bikin Cemas dan Panik? Ini Penjelasan Dokter
GERD tidak hanya memengaruhi lambung, tetapi juga dapat menyebabkan kecemasan dan serangan panik.
Bagi sebagian orang, waktu makan adalah saat yang ditunggu-tunggu. Namun, bagi mereka yang menderita GERD, aktivitas ini bisa menjadi sumber kecemasan bahkan memicu serangan panik.
Rasa perih di dada, sesak napas, dan rasa pahit di mulut sering kali membuat penderita enggan untuk makan, meskipun tubuh memerlukan asupan nutrisi yang cukup.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Ratri Saumi, Sp.GK., menjelaskan bahwa GERD bukan hanya sekadar masalah kelebihan asam lambung.
"Asam lambung itu sebenarnya penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika katup esofagus melemah dan asam lambung naik ke kerongkongan," ujarnya.
Kondisi ini menimbulkan iritasi yang kemudian mengirimkan sinyal bahaya ke otak. Mekanisme ini dikenal sebagai gut-brain axis, yang merupakan hubungan timbal balik antara sistem pencernaan dan otak.
Ketika otak menerima sinyal bahaya, tubuh merespons dengan meningkatkan hormon stres seperti kortisol.
Psikolog Klinis Mutia Qoriana, M.Psi., menambahkan bahwa respons ini dapat memperburuk kondisi yang ada.
"Ketika otak menerima sinyal tidak nyaman dari lambung, tubuh mengartikannya sebagai ancaman. Ini bisa memicu kecemasan berlebih bahkan serangan panik," ujarnya.
Seringkali, penderita GERD mengalami ketakutan yang ekstrem yang dikenal sebagai thanatophobia, yaitu ketakutan akan kematian.
Gejala seperti sesak di dada dan detak jantung yang cepat membuat kondisi ini sering kali salah diartikan sebagai serangan jantung.
Masalahnya, siklus ini dapat menjadi lingkaran setan. Stres meningkatkan produksi asam lambung, sementara gejala GERD justru memicu tingkat stres yang lebih tinggi. Akibatnya, kondisi fisik dan mental saling memperburuk satu sama lain.
Untuk mengatasi masalah ini, Ratri menyarankan pendekatan yang lebih komprehensif, bukan hanya mengandalkan obat penekan asam lambung.
Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah Protokol 5R: Remove, Replace, Reinoculate, Repair, dan Rebalance.
"Pendekatan ini bertujuan untuk memperbaiki sistem pencernaan secara menyeluruh, bukan hanya meredakan gejala sementara," kata Ratri.
Selain itu, pemilihan makanan juga sangat berpengaruh. Banyak penderita GERD terjebak dalam pola makan yang tidak bervariasi, yang justru menurunkan nafsu makan dan meningkatkan stres. Padahal, makanan sehat tidak selalu berarti tidak enak.
Makan dengan Bijak Penting bagi Penderita GERD
Pemilik merek Nutriged dan juga pengasuh penyintas GERD, Dera Nur Tresna, M.Kes., membagikan pengalamannya.
"Kami sebelumnya beranggapan bahwa makanan harus tanpa rasa agar aman bagi lambung. Namun, hal itu justru memperburuk kondisi mental karena tidak ada kenyamanan saat makan," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya bagi penderita GERD untuk tetap bisa menikmati makanan yang aman namun tetap enak.
"Kuncinya adalah keseimbangan antara nutrisi, rasa, dan kenyamanan," tambah Dera.
Dari pengalaman tersebut, lahirlah Nutriged, sereal multigrain yang dirancang sebagai comfort food bagi mereka yang mengalami masalah asam lambung.
"Kami ingin memberikan solusi agar pengidap asam lambung tetap dapat menikmati makanan yang lezat dan nyaman tanpa rasa khawatir," ungkap Dera.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, peneliti nutraceutical, Ramdani Husnul Huluq, mengembangkan produk ini dengan pendekatan yang inovatif. Dia bahkan melibatkan putranya yang berusia 3 tahun sebagai panelis rasa.
"Jika anak kecil menyukainya, orang dewasa yang sedang sakit pun pasti akan merasa lebih nyaman saat mengonsumsinya," jelasnya.
Selain memperhatikan pola makan, Ratri juga menjelaskan bahwa teknik manajemen stres sangat penting.
Latihan pernapasan, relaksasi, dan dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu mengurangi kecemasan yang muncul akibat GERD. Dengan pendekatan yang tepat, siklus negatif antara GERD dan serangan panik dapat diputus.
Penderita tidak hanya dapat mengelola gejala fisik, tetapi juga mampu meraih kembali kualitas hidup yang lebih baik.
"GERD bukanlah akhir dari segalanya. Dengan penanganan yang tepat, pasien masih bisa hidup dengan nyaman dan menikmati makanan tanpa rasa takut," tutup Ratri.