5 Jenis Olahraga yang Harus Dihindari Penderita GERD, Bisa Picu Asam Lambung
Hindari lima jenis olahraga berikut jika Anda ingin mencegah naiknya asam lambung atau kambuhnya GERD.
Olahraga merupakan aspek yang sangat penting bagi semua orang, termasuk bagi mereka yang menderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung.
Namun, pemilihan jenis olahraga yang tidak tepat bisa menyebabkan gejala asam lambung meningkat.
Oleh karena itu, dokter spesialis penyakit dalam, Sandy Perkasa, menjelaskan jenis olahraga yang sebaiknya dihindari oleh pasien GERD, yaitu:
Olahraga Intensitas Tinggi termasuk Lari Jarak Jauh.
Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi, seperti lari cepat atau lari jarak jauh, dapat meningkatkan tekanan pada lambung dan menciptakan getaran berulang yang mendorong asam lambung naik ke kerongkongan. Selain itu, kelelahan fisik akibat olahraga tersebut dapat memperburuk gejala seperti mual atau sensasi terbakar di dada.
Olahraga yang Menekan Perut Seperti Sit-up dan Crunch.
Gerakan sit-up dan crunch memberikan tekanan langsung pada area perut, yang dapat meningkatkan tekanan intra-abdomen. Hal ini membuat katup antara lambung dan kerongkongan lebih mudah terbuka, sehingga asam lambung lebih mungkin untuk naik. Untuk itu, dokter yang berpraktik di RS EMC Alam Sutera dan RS EMC Grha Kedoya ini menyarankan agar latihan perut jenis ini dihindari.
Angkat Beban Terlalu Berat.
Mengangkat beban yang terlalu berat tanpa teknik yang benar dapat meningkatkan tekanan di rongga perut secara signifikan. "Hal ini dapat menyebabkan naiknya asam lambung, apalagi jika dilakukan setelah makan atau tanpa cukup istirahat," ungkap Sandy, mengutip laman EMC, Senin (20/4/2026).
Latihan HIIT yang Melibatkan Banyak Lompatan
Olahraga yang tidak dianjurkan untuk pasien GERD adalah High-Intensity Interval Training (HIIT), yang melibatkan gerakan cepat dan intensitas tinggi seperti melompat, sprint, dan burpees.
Kombinasi dari gerakan yang dilakukan dengan intensitas tinggi ini dapat memicu peningkatan asam lambung, terutama bagi individu yang peka terhadap perubahan tekanan tubuh yang drastis.
Olahraga dengan Posisi Membungkuk atau Terbalik Terlalu Lama
Gerakan yang melibatkan posisi membungkuk atau terbalik dalam waktu lama, seperti handstand dalam yoga, dapat membuat asam lambung lebih mudah mengalir ke kerongkongan karena pengaruh gravitasi. Hal ini berpotensi memperburuk gejala asam lambung dan GERD, sehingga sebaiknya dihindari oleh pasien yang mengalami kondisi ini.
Tips Aman Olahraga Penderita GERD
Untuk menjaga kenyamanan saat berolahraga secara teratur, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.
Pertama, lakukan pemanasan agar tubuh siap untuk beraktivitas. Selanjutnya, pilihlah intensitas olahraga yang ringan hingga sedang agar tidak membebani tubuh.
Pastikan juga untuk mengenakan pakaian yang longgar, terutama di area perut, agar tidak mengganggu pergerakan.
Selain itu, perhatikan posisi tubuh agar tetap tegak dan stabil selama berolahraga. Jika Anda mengalami gejala seperti nyeri dada, pusing, atau mual, segera hentikan aktivitas tersebut.
Pola makan juga sangat penting dalam mencegah kambuhnya asam lambung dan GERD saat berolahraga.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: jangan berolahraga segera setelah makan, beri jeda sekitar 2 hingga 3 jam setelah makan besar, dan pilih makanan ringan sebelum berolahraga, seperti buah non-asam atau roti.
Selain itu, hindari makanan yang dapat memicu gejala, seperti makanan pedas, berlemak, cokelat, dan kafein. Setelah berolahraga, pilihlah makanan yang mudah dicerna dan tidak meningkatkan produksi asam lambung.
"Pengidap GERD harus segera melakukan konsultasi ke dokter apabila gejala yang dirasakan semakin sering muncul atau justru memburuk, meskipun menjaga pola makan dan berolahraga secara teratur. Kondisi seperti rasa panas di dada, nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dan rasa asam naik di tenggorokan bisa menjadi tanda asam lambung dan GERD tidak terkontrol dengan baik," kata dokter yang bertugas di RS EMC Alam Sutera.
Dengan berkonsultasi kepada dokter spesialis penyakit dalam, pasien dapat menerima diagnosis serta pengobatan yang sesuai, mulai dari perubahan gaya hidup hingga pengobatan yang lebih intensif jika diperlukan.
Penanganan yang tepat dan cepat tidak hanya membantu meredakan gejala tetapi juga mencegah komplikasi yang lebih serius di masa mendatang.