Waspadai 7 Kebiasaan Duduk Lama Ini, Bisa Sebabkan Obesitas dan Gangguan Lambung

Kebiasaan duduk dalam waktu lama telah menjadi hal biasa di zaman sekarang. Namun, tujuh kebiasaan tersebut sering diabaikan.

Fardi Rizal
Oleh Fardi Rizal - Reporter
Waspadai 7 Kebiasaan Duduk Lama Ini, Bisa Sebabkan Obesitas dan Gangguan Lambung
Ilustrasi Menahan Emosi Credit: pexels.com/Ekaterina (© 2025 Liputan6.com)

Duduk dalam waktu yang lama telah menjadi kebiasaan yang semakin sulit dihindari di era digital saat ini.

Rutinitas sehari-hari yang melibatkan pekerjaan di kantor, belajar secara daring, atau bersantai dengan menonton perangkat elektronik membuat banyak orang menghabiskan waktu duduk antara 8 hingga 12 jam sehari.

Tanpa disadari, gaya hidup yang kurang aktif ini dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan secara keseluruhan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa durasi duduk yang lama berhubungan langsung dengan peningkatan risiko obesitas. Ketidakaktifan tubuh akan memperlambat metabolisme, mengurangi pembakaran kalori, serta memicu penumpukan lemak di bagian perut.

Selain itu, duduk terlalu lama juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti GERD atau refluks asam lambung, terutama jika disertai dengan kebiasaan buruk yang mempengaruhi postur tubuh dan tekanan dalam perut.

Satu fakta yang sering diabaikan adalah bahwa berolahraga saja tidak cukup untuk mengimbangi efek negatif dari duduk berjam-jam. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu yang rutin berolahraga tetap berisiko mengalami masalah kesehatan jika mereka menghabiskan waktu duduk terlalu lama tanpa melakukan aktivitas fisik.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari guna mencegah terjadinya gangguan metabolik. Artikel ini akan mengulas tujuh kebiasaan duduk lama yang sering kali diabaikan, namun terbukti dapat memicu obesitas dan masalah asam lambung, lengkap dengan referensi ilmiah dari jurnal, buku, dan lembaga medis terkemuka seperti Mayo Clinic, BMC Public Health, dan Harvard Health Publishing. Simak selengkapnya.

Kebiasaan duduk lebih dari enam jam sehari tanpa diselingi aktivitas ringan dapat menurunkan metabolisme basal tubuh. Penelitian yang dipublikasikan oleh Exercise is Medicine menunjukkan bahwa duduk dalam waktu lama menyebabkan pembakaran kalori menurun drastis hingga satu kalori per menit, yang mempercepat penumpukan lemak viseral.

Selain itu, Mayo Clinic mengungkapkan bahwa duduk berjam-jam setiap hari dapat memicu sindrom metabolik, yang meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, dan ketidakstabilan kadar gula.

Metabolisme yang melambat juga berdampak pada efektivitas insulin dalam mengatur glukosa darah, yang dalam jangka panjang dapat berpotensi menyebabkan diabetes tipe 2. Riset ini menegaskan bahwa meskipun seseorang rutin berolahraga, dampak negatif dari duduk terlalu lama tetap signifikan jika tidak diselingi aktivitas ringan, seperti berdiri atau berjalan setiap 30 hingga 60 menit.

Oleh karena itu, sangat penting untuk merencanakan waktu istirahat saat bekerja di depan komputer atau melakukan kegiatan pasif lainnya.

Postur tubuh saat duduk memiliki dampak signifikan terhadap sistem pencernaan, khususnya lambung. Ketika seseorang duduk dengan posisi membungkuk atau menunduk, tekanan intra-abdomen dapat meningkat, yang berpotensi melemahkan sfingter esofagus bagian bawah (LES). LES berfungsi sebagai penghalang utama untuk mencegah asam lambung naik.

Menurut BMC Gastroenterology (2024), postur duduk yang tidak baik merupakan salah satu faktor penyebab meningkatnya kasus GERD pada orang dengan gaya hidup sedentari. Apabila LES melemah akibat tekanan yang ditimbulkan oleh posisi duduk yang tidak tepat, asam lambung dapat lebih mudah naik ke kerongkongan, yang akan menimbulkan rasa terbakar di dada atau yang dikenal dengan istilah heartburn.

Selain itu, sumber dari Harvard Health juga menyarankan agar penderita GERD menghindari posisi duduk yang menekuk perut, terutama setelah makan. Disarankan untuk menjaga tubuh dalam posisi tegak saat duduk dan memberikan jeda waktu minimal dua jam setelah makan sebelum kembali ke posisi santai. Dengan demikian, menjaga postur tubuh yang baik saat duduk dapat membantu mencegah masalah pencernaan dan meningkatkan kenyamanan bagi mereka yang berisiko mengalami GERD.

Kebiasaan segera duduk atau bahkan berbaring setelah makan dapat menjadi penyebab utama terjadinya refluks asam lambung. Untuk proses pencernaan yang optimal, tubuh sebaiknya berada dalam posisi tegak agar pengosongan lambung berjalan dengan baik dan tekanan pada Lower Esophageal Sphincter (LES) tetap rendah. Posisi duduk yang malas atau terlalu condong justru akan memperlambat proses transit makanan dalam sistem pencernaan. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), "duduk langsung setelah makan, terutama dalam posisi menyender atau membungkuk, dapat menyebabkan isi lambung terdorong kembali ke kerongkongan." Kondisi ini akan semakin parah jika makanan yang dikonsumsi mengandung banyak lemak atau rempah yang kuat.

Untuk mencegah gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), para ahli menyarankan agar setelah makan, sebaiknya tubuh tetap bergerak secara ringan atau berdiri selama 15 hingga 30 menit.

Jika terpaksa harus duduk, disarankan untuk menggunakan posisi duduk yang tegak lurus dan menghindari tekanan berlebih di area perut, seperti mengenakan celana ketat atau ikat pinggang yang terlalu kencang. Dengan melakukan langkah-langkah ini, risiko terjadinya refluks asam lambung dapat diminimalisir, dan kesehatan pencernaan dapat terjaga dengan lebih baik.

Meskipun tampak sepele, mengenakan pakaian yang ketat saat duduk dalam waktu lama dapat berdampak negatif pada fungsi pencernaan dan meningkatkan risiko naiknya asam lambung.

Tekanan yang dihasilkan oleh pakaian, terutama di bagian perut dan pinggang, dapat menekan organ lambung sehingga mengganggu kinerja Lower Esophageal Sphincter (LES). Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa tekanan eksternal pada perut, termasuk dari pakaian yang ketat, dapat memperburuk gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada pasien yang memiliki sensitivitas lambung. Akibat dari tekanan konstan ini, sering kali muncul rasa tidak nyaman, kembung, dan nyeri di ulu hati.

Para ahli kesehatan menyarankan untuk memilih pakaian yang lebih longgar, terutama saat harus duduk dalam waktu lama, bekerja di kantor, atau setelah makan. Bagi mereka yang memiliki riwayat gastritis atau GERD, mengubah kebiasaan berpakaian ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kondisi kesehatan dalam jangka panjang.

Dengan memilih pakaian yang lebih nyaman, individu dapat mengurangi risiko gejala yang tidak menyenangkan dan menjaga kesehatan pencernaan mereka.

Posisi duduk yang tidak didukung oleh sandaran punggung bagian bawah dapat menyebabkan ketegangan pada otot dan masalah postur.

Selain itu, banyak orang tidak menyadari bahwa posisi ini juga mempengaruhi tekanan di dalam rongga perut dan diafragma, yang berdampak pada fungsi organ pencernaan, termasuk lambung.

Menurut Harvard Medical School, penggunaan kursi ergonomis sangat penting untuk menjaga tulang belakang dalam posisi netral dan mencegah tekanan berlebih pada organ dalam. Jika seseorang duduk dengan posisi membungkuk tanpa dukungan punggung, perut akan terdorong ke atas, sehingga meningkatkan risiko terjadinya refluks.

Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan kursi yang dilengkapi dengan sandaran punggung dan bantalan duduk yang dapat menopang pinggul dengan baik, terutama bagi mereka yang bekerja di depan meja lebih dari empat jam setiap hari. Posisi ideal adalah membentuk sudut 90 derajat antara paha dan punggung, yang dapat membantu mengurangi tekanan pada saluran pencernaan.

Banyak orang meyakini bahwa berolahraga selama 1 hingga 2 jam setiap hari dapat mengurangi risiko akibat duduk terlalu lama. Namun, menurut meta-analisis yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine, dampak negatif dari duduk tetap ada meskipun seseorang rutin berolahraga, terutama jika waktu duduk pasif melebihi 8 jam dalam sehari.

Studi tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk berada dalam posisi diam dalam waktu lama, dan otot yang tidak bergerak dalam periode panjang tidak bisa diimbangi hanya dengan satu sesi olahraga. Dengan kata lain, melakukan jeda-jeda singkat saat duduk ternyata jauh lebih efektif untuk mempertahankan keseimbangan metabolik.

Solusi yang dapat diterapkan adalah membiasakan diri untuk berdiri setiap 30 hingga 60 menit, berjalan ringan, atau melakukan peregangan selama 2 hingga 5 menit. Kebiasaan kecil ini memiliki dampak yang signifikan dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah, dan mencegah terjadinya lonjakan berat badan.

Dengan melakukan perubahan sederhana ini, kita dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan meminimalkan risiko yang ditimbulkan oleh gaya hidup sedentari.

Tubuh kita sebenarnya memberikan sinyal peringatan ketika kita terlalu lama duduk, seperti nyeri pada leher dan punggung, mata yang lelah, serta perasaan begah atau kembung di perut. Sayangnya, banyak orang cenderung mengabaikan sinyal-sinyal ini karena terlalu terfokus pada pekerjaan atau hiburan digital.

Menurut laporan dari Harvard Health Publishing, "duduk lama menyebabkan aliran darah ke perut melambat, sehingga memperlambat proses pencernaan." Akibatnya, hal ini dapat memicu masalah seperti gas berlebih, konstipasi, dan peningkatan tekanan lambung yang berpotensi menyebabkan GERD atau ketidaknyamanan perut.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali tanda-tanda tersebut sebagai alarm alami yang mengingatkan kita untuk berhenti sejenak. Anda bisa mencoba untuk bangkit, berdiri, minum air putih, atau melakukan peregangan ringan agar metabolisme tubuh tetap terjaga.

Respons yang cepat terhadap sinyal dari tubuh merupakan langkah pencegahan yang sangat penting untuk menghindari gangguan metabolik. Dengan memperhatikan sinyal ini, kita dapat menjaga kesehatan dan kenyamanan tubuh saat menjalani aktivitas sehari-hari.

1. Apakah duduk terlalu lama dapat berkontribusi pada obesitas? Ya, duduk dalam waktu yang lama dapat secara signifikan mengurangi jumlah kalori yang terbakar setiap hari. Aktivitas yang bersifat pasif seperti duduk dapat memperlambat metabolisme, sehingga lemak cenderung menumpuk, terutama di bagian perut. Penelitian dari Mayo Clinic dan Harvard Health menunjukkan bahwa duduk dalam waktu lama tanpa istirahat dapat memicu sindrom metabolik yang berhubungan langsung dengan obesitas.

2. Mengapa posisi duduk setelah makan dapat meningkatkan asam lambung? Duduk setelah makan, terutama dalam posisi membungkuk atau bersantai, dapat memberikan tekanan pada perut dan melemahkan sfingter esofagus bagian bawah (LES). Hal ini membuat asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menyebabkan sensasi terbakar (heartburn). Oleh karena itu, sebaiknya tetap dalam posisi tegak atau berdiri setelah makan selama minimal 30 menit.

3. Apa posisi duduk yang paling baik untuk mencegah GERD? Posisi duduk yang ideal adalah duduk tegak dengan sudut 90 derajat antara punggung dan paha. Disarankan untuk menggunakan kursi dengan sandaran punggung dan menghindari membungkuk, terutama setelah makan. Postur yang tegak membantu menjaga tekanan di dalam perut tetap stabil dan mencegah terjadinya refluks asam lambung.

4. Seberapa sering sebaiknya kita berdiri saat bekerja dalam posisi duduk lama? Para ahli menyarankan untuk berdiri dan bergerak sedikit setiap 30 hingga 60 menit saat bekerja dalam waktu lama. Aktivitas sederhana seperti berjalan kecil atau melakukan stretching selama 2 hingga 5 menit sudah cukup untuk membantu menjaga sirkulasi darah, mencegah ketegangan otot, serta menyeimbangkan kadar gula dan tekanan darah.

Rekomendasi