Penyakit GERD Dapat Sembuh Total dengan Pengobatan Tuntas dan Perubahan Gaya Hidup
Penyakit GERD dapat disembuhkan dengan mengurangi faktor risiko penyebabnya dan menjalani pengobatan hingga tuntas. Kenali lebih dalam penyebab, gejala, serta langkah-langkah efektif untuk mengatasi kondisi ini dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi–hepatologi FK UI RSCM Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH menegaskan bahwa penyakit GERD memiliki potensi untuk sembuh total. Kesembuhan ini dapat dicapai apabila penderita mampu mengurangi faktor risiko yang menjadi pemicunya serta menjalani proses pengobatan secara tuntas dan disiplin. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi kesehatan yang diselenggarakan bersama Primaya Hospital di Jakarta, Kamis lalu.
Menurut Prof. Ari, kunci utama dalam penanganan GERD adalah menghilangkan gejala yang timbul sekaligus mencegah komplikasi lebih lanjut. Hal ini mencakup perubahan gaya hidup yang signifikan, seperti berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol jika memiliki kebiasaan tersebut. Selain itu, penurunan berat badan menjadi faktor penting, diikuti dengan penerapan diet rendah lemak untuk mendukung proses penyembuhan.
Modifikasi gaya hidup yang menyeluruh, termasuk pola makan yang sehat dan teratur, berperan besar dalam mengurangi tingkat keparahan GERD. Olahraga teratur, menjaga berat badan ideal untuk menghindari obesitas, memastikan tidur yang cukup, dan mengelola stres dengan baik juga merupakan bagian integral dari strategi penanganan yang efektif.
Mengubah Gaya Hidup untuk Mencegah dan Mengatasi Penyakit GERD
Perubahan gaya hidup memegang peranan krusial dalam upaya penyembuhan dan pencegahan kekambuhan penyakit GERD. Prof. Ari Fahrial Syam menekankan pentingnya menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, serta menurunkan berat badan bagi penderita obesitas. Diet rendah lemak juga sangat dianjurkan sebagai bagian dari penyesuaian pola makan.
Selain itu, menerapkan pola makan yang baik, berolahraga secara teratur, mendapatkan tidur yang cukup, dan mengelola tingkat stres adalah langkah-langkah efektif untuk mengurangi keparahan gejala GERD. Kebiasaan-kebiasaan sehat ini tidak hanya membantu mengatasi GERD tetapi juga meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Ari, penderita GERD umumnya adalah pria dengan kebiasaan merokok, obesitas, dan berusia di atas 40 tahun. Namun, saat ini terjadi peningkatan kasus GERD pada anak-anak.
Penyakit GERD pada anak-anak seringkali dipicu oleh pola makan tidak sehat, paparan berlebihan terhadap makanan mengandung keju dan cokelat sejak bayi, serta kebiasaan langsung tidur setelah makan. Kurangnya aktivitas fisik karena penggunaan gawai yang berlebihan juga berkontribusi pada peningkatan kasus ini.
Deteksi Dini dan Pengobatan Medis Penyakit GERD
Untuk mendiagnosis dan menilai tingkat keparahan penyakit GERD, dokter spesialis penyakit dalam biasanya akan merekomendasikan prosedur endoskopi. Endoskopi memungkinkan dokter untuk melihat langsung kondisi luka pada usus serta mengevaluasi celah katup lambung yang berfungsi menahan asam lambung agar tidak naik ke kerongkongan.
Prof. Ari menyarankan agar pasien yang sering mengalami nyeri dada dan ulu hati, sensasi terbakar di dada, atau muntah berulang segera melakukan endoskopi. Gejala-gejala ini bisa menjadi indikasi kuat adanya GERD yang memerlukan penanganan medis.
Pemeriksaan endoskopi juga penting sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan munculnya kanker pada usus, terutama jika terdapat luka yang tidak diobati. Deteksi dini melalui endoskopi dapat mencegah komplikasi serius di kemudian hari.
Selain perubahan gaya hidup, pengobatan dengan meminum obat penekan asam lambung juga diberikan, namun harus dikonsumsi hingga penyakit GERD tuntas. Saat ini, terdapat harapan baru bagi penderita GERD dengan hadirnya obat golongan P-CAB seperti Vonoparazan, Tegoprazan, dan Fexuprazan, terutama efektif untuk kasus yang melibatkan bakteri Helicobacter pylori.
Strategi Tambahan dalam Penanganan GERD
Selain pengobatan medis dan perubahan gaya hidup, ada strategi tambahan yang dapat membantu mengurangi gejala penyakit GERD. Prof. Ari menyatakan bahwa melakukan puasa intermiten dapat menjadi salah satu metode yang efektif.
Selain itu, menjaga asupan protein yang seimbang juga berperan penting dalam manajemen GERD. Kombinasi dari berbagai pendekatan ini akan memberikan hasil yang optimal dalam mengelola kondisi asam lambung.
Prof. Ari menambahkan bahwa obat golongan P-CAB menjadi harapan besar karena sekitar 20 persen pasien yang diobati dengan obat sebelumnya mengalami kegagalan. Obat baru ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih efektif bagi penderita GERD.
Sumber: AntaraNews