GERD Sering Kambuh? Bisa Jadi Bukan karena Makanan, tapi Pikiran yang Tak Tenang
GERD tidak hanya disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman tertentu, tetapi juga dapat dipicu oleh kondisi mental seperti stres atau kecemasan.
GERD, atau Penyakit Refluks Gastroesofagus, adalah kondisi di mana aliran makanan yang seharusnya mengalir dari mulut ke kerongkongan dan lambung justru berbalik arah.
Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan seperti heartburn atau rasa asam dan pahit di mulut. Banyak orang beranggapan bahwa GERD disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman tertentu, padahal kondisi ini juga bisa dipicu oleh stres atau beban pikiran yang berlebihan.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, Eva Suryani dari RS EMC Alam Sutera, menjelaskan bahwa saat tubuh mengalami stres, otak akan berada dalam keadaan waspada. Dalam kondisi ini, otak melepaskan hormon kortisol dan adrenalin yang berpengaruh pada fisik, termasuk lambung.
“Ketika stres, lambung kita juga akan memproduksi asam lambung yang semakin tinggi. Karena semakin tinggi, jadi muncul gejala-gejala yang bikin enggak nyaman,” ujar Eva dalam acara EMC Healthy Monday yang memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2025 pada Senin, 27 Oktober 2025.
Eva sering menjumpai pasien yang telah berkali-kali berkunjung ke dokter spesialis penyakit dalam dan bahkan telah menjalani endoskopi, tetapi gejala GERD mereka tidak kunjung membaik. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata banyak dari mereka mengalami kecemasan dan overthinking.
“Kalau penyebabnya seperti itu, karena akar masalah overthinking itu lalu enggak diobatin, udah berobat ke dokter dan lakukan pengobatan ini itu tapi hasilnya belum perbaikan,” jelas Eva, mengungkapkan bahwa pemicu GERD bisa berasal dari masalah psikologis.
Pengaruh fisik dan mental terhadap GERD
Dalam konteks pengobatan GERD, jika seorang pasien merasakan perbaikan setelah menggunakan obat yang diresepkan oleh dokter, kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh faktor fisik.
Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa gabungan antara faktor fisik dan mental juga dapat mempengaruhi kondisi seseorang yang mengalami GERD.
"Bisa juga ada keduanya kan, maka dari itu perlu kolaborasi (pengobatan secara fisik dari dokter spesialis penyakit dalam dan psikiater)," kata Eva.
GERD dapat menyebabkan kecemasan
Di sisi lain, individu yang menderita GERD berisiko mengalami kecemasan dan depresi dengan tingkat dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak mengalami kondisi ini.
"GERD bisa bikin cemas, jadi memang sifatnya bisa timbal balik," ungkap dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastro entero hepatologi, Dedi G Sudrajat, dari RS EMC Grha Kedoya. Ketidaknyamanan akibat GERD, seperti gejala nyeri dada, dapat memicu kecemasan ketika seseorang mencari informasi tentang penyakit jantung.
"Kalau enggak diperiksa, ya enggak clear ya (penyebab rasa nyeri di dada), nah itu malah berujung kecemasan," lanjut Dedi dalam kesempatan yang sama. Oleh karena itu, penting untuk memastikan penyebab nyeri dada tersebut, baik melalui pemeriksaan jantung maupun untuk mengetahui apakah disebabkan oleh GERD atau faktor lainnya.
Memahami GERD Secara Mendalam
GERD merupakan kondisi di mana terjadi refluks atau aliran balik isi lambung ke atas. Isi lambung yang naik bisa berupa makanan atau minuman yang baru saja dikonsumsi, maupun cairan lambung yang mengalir ke tenggorokan, seperti yang dijelaskan oleh Dedi.
Gejala utama dari GERD adalah sensasi terbakar di dada (heartburn) dan rasa asam atau pahit di mulut. Selain itu, terdapat beberapa gejala lain yang sering muncul pada penderita GERD, antara lain:
- Banyak lendir di tenggorokan
- Batuk yang berkepanjangan
- Perasaan ingin berdehem terus-menerus
- Merasa tercekik di bagian leher.
GERD biasanya disebabkan oleh kelemahan pada klep atau pintu masuk antara kerongkongan dan lambung.
"Bisa lemah sementara atau lemah permanen," tambah Dedi.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ini dapat bervariasi, tergantung pada penyebab dan durasi kelemahan tersebut. Penting untuk memahami gejala dan penyebab GERD agar dapat mengambil langkah yang tepat dalam penanganannya.