Dua Negara Arab Ini Dilaporkan Desak Hamas Lucuti Senjata, Kembali ke Negosiasi Gencatan Senjata dengan Israel
Hamas sebelumnya mengatakan mereka bersedia melepaskan kekuasaan di Gaza tapi tidak untuk melucuti senjata.
Turki menekan Hamas untuk melucuti senjata dan melanjutkan negosiasi gencatan senjata di Gaza, kata seorang sumber Palestina kepada surat kabar Israel Haaretz pada 14 Agustus.
“Tekanan terhadap Hamas untuk kembali ke meja perundingan semakin besar. Turki – yang terlibat dalam upaya mediasi – telah memberi sinyal kepada para pejabat senior Hamas bahwa mereka harus menerima tuntutan untuk melucuti senjata dan melepaskan kendali atas Jalur Gaza,” kata sumber tersebut, seperti dilansir the Cradle, Kamis (14/8).
Sumber itu menambahkan, “Ankara menyampaikan harapan ini dalam pembicaraan terbaru dengan Mesir, sebelum delegasi Hamas tiba di Kairo pada hari Senin.”
“Hamas merasakan isolasi diplomatik, dan hal itu memaksa mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa terus bersikeras mempertahankan senjata dan institusi politik mereka,” lanjut sumber tersebut.
Laporan ini muncul ketika Israel bersiap melancarkan operasi untuk menduduki Kota Gaza.
Membebaskan 10 tawanan
Menurut seorang pejabat Israel yang dikutip Haaretz, kalangan politik Israel “bertekad untuk melanjutkan rencana operasi militer guna menguasai Kota Gaza,” namun pembicaraan bisa dilanjutkan jika AS dan mediator lain “mengajukan proposal yang memenuhi syarat Israel.”
Proposal yang ada saat ini adalah versi terbaru dari Rencana Steve Witkoff – yang akan membuat Hamas membebaskan 10 tawanan hidup serta memberlakukan gencatan senjata selama 60 hari, di mana pembicaraan akan terus berlangsung.
Laporan tersebut mengatakan proposal itu telah melunakkan bahasa tuntutan pelucutan senjata Hamas, dan membingkainya lebih sebagai “pembekuan senjata.” Hamas juga disebut berada di bawah tekanan besar dari Mesir untuk menerimanya.
“Semuanya terasa samar dan tidak jelas karena kami benar-benar tidak tahu ke mana arah ini akan berujung. Mesir menekan Hamas untuk menyetujui kerangka kerja ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap rakyat Palestina,” kata seorang sumber Mesir.
Israel menuntut Hamas menyerahkan seluruh senjatanya, tuntutan yang terus ditolak secara terbuka oleh gerakan perlawanan Palestina tersebut.
Sumber-sumber Palestina yang dikutip Haaretz mengklaim “meskipun Hamas secara terbuka menolak pelucutan senjata, kelompok itu sudah memahami kenyataannya berbeda.”
Negara-negara Liga Arab dan Turki mengeluarkan pernyataan bersama di sidang PBB di New York pada 29 Juli, menyerukan Hamas untuk melucuti senjata dan melepaskan pemerintahan di Gaza. Meski demikian, seorang sumber Turki mengatakan kepada media Rusia awal bulan ini bahwa pihaknya tidak menuntut penyerahan Hamas.
Menurut sumber itu, “Pasal 11 [dari deklarasi New York] menyerukan Hamas untuk melepaskan pemerintahan di Gaza dan menyerahkan senjatanya kepada Otoritas Palestina (PA), dengan syarat dibentuknya negara Palestina yang berdaulat dan merdeka yang didukung oleh jaminan internasional.”
Sumber tersebut mencatat bahwa meskipun rancangan awal deklarasi menggunakan istilah “melucuti senjata,” Turki turun tangan untuk merevisi bahasa tersebut, memastikan bahwa setiap rujukan pada penyerahan senjata oleh Hamas secara eksplisit dihubungkan dengan pembentukan negara Palestina yang diakui.
Hamas telah memberi sinyal kesediaannya untuk menyerahkan kendali Gaza, dan menyerukan upaya bersama di antara faksi-faksi Palestina untuk mencari solusi bagi pemerintahan pascaperang di wilayah tersebut.
Namun, Hamas mengatakan senjata mereka adalah “hak nasional dan legal selama pendudukan masih berlangsung.”
Delegasi senior Hamas tiba di Kairo pada 12 Agustus untuk berkonsultasi dengan pejabat Mesir terkait upaya menghidupkan kembali pembicaraan, menurut Al Qahera News yang berafiliasi dengan negara Mesir.
Poin-poin utama yang menjadi ganjalan adalah tuntutan pelucutan senjata dan sejauh mana penarikan militer Israel yang akan menjadi bagian dari kesepakatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menolak penyelesaian apa pun yang kurang dari pembasmian Hamas, sementara sekutu koalisi sayap kanannya secara terbuka menyerukan penguasaan militer penuh atas Gaza.
Dalam konferensi pers pada 10 Agustus, Netanyahu menggambarkan rencana Israel yang baru disetujui untuk menduduki Kota Gaza sebagai “cara terbaik dan tercepat untuk mengakhiri perang.”