SDA Jakarta Selatan Gencarkan Pengerukan 10 Titik Rawan Harian untuk Antisipasi Banjir Jakarta Selatan

Suku Dinas SDA Jakarta Selatan intensifkan pengerukan 10 titik rawan setiap hari guna Antisipasi Banjir Jakarta Selatan, terutama jelang kemarau dan pancaroba, demi menjaga kapasitas saluran air dan mencegah penyakit.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
SDA Jakarta Selatan Gencarkan Pengerukan 10 Titik Rawan Harian untuk Antisipasi Banjir Jakarta Selatan
Suku Dinas SDA Jakarta Selatan intensifkan pengerukan 10 titik rawan setiap hari guna Antisipasi Banjir Jakarta Selatan, terutama jelang kemarau dan pancaroba, demi menjaga kapasitas saluran air dan mencegah penyakit. (AntaraNews)

Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan secara proaktif melaksanakan pengerukan di sepuluh titik rawan banjir setiap harinya. Langkah ini diambil sebagai upaya Antisipasi Banjir Jakarta Selatan, khususnya dalam menghadapi transisi musim kemarau dan pancaroba yang berpotensi meningkatkan risiko genangan air. Petugas bekerja keras untuk memastikan sistem drainase berfungsi optimal di seluruh wilayah.

Kepala Seksi Pemeliharaan Suku Dinas SDA Jakarta Selatan, Junjung Paulus, menegaskan bahwa aktivitas ini bukan respons terhadap bencana, melainkan bagian dari kerja maksimal. Pengerukan difokuskan pada aliran sungai utama seperti Kali Ciliwung dan Kali Pesanggrahan, serta pembersihan saluran penghubung (PHB). Upaya ini meliputi pengurasan manual di berbagai lokasi yang membutuhkan penanganan khusus.

Tindakan preventif ini sangat krusial untuk mempertahankan kapasitas saluran air agar tetap optimal menampung debit air. Selain itu, pengerukan juga bertujuan mencegah timbulnya berbagai penyakit yang seringkali disebabkan oleh genangan air kotor dan bau tidak sedap. Kehadiran nyamuk juga dapat ditekan dengan menjaga kebersihan lingkungan air.

Junjung Paulus menjelaskan bahwa pihaknya mampu melakukan pengerukan di sekitar sepuluh lokasi setiap harinya. Saat ini, bahkan ada sekitar enam titik yang dikerjakan secara intensif untuk memastikan penanganan optimal terhadap potensi genangan. Fokus utama adalah pada area yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi terhadap penumpukan sedimen dan sampah.

Kegiatan pengerukan kali dan saluran air ini telah terbukti efektif dalam mempercepat surutnya banjir di beberapa wilayah. Data menunjukkan bahwa durasi genangan yang sebelumnya bisa mencapai sepuluh jam kini dapat dipangkas menjadi sekitar dua hingga tiga jam saja. Efektivitas ini sangat terasa terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi di ibu kota.

Tujuan utama dari pengerukan ini adalah meningkatkan kapasitas tampung aliran air pada kali induk. Dengan demikian, debit air yang berasal dari wilayah hulu maupun kawasan padat penduduk dapat tertampung lebih optimal. Hal ini secara langsung berkontribusi pada upaya Antisipasi Banjir Jakarta Selatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Selain fokus pada pengerukan, Suku Dinas SDA Jakarta Selatan juga aktif memantau tinggi muka air tanah yang menunjukkan tren penurunan setiap tahunnya. Pemantauan ini penting untuk memahami dinamika hidrologi lokal dan merumuskan strategi penanganan yang lebih tepat. Data ini menjadi dasar pengambilan keputusan untuk intervensi lebih lanjut.

Program pengerukan yang dijalankan di Jakarta Selatan ini sejalan dengan kebijakan Dinas SDA DKI Jakarta. Dinas secara rutin melakukan normalisasi dan pemeliharaan sungai di lima wilayah kota administrasi sebagai bagian dari program pengendalian banjir. Koordinasi antar unit kerja memastikan efektivitas program di seluruh wilayah Jakarta.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan komitmen serius dalam pengendalian banjir dengan mengalokasikan anggaran signifikan. Pada Tahun Anggaran (TA) 2026, dana sebesar Rp3,64 triliun dialokasikan untuk pengendalian banjir, ditambah Rp18,25 miliar untuk sistem pengendalian banjir. Alokasi ini menegaskan prioritas pemerintah dalam melindungi warganya dari dampak bencana hidrometeorologi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi