Tolak Pelucutan Senjata, Dukungan Warga Palestina ke Hamas Meningkat Tajam & Minta Mahmoud Abbas Mundur
Jajak pendapat terbaru menunjukkan dukungan warga Palestina terhadap Hamas meningkat dan menolak pelucutan senjata.
Jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Palestinian Centre for Policy and Survey Research (PCPSR) menunjukkan bahwa dukungan warga Palestina terhadap Hamas mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Tak cuma itu, mayoritas warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat juga menolak pelucutan senjata kelompok pejuang pembebasan Palestina itu.
Mereka juga sangat skeptis bahwa rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump akan mengakhiri perang Israel di Gaza secara permanen.
Hasil jajak pendapat itu menunjukkan bahwa sekitar 70 persen warga Palestina yang disurvei di Tepi Barat dan Gaza sangat menentang pelucutan senjata Hamas, bahkan jika itu berarti kembalinya serangan Israel.
Dukungan agar Hamas mempertahankan persenjataannya sejalan dengan skeptisisme mendalam atas rencana perdamaian Trump untuk Gaza.
Jajak pendapat tersebut menemukan 62 persen warga Palestina tidak yakin rencana Trump akan berhasil mengakhiri perang untuk selamanya. Pesimisme lebih tinggi di Tepi Barat yang diduduki. 67 persen responden meragukan rencana Trump tersebut, dibandingkan dengan 54 persen di Gaza.
Dilansir Middle East Eye, Kamis (30/10/2025), jajak pendapat yang dilakukan oleh PCPSR itu dilakukan antara 22-25 Oktober dan diterbitkan pada Selasa (28/10/2025).
Sampel jajak pendapat ini adalah 1.200 orang, dengan 760 orang diwawancarai di Tepi Barat yang diduduki dan 440 orang di Gaza. Survei dilakukan secara tatap muka, dengan tanggapan dikirimkan ke server yang menurut PCPSR hanya dapat diakses oleh para peneliti. Margin kesalahannya adalah 3,5 persen.
Penolakan ini mencerminkan sikap tegas masyarakat Palestina terhadap keberadaan senjata Hamas sebagai alat pertahanan diri dari Israel.
Dukungan kepada Hamas Meningkat di Gaza dan Tepi Barat
Dukungan terhadap Hamas telah meningkat selama dua tahun terakhir, di mana kepuasan terhadap kinerja kelompok ini juga mengalami kenaikan.
Sekitar 60 persen warga Palestina menyatakan puas dengan kinerja Hamas, dengan angka tersebut mencapai 66 persen di Tepi Barat dan 51 persen di Jalur Gaza. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Palestina melihat Hamas sebagai alternatif yang lebih baik dibandingkan dengan Fatah.
Survei terbaru menunjukkan perubahan signifikan dalam pandangan warga Palestina terhadap Hamas dan Fatah sejak serangan 7 Oktober 2023. Untuk keenam kalinya sejak peristiwa itu, warga Palestina ditanya apakah operasi Hamas di Israel selatan dianggap benar atau salah.
Pada jajak pendapat sebelumnya, dukungan terhadap serangan tersebut sempat menurun seiring meningkatnya kekerasan dan korban akibat genosida Israel di Gaza dan serangan di Tepi Barat. Namun, usai kesepakatan gencatan senjata yang diprakarsai Trump, pandangan publik kembali berubah. Sebanyak 53 persen responden menyatakan bahwa operasi 7 Oktober 2023 “benar”, menunjukkan peningkatan dukungan terhadap aksi Hamas.
Dukungan ini paling tinggi di Tepi Barat yang diduduki, di mana 59 persen menyebut operasi tersebut “benar”, dibandingkan 44 persen di Gaza.
Warga Palestina Tak Puas & Minta Mahmoud Abbas Mundur
Secara politik, Hamas kini jauh lebih populer dibandingkan Fatah, partai yang mendominasi Otoritas Palestina (PA) di bawah kepemimpinan Presiden Mahmoud Abbas. Hasil survei menunjukkan 35 persen warga Palestina mendukung Hamas, sementara 24 persen berpihak pada Fatah, dan 32 persen lainnya memilih tidak mendukung keduanya atau tidak memiliki pendapat.
Di Tepi Barat, 32 persen responden menyatakan dukungan terhadap Hamas, berbanding 20 persen untuk Fatah. Sementara di Gaza, proporsinya lebih besar: 41 persen mendukung Hamas dan 29 persen mendukung Fatah.
Menurut laporan survei, dukungan terhadap Hamas terus meningkat dalam dua tahun terakhir, bahkan lebih kuat di Tepi Barat dibandingkan di Gaza.
“Dua tahun terakhir justru menghasilkan dukungan yang lebih besar bagi Hamas, bukan sebaliknya. Kesimpulan ini berlaku di Tepi Barat dan Jalur Gaza, tetapi lebih berlaku di Tepi Barat,” demikian menurut laporan tersebut.
Survei juga mencatat penurunan tajam kepercayaan publik terhadap Presiden Mahmoud Abbas. Hanya 23 persen warga Palestina yang menyatakan puas dengan kepemimpinannya, sedangkan 85 persen ingin Abbas segera mengundurkan diri.
Sementara itu, Marwan Barghouti, pejabat Fatah yang kini masih mendekam di penjara Israel, tetap menjadi figur paling populer di mata publik. Ia disebut berpeluang besar memenangkan pemilihan presiden jika bersaing melawan Abbas maupun tokoh senior Hamas, Khaled Meshaal.
Penolakan Tegas terhadap Pelucutan Senjata
Penolakan terhadap pelucutan senjata Hamas sangat kuat, terutama di Tepi Barat yang diduduki. Sekitar 80 persen responden di wilayah ini menyatakan ingin sayap bersenjata Hamas mempertahankan senjatanya. Penolakan ini mencerminkan skeptisisme yang mendalam terhadap rencana perdamaian yang diusulkan, termasuk rencana yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Sementara di Gaza, 55 persen warga menolak pelucutan senjata Hamas. Penolakan ini menunjukkan bahwa masyarakat Palestina merasa perlunya mempertahankan diri di tengah ancaman yang terus ada. Skeptisisme terhadap rencana perdamaian yang tidak diyakini akan membawa hasil positif semakin memperkuat sikap ini.
Dukung Keberadaan Pasukan Internasional Jika Senjata Hamas Tak Dilucuti
Rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan oleh Donald Trump memunculkan respons beragam di kalangan warga Palestina. Dalam rencana itu, Gaza akan dikelola oleh sebuah komite teknokrat Palestina yang berada di bawah pengawasan “Dewan Perdamaian” — badan yang disebut-sebut akan dipimpin langsung oleh Trump.
Menurut laporan Middle East Eye, Amerika Serikat tengah menyiapkan rancangan resolusi di PBB yang menyerukan pembentukan pasukan penjaga perdamaian dari negara-negara Arab dan Muslim untuk ditempatkan di Gaza. Informasi ini dikonfirmasi oleh sejumlah pejabat AS dan Arab, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun.
Namun, situasi di lapangan justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Gencatan senjata kembali dilanggar oleh Israel, yang pada Selasa melancarkan serangan terbesar sejak perjanjian damai diteken. Serangan itu menghantam Kota Gaza, Khan Younis, serta kamp-kamp pengungsi di wilayah tengah, menewaskan setidaknya 104 warga Palestina, termasuk 46 anak-anak.
Jajak pendapat tersebut menemukan dukungan yang cukup besar untuk bagian dari rencana Trump yang menyerukan pembentukan komite Palestina yang tidak berafiliasi dengan Hamas atau Otoritas Palestina untuk memerintah Gaza. Mayoritas warga Palestina, 53 persen, mengatakan mereka menentang komite tersebut, tetapi 45 persen responden mendukungnya.
Di Gaza, mayoritas tipis, 51 persen warga Palestina, mendukung gagasan tersebut, sementara oposisi di Tepi Barat yang diduduki jauh lebih kuat.
Menariknya, ketika pertanyaan tidak menyebutkan pengecualian terhadap Hamas dan PA, dan responden diberi tahu bahwa pembentukan komite akan dikaitkan dengan program dana rekonstruksi Gaza, tingkat dukungan melonjak menjadi 67 persen.
Pandangan warga juga berbeda terkait rencana penempatan pasukan penjaga perdamaian Arab dan Muslim. Di Tepi Barat, 78 persen responden menolak kehadiran pasukan tersebut, sementara di Gaza, penolakan lebih rendah yakni 52 persen, masih dalam margin kesalahan survei.
Namun, dukungan terhadap pasukan internasional meningkat signifikan ketika dijelaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian hanya akan menjaga perbatasan Gaza tanpa melucuti senjata Hamas. Dalam skenario ini, 53 persen warga Gaza dan 43 persen warga Tepi Barat menyatakan setuju terhadap gagasan tersebut.