Hasil Survei Negara 3 Benua: Mayoritas Menuntut Diakhirinya Penjualan Senjata ke Israel
Survei menunjukkan mayoritas publik di lima negara ingin penjualan senjata ke Israel dihentikan.
Sebuah survei terbaru yang mencakup tiga benua dan lima negara mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat percaya bahwa perusahaan senjata harus menghentikan atau mengurangi perdagangan dengan Israel. Hasil jajak pendapat ini, dirilis pada hari Kamis (7/8/2020), menunjukkan meningkatnya sentimen publik yang menuntut tindakan konkret dari sektor swasta dan pemerintah untuk menekan Israel.
Temuan ini muncul di tengah kecaman internasional yang terus meningkat terhadap genosida Israel di Gaza. Survei ini ditugaskan oleh jaringan Global Energy Embargo for Palestine (GEEP) dan didukung oleh organisasi sayap kiri Progressive International.
Dilakukan pada bulan Juli melalui platform Pollfish, lebih dari 1.000 responden di setiap negara—Brasil, Kolombia, Yunani, Afrika Selatan, dan Spanyol—dimintai pendapat mengenai hubungan pemerintah dan sektor swasta dengan Israel. Pemilihan negara-negara ini didasarkan pada keterlibatan langsung mereka dalam impor dan transportasi energi ke Israel.
David Adler, ko-koordinator umum Progressive International, menegaskan bahwa pesan dari masyarakat dunia sangat jelas: mereka menginginkan tindakan untuk mengakhiri serangan di Gaza, bukan hanya kata-kata.
"Di seluruh benua, mayoritas menyerukan pemerintah mereka untuk menghentikan penjualan senjata dan menahan pendudukan Israel," kata Adler, menyoroti bahwa dukungan untuk menghentikan pengiriman senjata ini bersifat spesifik dan tidak ambigu.
Latar Belakang Survei dan Metodologi
Survei ini merupakan inisiatif dari jaringan Global Energy Embargo for Palestine (GEEP) dan mendapatkan dukungan dari Progressive International. Pelaksanaan survei dilakukan pada bulan Juli melalui platform Pollfish, yang memungkinkan pengumpulan data opini publik secara efisien dari berbagai lokasi geografis. Metodologi ini memastikan bahwa data yang terkumpul mencerminkan pandangan dari beragam demografi di negara-negara yang disurvei.
Pemilihan lima negara—Brasil, Kolombia, Yunani, Afrika Selatan, dan Spanyol—didasarkan pada keterlibatan langsung negara-negara tersebut dalam impor dan transportasi energi ke Israel. Setiap negara memiliki lebih dari 1.000 responden yang berpartisipasi, yang ditanyai tentang hubungan pemerintah dan sektor swasta dengan Israel, dengan tujuan untuk mengukur sikap publik terhadap tanggung jawab.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana masyarakat di wilayah-wilayah kunci ini memandang peran negara mereka dalam konflik yang sedang berlangsung.
Survei ini dirancang untuk mengukur sikap publik terhadap tanggung jawab, khususnya dalam konteks hubungan ekonomi dan militer dengan Israel. Dengan menanyakan tentang hubungan pemerintah dan sektor swasta, survei ini berusaha memahami sejauh mana masyarakat mendukung atau menentang keterlibatan negara mereka dalam perdagangan yang dapat mendukung operasi militer Israel.
Hasil Survei: Desakan Penghentian Penjualan Senjata ke Israel
Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di kelima negara yang disurvei percaya bahwa perusahaan senjata harus menghentikan atau mengurangi perdagangan dengan Israel. Spanyol menunjukkan dukungan tertinggi untuk penghentian total penjualan senjata, dengan 58 persen responden menyatakan bahwa penjualan harus dihentikan sepenuhnya, diikuti oleh Yunani sebesar 57 persen dan Kolombia sebesar 52 persen.
Angka-angka ini mencerminkan sentimen yang kuat di Eropa dan Amerika Latin untuk mengakhiri pasokan senjata yang digunakan dalam genosida Israel di Gaza.
Di Brasil, 37 persen responden percaya bahwa perusahaan senjata harus sepenuhnya menghentikan penjualan ke Israel, sementara 22 persen lainnya percaya bahwa penjualan harus dikurangi. Di Afrika Selatan, tingkat dukungan untuk penghentian total mencapai 46 persen, dengan 20 persen mendukung pengurangan penjualan.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun persentase untuk penghentian total bervariasi, ada konsensus yang signifikan di antara responden di seluruh benua untuk setidaknya mengurangi aliran senjata ke Israel.
Secara keseluruhan, temuan ini menggarisbawahi adanya dukungan luas di kalangan masyarakat untuk mengakhiri atau mengurangi penjualan senjata ke Israel, yang merupakan respons terhadap berlanjutnya serangan di Gaza. Angka-angka ini memberikan bukti kuat bahwa opini publik global semakin menuntut tindakan nyata dari pemerintah dan perusahaan untuk menghentikan apa yang mereka anggap sebagai keterlibatan dalam konflik.
Penolakan Terhadap Genosida Israel di Gaza
Selain pertanyaan tentang penjualan senjata, survei juga mengukur tingkat kecaman terhadap tindakan Israel di Gaza seiring dengan meningkatnya krisis kemanusiaan. Kecaman terhadap tindakan militer Israel di Gaza adalah yang tertinggi di Yunani dan Spanyol, dan terendah di Brasil.
Sebanyak 61 persen di Yunani dan 60 persen di Spanyol secara tegas menentang "tindakan militer" Israel saat ini di Gaza, menunjukkan tingkat penolakan yang sangat tinggi di kedua negara Eropa tersebut.
Di Kolombia, 50 persen responden menentang tindakan tersebut, menunjukkan bahwa sentimen serupa juga kuat di Amerika Latin. Sementara itu, di Brasil dan Afrika Selatan, 30 persen responden menentang perang Israel, dengan 33 persen dan 20 persen masing-masing mendukung kampanye tersebut.
Perbedaan persentase ini mungkin mencerminkan nuansa politik dan sejarah masing-masing negara, namun secara keseluruhan menunjukkan adanya penolakan yang signifikan terhadap operasi militer Israel.
Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat di negara-negara yang disurvei tidak hanya ingin menghentikan penjualan senjata, tetapi juga secara fundamental menentang tindakan militer Israel di Gaza.
Persepsi bahwa Israel melanggar hak asasi manusia di Gaza juga sangat tinggi, dengan mayoritas pemilih di Inggris, misalnya, percaya bahwa pemerintah Israel melanggar hak asasi manusia di Gaza.
Dukungan Publik untuk Tekanan Ekonomi dan Politik
Survei ini juga mengeksplorasi dukungan publik terhadap keputusan tingkat negara untuk mengurangi perdagangan senjata, bahan bakar, dan barang-barang lainnya sebagai upaya menekan Israel agar menghentikan perang. Di Spanyol, 41 persen responden menyatakan akan "sangat" mendukung keputusan tingkat negara untuk mengurangi perdagangan senjata, bahan bakar, dan barang lainnya dalam upaya menekan Israel menghentikan perang.
Angka ini menunjukkan kesediaan yang kuat dari masyarakat untuk melihat pemerintah mereka mengambil tindakan ekonomi yang tegas.
Dukungan serupa juga terlihat di Kolombia dan Afrika Selatan, di mana angka tersebut mencapai 33 persen di masing-masing negara. Sementara itu, di Yunani dan Brasil, dukungan untuk tindakan semacam itu masing-masing sebesar 28 persen dan 24 persen.
Meskipun angkanya bervariasi, persentase ini menunjukkan bahwa ada basis dukungan yang signifikan di kelima negara untuk penggunaan tekanan ekonomi sebagai alat untuk mempengaruhi kebijakan Israel.
Ana Sanchez, seorang juru kampanye untuk Global Energy Embargo for Palestine, menyatakan bahwa masyarakat telah berbicara dan mereka menolak untuk menjadi kaki tangan.
"Di seluruh benua, warga biasa menuntut diakhirinya bahan bakar yang menggerakkan kolonialisme pemukim, apartheid, dan genosida," kata Sanchez, menekankan bahwa ini bukan hanya tentang perdagangan, tetapi tentang kekuatan rakyat untuk memutus jalur pasokan penindasan.
Reaksi dan Implikasi Global
Hasil survei ini muncul di tengah meningkatnya kecaman internasional terhadap genosida Israel di Gaza, yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah. Lebih dari 60.000 orang telah tewas di Gaza, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, dan wilayah tersebut kini memiliki jumlah anak yang diamputasi per kapita tertinggi di dunia.
Kondisi ini telah meningkatkan pengawasan terhadap para pedagang senjata dan perusahaan yang memfasilitasi kesepakatan mereka.
Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa dana kekayaan dan dana pensiun telah menjauhkan diri dari perusahaan-perusahaan yang terkait dengan perang Israel di Gaza atau pendudukan ilegalnya di Tepi Barat. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari opini publik, tetapi juga dari entitas keuangan yang semakin menyadari risiko reputasi dan etika.
Implikasi dari survei ini adalah bahwa pemerintah dan perusahaan mungkin akan menghadapi tekanan yang lebih besar untuk meninjau kembali kebijakan mereka terkait penjualan senjata dan hubungan ekonomi dengan Israel.
David Adler dari Progressive International menegaskan bahwa pesan dari masyarakat dunia sangat jelas: mereka menginginkan tindakan untuk mengakhiri serangan di Gaza, bukan hanya kata-kata.
"Di seluruh benua, mayoritas menyerukan pemerintah mereka untuk menghentikan penjualan senjata dan menahan pendudukan Israel," tambahnya, menunjukkan bahwa survei ini dapat menjadi katalisator bagi perubahan kebijakan di tingkat internasional.