Teknologi Pemantauan Keanekaragaman Hayati Berbasis AI, Begini Cara Kerjanya
Teknologi ini telah diimplementasikan di berbagai area program hutan lestari yang dikelola untuk mendukung rehabilitasi lahan kritis di kawasan hutan.
Pertamina Foundation menghadirkan inovasi PF-Lestari sebagai sistem pemantauan keanekaragaman hayati berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S Asngari mengatakan, PF-Lestari didukung teknologi AI dan analisis spasial, sehingga mampu mengukur indeks kesehatan vegetasi, mendeteksi perubahan tutupan lahan, hingga melakukan estimasi jumlah pohon.
"Di tengah meningkatnya kebutuhan transparansi, akurasi pelaporan, serta implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG), Pertamina Foundation menghadirkan inovasi sistem pemantauan keanekaragaman hayati berbasis AI bernama PF-Lestari," ujarnya dikutip dari Antara, Senin (6/7).
Agus melanjutkan, platform ini juga didukung fitur pemetaan presisi, yang memungkinkan pengguna mengamati profil tutupan lahan dan topografi secara lebih komprehensif.
Dengan beragam fitur tersebut, PF-Lestari mampu mempermudah inventarisasi digital jenis tanaman, riwayat perawatan, hingga memetakan potensi awal penyerapan karbon di area penanaman.
Agus juga menambahkan inovasi PF-Lestari berangkat dari tantangan pengelolaan data kehati yang tidak terpusat hingga sulitnya mendapatkan visualisasi kondisi aktual secara berkala. "Melalui PF-Lestari, kami mengintegrasikan proses pemantauan, analisis, dan pelaporan agar berjalan lebih efisien dan akurat," ujarnya.
Saat ini, menurut Agus, PF-Lestari telah diimplementasikan di berbagai area program hutan lestari yang dikelola untuk mendukung rehabilitasi lahan kritis di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK).
Dengan teknologi yang dimiliki, PF-Lestari mendukung pendataan penanaman pohon endemik dan multi-purpose tree species (MPTS), sekaligus memperkuat fungsi riset serta edukasi kehutanan.
Punya Dashboard Terintegrasi
PF-Lestari juga memiliki dashboard terintegrasi juga memungkinkan pengelolaan data lapangan, estimasi keberhasilan tumbuh (survival rate), hingga potensi cadangan karbon menjadi lebih efisien, dan proses evaluasi program yang lebih terukur dan akuntabel.
"Potensi PF-Lestari menghasilkan value creation Rp2,19 miliar, didukung oleh replikasi internal, ekspansi ke Pertamina Group, dan komersialisasi eksternal," ucap Agus.
Inovasi PF-Lestari pun diapresiasi dalam ajang Annual Pertamina Quality Award (APQA) 2026 dengan meraih predikat Platinum kategori PC-Prove.
"Ini merupakan kali pertama Pertamina Foundation berpartisipasi dalam APQA dan langsung berhasil meraih predikat Platinum," jelasnya.
Inovasi untuk Standar Kualitas Tinggi
Pencapaian ini, lanjutnya, menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan telah memenuhi standar kualitas tinggi, sekaligus memotivasi untuk terus berinovasi dalam mendukung program lingkungan yang lebih akuntabel dan berkelanjutan.
"Melalui pemanfaatan PF-Lestari, inisiatif pelestarian lingkungan diharapkan semakin kuat dari sisi perencanaan hingga pelaporan," sebutnya.
Data yang terdokumentasi ini, tambah Agus, juga sejalan dengan Astacita terkait penguatan ketahanan lingkungan, serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).