Indonesia dan Norwegia Tinjau Progres Rehabilitasi Hutan FOLU Net Sink 2030 di Kalimantan Selatan
Kolaborasi Indonesia dan Norwegia terus menunjukkan kemajuan dalam program Rehabilitasi Hutan FOLU Net Sink 2030. Simak bagaimana upaya ini memberikan dampak positif di Kalimantan Selatan.
Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Indonesia bersama Unit Manajemen Proyek untuk Kontribusi Norwegia (PMU-NC) pada Jumat lalu melakukan peninjauan rehabilitasi hutan dan lahan. Peninjauan ini merupakan bagian dari program Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Lokasi yang menjadi fokus peninjauan berada di Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Kegiatan monitoring bersama ini mencakup area seluas 82,86 hektar lahan yang telah direhabilitasi. Sebanyak 17,26 hektar berada di Desa Tanah Habang, Kecamatan Batang Alai Selatan, dan 65,6 hektar lainnya di Desa Tapuk, Kecamatan Limpasu. Data ini dihimpun berdasarkan keterangan dari Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan.
Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur efektivitas upaya rehabilitasi yang telah dilakukan oleh kelompok tani hutan setempat. Selain itu, peninjauan juga mengidentifikasi kebutuhan pemeliharaan guna memastikan manfaat lingkungan dan sosial ekonomi jangka panjang. Hal ini krusial untuk keberlanjutan program Rehabilitasi Hutan FOLU Net Sink 2030.
Verifikasi Lapangan dan Indikator Keberhasilan Program
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, Alip Winarto, memimpin tim verifikasi lapangan di Hulu Sungai Tengah. Tim ini bertugas mengevaluasi kondisi tanaman, laju pertumbuhan, dan perkembangan vegetasi di seluruh lokasi rehabilitasi. Verifikasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan keberhasilan program.
Winarto menjelaskan bahwa peninjauan lokasi dilakukan untuk memastikan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, tujuan lainnya adalah untuk menentukan tingkat kelangsungan hidup tanaman. Tingkat kelangsungan hidup tanaman ini berfungsi sebagai indikator kunci pencapaian program Rehabilitasi Hutan FOLU Net Sink 2030.
Melalui evaluasi ini, diharapkan dapat teridentifikasi area-area yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Ini termasuk kebutuhan pemeliharaan spesifik untuk jenis tanaman tertentu atau wilayah yang menunjukkan tantangan dalam pertumbuhan. Hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk perbaikan strategi di masa mendatang.
Manfaat Ekonomi dan Ekologi melalui Sistem Tumpang Sari
Inisiatif rehabilitasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat. Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas tutupan lahan, kelompok tani hutan di Hulu Sungai Tengah juga berpotensi memperoleh pendapatan tambahan. Pendapatan ini berasal dari komoditas yang dikembangkan melalui kegiatan rehabilitasi.
Di lokasi Tanah Habang, para petani telah menanam pohon karet jenis IRR 112, durian Bawor, dan mahoni. Sementara itu, area rehabilitasi di Desa Tapuk menampilkan pohon karet IRR 112, durian Bawor, dan lengkeng. Pemilihan jenis tanaman ini didasarkan pada nilai ekologis dan ekonomisnya, mendukung keberlanjutan program Rehabilitasi Hutan FOLU Net Sink 2030.
Sebagian besar area rehabilitasi menggunakan sistem tumpang sari. Sistem ini mengombinasikan spesies pohon dengan tanaman jangka pendek seperti cabai, tomat, terong, dan komoditas hortikultura lainnya. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mendukung mata pencarian lokal.
Sistem tumpang sari memungkinkan masyarakat untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek. Pendapatan ini diperoleh sambil menunggu tanaman utama menjadi produktif. Hal ini secara signifikan mendukung mata pencarian sekaligus restorasi ekosistem hutan yang lebih luas.
Komitmen Jangka Panjang untuk Target Emisi Nasional
Pendekatan yang diterapkan dalam program Rehabilitasi Hutan FOLU Net Sink 2030 ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan. Namun juga mempertimbangkan dimensi sosial ekonomi masyarakat. Keterlibatan aktif kelompok tani hutan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan berharap kelompok tani yang berpartisipasi dalam Fase II dan III program FOLU Net Sink 2030 akan terus memelihara perkebunan. Pemeliharaan berkelanjutan ini penting untuk menjaga hasil rehabilitasi. Ini juga berkontribusi pada target pengurangan emisi kehutanan jangka panjang Indonesia.
Komitmen terhadap pemeliharaan dan keberlanjutan program ini akan memastikan bahwa investasi dalam rehabilitasi hutan memberikan dampak maksimal. Ini sejalan dengan upaya nasional untuk mencapai target net sink dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya pada tahun 2030.
Sumber: AntaraNews