Pemerintah pusat secara aktif mendorong Provinsi Papua Pegunungan (Papeg) untuk menjadi pelindung utama hutan tropis Indonesia dan dunia. Upaya ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam menyerap emisi gas karbon dan mendukung agenda iklim global.
Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Perubahan Iklim, Prof. Haruni Krisnawati, menyatakan bahwa kondisi hutan di Papua Pegunungan masih sangat baik. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis di Wamena pada Minggu, 21 Juni, menyoroti potensi besar wilayah tersebut.
Dengan lebih dari 80 persen hutannya yang terjaga, Papua Pegunungan diharapkan menjadi benteng penting. Hal ini mengacu pada pemaparan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Papua Pegunungan, Wasuok D. Siep, yang menunjukkan komitmen daerah terhadap kelestarian lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Peran Strategis Papua Pegunungan dalam Konservasi Hutan
Papua Pegunungan memiliki peran strategis yang krusial dalam konservasi hutan tropis. Kondisi hutan di provinsi ini, yang lebih dari 80 persennya masih terjaga dengan baik, menjadikannya aset berharga dalam upaya global mengurangi emisi gas rumah kaca.
Prof. Haruni Krisnawati menekankan pentingnya keterlibatan langsung Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan delapan kabupaten di dalamnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan percepatan pembangunan tetap mengedepankan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial secara seimbang.
Harapan besar diletakkan agar setiap pembangunan di Papua Pegunungan senantiasa menjaga keseimbangan ketiga aspek tersebut. Dengan demikian, hutan tetap terawat baik, percepatan pembangunan terus berjalan, dan masyarakat dapat hidup sejahtera.
Advertisement
Data menunjukkan bahwa Papua Pegunungan memiliki kawasan hutan seluas sekitar 5,12 juta hektare, tersebar di delapan kabupaten. Kawasan ini mencakup sekitar 98 persen dari total luas wilayah provinsi, menjadikannya salah satu bentang hutan tropis terpenting di Indonesia.
Advertisement
Indonesia's FOLU Net Sink 2030 dan Dukungan Internasional
Program Indonesia's FOLU Net Sink 2030 merupakan inisiatif nasional yang menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyerap karbon bersih pada tahun 2030. Ini berarti jumlah emisi yang dihasilkan akan lebih kecil dibandingkan karbon yang diserap oleh ekosistem hutan, gambut, dan mangrove.
Setelah rencana kerja subnasional Indonesia's FOLU Net Sink 2030 terbentuk, Papua Pegunungan berpotensi besar menjadi daerah percontohan. Pengelolaan hutan secara lestari di wilayah ini diharapkan dapat menarik dukungan signifikan dari tingkat nasional maupun internasional.
Prof. Haruni menambahkan bahwa sektor kehutanan memegang peranan vital dalam mendukung target pengurangan emisi Indonesia. Hampir 60 persen target pengurangan emisi gas rumah kaca dibebankan kepada sektor FOLU (Forestry and Other Land Use).
Advertisement
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama erat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah Papua Pegunungan, pihak swasta, akademisi, kelompok masyarakat, serta media. Sinergi ini krusial untuk mencapai target pengurangan emisi yang ambisius tersebut.
Sumber: AntaraNews