Dorong Keberlanjutan, Industri Kesehatan RI Gencar Pemanfaatan Energi Surya
Inovasi Pemanfaatan Energi Surya Industri Kesehatan di Indonesia semakin masif, menjadi solusi strategis untuk menekan emisi karbon sekaligus menjaga operasional yang stabil. Simak selengkapnya.
Industri kesehatan di Indonesia menunjukkan komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan dengan mengadopsi energi surya sebagai sumber tenaga utama. Langkah ini merupakan respons terhadap tuntutan global untuk mengurangi emisi karbon. Pemanfaatan energi terbarukan ini juga memperkuat ekosistem manufaktur yang berkelanjutan dan efisien di sektor kesehatan.
Salah satu pelopornya adalah PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI), perusahaan manufaktur produk kesehatan yang telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) On Grid sejak Februari 2026. PLTS berkapasitas 777,98 kilowatt peak (kWp) ini terpasang pada fasilitas produksi mereka di Jakarta Timur. Inisiatif ini menandai era baru bagi industri kesehatan di tanah air.
Presiden Direktur PT IHI, Teerasak Lueuwirat, menyatakan bahwa pemanfaatan tenaga surya adalah strategi operasional jangka panjang untuk menekan emisi karbon tanpa mengorbankan standar kualitas produk. Transisi energi ini krusial mengingat sektor kesehatan membutuhkan pasokan energi yang stabil untuk menjaga fasilitas vital seperti ruang bersih dan sistem pendingin.
Inovasi PT IHI dalam Pemanfaatan Energi Surya Industri Kesehatan
PT IHI membuktikan bahwa Pemanfaatan Energi Surya Industri Kesehatan dapat berjalan selaras dengan standar kualitas tinggi. Perusahaan ini menghadapi tantangan unik karena harus menjaga keandalan operasional untuk fasilitas seperti cleanroom, laboratorium, dan sistem pendingin yang membutuhkan pasokan energi stabil. Oleh karena itu, penerapan energi terbarukan tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga pada jaminan keandalan operasional.
PLTS yang terpasang di fasilitas PT IHI diproyeksikan mampu menghasilkan energi sebesar 1.012.503 kilowatt jam (kWh) per tahun. Jumlah energi ini secara signifikan mendukung kebutuhan operasional utama perusahaan. Ini termasuk pengolahan air, sistem pendingin, pencahayaan, fasilitas produksi, hingga area pergudangan, memastikan seluruh proses berjalan lancar dan efisien.
Sistem instalasi tenaga surya ini diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon hingga 787,73 ton karbon dioksida setiap tahun. Angka ini setara dengan dampak positif penanaman lebih dari 13.000 pohon. Untuk mengoptimalkan kinerja energi hijau ini, PT IHI juga mengintegrasikannya dengan sistem digitalisasi berbasis pemantauan waktu real-time, menunjukkan komitmen penuh terhadap efisiensi dan keberlanjutan.
Dukungan Pemerintah dan Tren Global Pemanfaatan Energi Terbarukan
Pemanfaatan Energi Surya Industri Kesehatan tidak hanya menjadi inisiatif lingkungan, tetapi juga strategi bisnis untuk meningkatkan daya saing global. CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar, mengamati pergeseran tren positif ini. Ia menilai bahwa industri manufaktur produk kesehatan memiliki kebutuhan energi yang sangat kritikal, menuntut standar kualitas dan keandalan tinggi dalam operasionalnya.
Pergeseran ini sejalan dengan dorongan pemerintah Indonesia untuk mengajak masyarakat dan sektor swasta beralih ke energi ramah lingkungan. Tujuannya adalah menjaga kenaikan suhu global sedekat mungkin pada batas 1,5 derajat Celcius, sesuai dengan dokumen Paris Agreement. Pemerintah Indonesia mewujudkan komitmen ini melalui dokumen iklim Second NDC 2030.
Dokumen iklim Second NDC merupakan peta jalan nasional untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Target penurunan emisi yang ditetapkan adalah 31,89 persen dengan usaha sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional. Pemanfaatan PLTS di fasilitas kesehatan, seperti yang dilakukan PT IHI, menjadi contoh nyata transformasi energi di Indonesia. Ini mendukung terciptanya industri kesehatan yang lebih efisien, kompetitif, dan ramah lingkungan.
Sumber: AntaraNews