UGM Perkuat Respons Pascabanjir Aceh: Energi Surya dan Ratusan Hunian Sementara Jadi Fokus Utama

Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan strategi berlapis untuk memberikan UGM Bantuan Banjir Aceh, fokus pada penyediaan energi surya dan pembangunan hunian sementara bagi korban terdampak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
UGM Perkuat Respons Pascabanjir Aceh: Energi Surya dan Ratusan Hunian Sementara Jadi Fokus Utama
Universitas Gadjah Mada (UGM) merespons dampak banjir di Aceh secara berlapis, menyediakan energi surya portabel dan membangun ratusan hunian sementara untuk membantu UGM Bantu Korban Banjir Aceh pulih dari bencana. (AntaraNews)

Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen kuat dalam respons bencana pascabanjir Aceh dengan strategi berlapis yang terpadu. Dukungan ini mencakup penyediaan energi surya dan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak. Inisiatif UGM ini bertujuan mempercepat pemulihan di wilayah yang dilanda bencana.

Perwakilan Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Rachmawan Budiarto, menjelaskan bahwa dukungan energi surya sangat vital. Hal ini membantu menjaga aktivitas masyarakat tetap berlangsung dalam kondisi darurat pascabanjir. Tim PSE UGM juga memberikan pendampingan teknis di lapangan, memastikan pemanfaatan listrik berjalan optimal dan aman.

Sementara itu, Ir. Ashar Saputra, Ph.D., dari Fakultas Teknik UGM, menguraikan program hunian sementara. Program ini dirancang untuk mengatasi kerusakan rumah warga yang berskala besar dan tersebar luas. UGM Bantuan Banjir Aceh ini menjadi bagian integral dari strategi pemulihan jangka menengah berbasis sumber daya lokal.

Pada fase awal tanggap darurat, keterbatasan akses listrik menjadi tantangan utama di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor. Menyadari hal ini, PSE UGM menyalurkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) portabel sejak 28 Desember 2025. Penyaluran PLTS portabel ini difokuskan pada wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah yang mengalami gangguan pasokan listrik pasca-bencana.

Penyaluran PLTS portabel dilakukan di beberapa lokasi krusial seperti Pantan Kemuning, Timang Gajah, Simpur di Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, serta Takengon, Aceh Tengah. PLTS portabel yang disalurkan memiliki kapasitas 200 watt peak (WP). Perangkat ini diberikan dalam tiga paket utama, dirancang modular agar mudah dipasang dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Rachmawan Budiarto menegaskan, "Dukungan energi surya membantu menjaga aktivitas masyarakat tetap berlangsung dalam kondisi darurat." Pendampingan pemasangan dan pengoperasian di lapangan oleh Tim PSE UGM memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan energi surya ini. Inisiatif energi surya ini menjadi solusi cepat untuk kebutuhan listrik mendesak.

Selain energi, UGM juga memperluas intervensi perbaikan hunian ke wilayah Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Awalnya, pihak universitas berencana membangun 100 huntara, namun skala program diperluas hingga 550 hunian sementara. Pembangunan huntara ini memanfaatkan kayu hanyut sebagai bahan baku utama, mencerminkan pendekatan berbasis sumber daya lokal.

Ir. Ashar Saputra, Ph.D., menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menjawab kerusakan rumah warga yang berskala besar dan tersebar. "Di Aceh Utara, tercatat sekitar 430 rumah mengalami rusak berat akibat banjir. Dari jumlah tersebut, direncanakan pembangunan 330 unit huntara di wilayah ini," ujarnya. Sebanyak 120 unit lainnya disiapkan untuk wilayah Aceh Tamiang.

Setiap hunian dirancang berukuran 6x6 meter, dilengkapi dengan dua kamar tidur, satu ruang multifungsi, dan teras. Kebutuhan kayu diperkirakan sekitar 4 meter kubik untuk rumah tanpa lantai panggung dan 5 meter kubik untuk rumah dengan lantai panggung. Material pendukung seperti atap galvalum, paku, baut, dan mur disuplai dari luar lokasi untuk memastikan kualitas dan ketahanan hunian.

Pelaksanaan program UGM Bantuan Banjir Aceh ini melibatkan kolaborasi erat dengan berbagai pihak. UGM bekerja sama dengan Rumah Zakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Kementerian Kehutanan. Kementerian Kehutanan berperan penting terutama dalam penyediaan serta pengelolaan material kayu, memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku.

Hingga pertengahan Januari 2026, progres pembangunan hunian sementara menunjukkan hasil yang positif. Sebanyak 18 rumah telah masuk tahap pembangunan, dan satu rumah telah selesai serta ditempati oleh warga terdampak. Penentuan penerima hunian dilakukan melalui musyawarah warga, dengan mempertimbangkan kelompok rentan sebagai prioritas utama.

Kolaborasi multipihak ini mempercepat upaya pemulihan dan memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran. UGM terus berkomitmen mendukung masyarakat Aceh dalam menghadapi dampak pascabencana, baik melalui solusi energi maupun penyediaan tempat tinggal yang layak dan aman.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi