Tak Bisa Dipegang Janjinya, Israel Terus Melanggar & Membunuh Warga Palestina di Tengah Gencatan Senjata Gaza
Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan membunuh warga Palestina di Gaza, meski perjanjian sudah ditandatangani.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati, Israel terus melakukan pelanggaran serius terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Sejak perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada 10 Oktober 2025, laporan dari kantor media Gaza menunjukkan bahwa Israel telah melakukan 47 pelanggaran yang mencakup serangan udara dan penembakan artileri.
Akibatnya, 38 warga Palestina tewas dan 143 lainnya terluka dalam serangkaian insiden yang merusak harapan akan perdamaian. Demikian dikutip dari Anadulu Agency, Minggu (19/10/2025).
Kantor Media Gaza melaporkan bahwa dari 47 pelanggaran tersebut, terdapat 12 serangan udara, 29 penembakan artileri, dan enam serangan darat. Pelanggaran ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah ada di wilayah tersebut.
Selain itu, penutupan penyeberangan Rafah oleh Israel menghalangi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.
Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) juga mencatat bahwa sejak gencatan senjata, terdapat 129 insiden penembakan oleh pasukan Israel yang mengakibatkan 34 warga Palestina tewas. Serangan paling mematikan terjadi ketika sebuah tank Israel menembaki kendaraan sipil, menewaskan 11 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak dan tiga wanita.
Skala Pelanggaran Gencatan Senjata
Sejak perjanjian gencatan senjata ditandatangani, Israel telah melakukan 47 pelanggaran yang mencolok. Menurut laporan dari kantor media Gaza, pelanggaran ini termasuk 12 serangan udara, 29 penembakan artileri, dan enam serangan darat ke Jalur Gaza.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesepakatan untuk menghentikan permusuhan, tindakan agresif Israel terus berlanjut.
Akibat dari pelanggaran ini, sementara 38 warga Palestina tewas dan 143 lainnya mengalami luka-luka. Laporan tersebut menegaskan bahwa pelanggaran ini mencakup penembakan langsung terhadap warga sipil, yang seharusnya dilindungi di bawah hukum internasional.
Kantor Media Gaza menyerukan kepada organisasi hak asasi manusia internasional untuk mendokumentasikan pelanggaran ini dan mendesak Israel agar menghentikannya.
Serangan Mematikan dan Krisis Kemanusiaan
Pasukan Israel terus melancarkan serangan mematikan di seluruh Jalur Gaza, meskipun ada perjanjian gencatan senjata. Tareq Abu Azzoum, reporter Al Jazeera, melaporkan bahwa suara tembakan masih terdengar di Deir el-Balah, menunjukkan bahwa pasukan Israel masih menembaki setiap pergerakan di dekat posisi mereka. Ini menciptakan suasana ketegangan yang terus-menerus di wilayah tersebut.
Penutupan penyeberangan Rafah oleh otoritas Israel semakin memperburuk situasi. Penutupan ini menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan dan keluarnya orang-orang yang terluka, sehingga memperburuk penderitaan warga Gaza.
Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena pasokan penting tidak dapat masuk dan mereka yang membutuhkan perawatan medis mendesak tidak dapat keluar.
Hamas Kembalikan Jenazah Tawanan Israel
Hamas kini telah mengembalikan 12 dari 28 jenazah tawanan yang ditahan di Gaza, tuntutan utama Israel dalam kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung seminggu untuk mengakhiri perang dua tahun.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Hamas wajib memulangkan semua tawanan Israel – baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal – dalam waktu 72 jam setelah penandatanganan. Sebagai imbalannya, Israel wajib membebaskan 360 jenazah warga Palestina dan sekitar 2.000 tawanan. Demikian dikutip dari Aljazeera.
Hamas mengatakan kehancuran yang meluas di wilayah Palestina dan kontrol berkelanjutan militer Israel terhadap beberapa bagian Gaza telah memperlambat pemulihan jenazah.
Hani Mahmoud dari Al Jazeera, melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan otoritas Palestina tidak memiliki peralatan memadai untuk membantu pencarian jenazah para tawanan di bawah reruntuhan bangunan.
“Sangat sulit, dengan tim evakuasi di lapangan menghadapi tantangan luar biasa. (Mereka) tidak punya buldoser, truk, derek, dan alat berat… untuk mempercepat proses dan membantu evakuasi serta pemulangan jenazah,” ujar Mahmoud.
Hamdah Salhut dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Amman, Yordania, karena Al Jazeera dilarang di Israel dan Tepi Barat yang diduduki. mengatakan pemerintah Netanyahu telah mengetahui "sejak beberapa waktu" bahwa pemulihan jenazah para tawanan akan menjadi "tugas yang sangat sulit dan berat".
"Namun, Netanyahu menuduh Hamas tidak berbuat cukup banyak untuk mengembalikan jenazah ke-28 orang tersebut, dan mengatakan bahwa semua jenazah perlu segera dikembalikan," kata Salhut.
"Sampai hal itu terjadi, barulah Israel akan menghormati lebih banyak komitmen gencatan senjata, seperti mengizinkan masuknya lebih banyak bantuan kemanusiaan, dan membicarakan pembukaan perbatasan Rafah," ujarnya.
Hamas Kecam Israel Melanggar Gencatan Senjata
Pada hari Sabtu, Hamas menuduh pemerintah Netanyahu "mengarang dalih yang lemah" untuk tidak menindaklanjuti komitmennya terhadap perjanjian damai, serta mengecam penolakan Israel untuk membuka perlintasan Rafah dengan Mesir sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap perjanjian tersebut.
Pada hari Jumat, pasukan Israel menewaskan 11 anggota satu keluarga, termasuk tujuh anak-anak, dalam serangan di sebelah timur Kota Gaza.
Kedutaan Besar Palestina di Mesir mengumumkan sebelumnya pada hari Sabtu bahwa perlintasan Rafah , pintu gerbang utama bagi warga Gaza untuk meninggalkan dan memasuki wilayah kantong itu, akan dibuka kembali pada hari Senin.
Namun Netanyahu mengatakan penyeberangan perbatasan akan tetap ditutup sampai Hamas menyerahkan jenazah semua tawanan yang meninggal.
Pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza juga masih lambat meskipun ada kesepakatan gencatan senjata.
Pada hari Sabtu, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan pihaknya memiliki cukup pasokan makanan kemanusiaan untuk memberi makan Gaza selama tiga bulan, tetapi truk yang membawa kargo penyelamat tidak dapat memasuki Gaza dan terjebak di gudang-gudang di Yordania dan Mesir.
"Kita harus diizinkan untuk mengirimkan semua bantuan ini ke Gaza tanpa penundaan," kata UNRWA, seraya menambahkan bahwa mereka juga memiliki peralatan untuk menyediakan tempat berlindung bagi sekitar 1,3 juta orang.
Seruan untuk Tindakan Internasional
Kantor Media Gaza mendesak komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas pelanggaran yang dilakukan terhadap rakyat Palestina. Seruan ini mencerminkan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza.
Tanpa adanya tekanan internasional, pelanggaran ini kemungkinan akan terus berlanjut, menambah penderitaan warga sipil yang sudah terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Komunitas internasional diharapkan dapat mengambil langkah konkret untuk menghentikan pelanggaran ini dan melindungi warga sipil. Hanya dengan tindakan tegas, harapan akan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut dapat terwujud.