Teror Pocong Begal di Jateng Ternyata Hoaks, Penyebar Konten Diburu Polisi
Hasil penelusuran sementara kepolisian menunjukkan bahwa teror 'pocong begal' itu merupakan penggunaan ulang video maupun foto pelbagai platform media sosial.
Beredar video dan pesan berantai di media sosial berisi teror 'pocong begal' membawa senjata tajam di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Hasil penelusuran sementara kepolisian menunjukkan bahwa teror 'pocong begal' itu merupakan penggunaan ulang video maupun foto di pelbagai platform media sosial.
Narasi tersebut diganti atau keterangan lokasi kejadian seolah-olah terjadi di wilayah berbeda seperti Grobogan, Kendal, Magelang, maupun Cilacap.
"Dari hasil patroli siber dan pengecekan lapangan yang dilakukan jajaran kepolisian, ditemukan indikasi bahwa video maupun foto yang sama disebarluaskan berulang kali dengan mengganti caption lokasi kejadian demi viralitas maupun keuntungan pribadi tertentu," kata Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto, Rabu (27/5).
Hasil Penyelidikan Polisi
Kepolisian menindaklanjuti kejadian teror pocong begal langsung melakukan pengecekan di lokasi kejadian. Hasil penelusuran bahwa sebagian besar informasi tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Kondisi di wilayah-wilayah yang disebut dalam narasi viral tersebut hingga saat ini tetap aman, tertib, dan kondusif serta tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerugian material terkait isu tersebut. Jadi informasinya itu konten lama disebarkan memicu keresahan masyarakat," ujar Artanto.
Selain itu, Direktorat Siber Polda Jateng juga tengah melakukan penelusuran terhadap akun-akun diduga menjadi penyebar utama konten hoaks tersebut.
“Apabila ditemukan unsur kesengajaan dalam penyebaran konten yang menimbulkan teror psikologis, keresahan, maupun keonaran di tengah masyarakat, tentu akan kami tindak tegas sesuai ketentuan Undang-Undang ITE yang berlaku,” ujar dia.
Masyarakat Diminta Cek Informasi
Kepolisian meminta masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi belum terverifikasi.
"Kami mengimbau masyarakat Jawa Tengah agar tidak mudah percaya dan tidak ikut menyebarluaskan video maupun informasi yang belum jelas kebenarannya, baik melalui grup WhatsApp maupun media sosial lainnya," pungkasnya.