Lebih dari 120 kardinal dan uskup dari berbagai negara di Asia berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Uskup Asia (Federation of Asian Bishops' Conferences/FABC). Pertemuan yang berlangsung pada 20-26 Juli 2026 itu dihadiri perwakilan dari 22 konferensi waligereja dan wilayah gerejawi di Asia.
Sidang Pleno XII FABC mengangkat tema The Call to Synodal Conversion and the Mission of Being Bridges and Bridge-Builders in Asia atau Seruan untuk Pertobatan Sinodal dan Misi Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia.
"Dengan senang hati saya menyambut Anda di Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Uskup Asia (FABC), yang berlangsung di Jakarta, Indonesia, dari 20 hingga 26 Juli 2026," kata Juru Bicara Sidang Pleno FABC XII, Uskup Marcelino Antonio "Junie" Malabanan Maralit Jr., dalam keterangan resminya, Selasa (21/7/2026).
Uskup Maralit menjelaskan, sidang pleno kali ini berfokus pada dua hal utama. Pertama, pertobatan sinodal, yakni proses pembaruan pribadi maupun bersama agar Gereja menjadi lebih partisipatif, misioner, transparan, dan responsif terhadap bimbingan Roh Kudus.
Kedua, misi Gereja untuk menjadi jembatan di tengah keberagaman Asia yang memiliki perbedaan budaya, agama, bahasa, dan etnis, sekaligus menghadapi berbagai tantangan seperti kemiskinan, konflik, migrasi, krisis lingkungan, hingga perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Menurutnya, para uskup akan membahas bagaimana Gereja dapat memperkuat dialog, rekonsiliasi, perdamaian, serta penghormatan terhadap martabat manusia melalui pembangunan jembatan, baik di dalam Gereja maupun dengan masyarakat luas.
"Agenda kali ini menjadi ruang refleksi bersama untuk merumuskan langkah nyata Gereja dalam menjawab tantangan zaman, mulai dari kemiskinan, krisis iklim, konflik sosial, migrasi, hingga pembangunan persaudaraan lintas agama," kata Uskup Maralit.
Advertisement
Cari Langkah Nyata Gereja Katolik Asia
Ia menegaskan, Sidang Pleno XII FABC tidak hanya membahas konsep sinodalitas secara teoretis, tetapi juga mencari langkah-langkah konkret agar nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan dan pelayanan Gereja di seluruh Asia.
"Sidang Pleno FABC XII lebih dari sekadar pertemuan para uskup. Ini adalah momen bagi Gereja di Asia untuk berdoa bersama, saling mendengarkan, memahami tanda-tanda zaman, dan mencari cara-cara baru untuk mewartakan Injil di salah satu wilayah yang paling dinamis dan beragam di dunia," katanya.
Uskup Maralit berharap hasil pertemuan tersebut dapat memperkuat semangat persekutuan, partisipasi, dan misi Gereja di Asia.
"Kami berharap pertemuan ini akan memperkuat kesaksian Gereja tentang persekutuan, partisipasi, dan misi, sekaligus menginspirasi umat Katolik di seluruh Asia untuk menjadi jembatan dan pembangun jembatan di dalam keluarga, komunitas, bangsa, dan di antara orang-orang dari berbagai budaya dan agama," pungkasnya.