Hamas Capai Kesepakatan dengan Utusan AS Untuk Gencatan Senjata Permanen dan Penarikan Pasukan Israel dari Gaza
Hamas kini menunggu para mediator dan AS untuk memastikan pelaksanaannya.
Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengumumkan dalam sebuah pernyataan, pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan utusan Amerika Serikat (AS) untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, untuk mengakhiri genosida Israel di Jalur Gaza. Hamas menyatakan, pihaknya dan Witkoff menyepakati kerangkan gencatan senjata permanen.
“Hamas menegaskan kami tengah melakukan upaya signifikan untuk menghentikan perang brutal di Jalur Gaza,” jelas kelompok ini di Telegram, dikutip dari Quds News Network, Kamis (29/5).
“Yang terbaru dari upaya ini adalah mencapai kesepakatan kerangka kerja umum dengan utusan AS Steven Witkoff yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pembentukan komite profesional untuk mengelola urusan Gaza setelah kesepakatan tersebut diumumkan secara resmi.”
“Kesepakatan tersebut mencakup pembebasan sepuluh tahanan Israel dan beberapa jenazah, sebagai imbalan atas pembebasan sejumlah tahanan Palestina yang disepakati, di bawah jaminan mediator internasional. Hamas kini menunggu tanggapan akhir terhadap kerangka kerja ini”, tambahnya.
Pernyataan ini muncul dua hari setelah Hamas mengumumkan pihaknya menerima kesepakatan itu melalui saluran TV Al-Aqsa.
Namun, kebingungan muncul ketika utusan AS Steven Witkoff secara terbuka mengklaim sebaliknya, menyatakan Hamas menolak proposal tersebut sementara Israel menerimanya.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada Al Jazeera, pihaknya menerima proposal Amerika secara penuh dan sekarang terserah kepada para mediator dan AS untuk memastikan pelaksanaannya.
Pernyataan Hamas pada hari Rabu menegaskan kembali bahwa mereka telah melakukan "upaya besar" untuk menghentikan "perang biadab" di Gaza, dan mereka telah bekerja sama dengan para mediator untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri pertempuran dan meringankan penderitaan warga sipil.
Jika kesepakatan itu diselesaikan dan dilaksanakan, itu akan menandai gencatan senjata jangka panjang pertama di Gaza sejak genosida dimulai pada Oktober 2023. Selama 20 bulan genosida, Israel telah membunuh hampir 54.000 warga Palestina, 16.000 di antaranya anak-anak, serta melukai puluhan ribu orang dan mendorong Gaza ke dalam krisis kemanusiaan yang mendalam.
Masyarakat internasional terus menyerukan diakhirinya genosida dan dibukanya akses bantuan tanpa hambatan.