Terus Rayu Donald Trump, Indonesia Harap Dapat Tarif Impor Lebih Baik dari Vietnam
Untuk diketahui, Presiden AS Donald Trump dan jajarannya melunak, dengan hanya mengenakan tarif impor kepada barang-barang Vietnam sebesar 20 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan, Indonesia dan Amerika Serikat (AS) bisa mencapai kesepakatan tarif impor lebih baik daripada Vietnam.
Untuk diketahui, Presiden AS Donald Trump dan jajarannya melunak, dengan hanya mengenakan tarif impor kepada barang-barang Vietnam sebesar 20 persen. Sementara untuk produk dari negara ketiga yang dikirim ulang melalui Vietnam, kena tarif 40 persen.
"Kalau Vietnam kan 20-40 persen. Tentu kita berharap lebih baik dari itu," kata Menko Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (3/7).
Dalam perundingan dengan AS, Indonesia bernegosiasi untuk satu tarif impor saja. Lantaran, Indonesia tidak melakukan praktik transhipment seperti Vietnam, yang jadi pihak ketiga untuk mengirimkan barang dari negara lain.
"Indonesia tidak melakukan transhipment. Jadi itu tidak dibahas dengan Indonesia," ujar Airlangga.
Adapun, selain mendapat keringanan tarif impor dari Amerika Serikat, Vietnam juga bakal mengenakan tarif 0 persen untuk barang-barang yang diimpor dari Negeri Paman Sam.
Pembebasan Bea Masuk
Saat ditanya apakah Indonesia turut menawarkan kebijakan pembebasan bea masuk untuk barang impor dari AS, Airlangga menyatakan, Pemerintah RI sebenarnya telah melakukannya lebih dulu untuk beberapa komoditas.
"Terkait tarif yang kebanyakan impor ke Amerika, tarifnya di bawah 10 persen, bahkan ada yang 0 dan 5 persen. Jadi itu adalah top komoditas yang Indonesia impor dari Amerika," bebernya.
"Detilnya nanti sesudah diumumkan, nanti kita umumkan juga," dia menekankan.
Inggris, China dan Vietnam Sudah Deal dengan AS
Selain Vietnam, Airlangga menyebut negara lain seperti Inggris dan China pun sudah menjalin kesepakatan tarif dengan pihak Washington DC. Oleh karenanya, Pemerintah RI terus menggencarkan negosiasi sebelum deadline per 9 Juli 2025 mendatang.
"Yang belum (deal) lebih dari 100 negara. Yang sudah deal baru UK, China dan Vietnam. China pun baru berlaku sementara, 90 hari," ungkap dia.
"Kesepakatan tarif sudah ada pembicaraan. Nanti kita tunggu saja perkembangannya. Karena ini day-to-day-nya berubah terus," pungkas Airlangga.