Target Rampung Secepatnya, Pemerintah Masih Nego AS agar Baju dan Sepatu RI Bebas Tarif
Meskipun begitu, Edi menekankan bahwa kesepakatan tarif ini harus sama-sama menguntungkan, baik bagi Indonesia maupun Amerika Serikat.
Indonesia masih terus bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) soal pengenaan tarif resiprokal. Pemerintah RI ingin Washington DC melunak dengan memberikan pembebasan tarif dari beberapa barang impor dari Indonesia, seperti baju dan sepatu.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi mengatakan bahwa Amerika Serikat telah mengeluarkan executive order. Sehingga beberapa barang yang tidak diproduksi di Negeri Paman Sam bisa diberikan tarif 0 persen.
Pemerintah RI lantas melihat peluang agar beberapa barang bisa dikenakan tarif lebih kecil dari kesepakatan sebelumnya, sebesar 19 persen. Misalnya produk tekstil dan alas kaki yang dinilai dibutuhkan oleh Amerika Serikat, namun belum tersedia di sana.
"Itu bisa pakaian jadi, sepatu. Selama ini yang dibangun di sana kan lebih kepada industri di atasnya," jelas Edi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (14/11).
Meskipun begitu, Edi menekankan bahwa kesepakatan tarif ini harus sama-sama menguntungkan, baik bagi Indonesia maupun Amerika Serikat. Ia pun berharap kesepakatan bisa terjadi dalam waktu dekat.
"Secepatnya. Makanya kalau bisa mungkin sampai dengan bulan ini bisa selesai, kita dorong selesai bulan ini. Semua tergantung pada fleksibilitas dari Amerika Serikat untuk memahami ini," tutur dia.
"Karena yang paling penting, Indonesia itu bukan penyebab dari defisitnya Amerika, bukan. Indonesia berdagang dengan Amerika dengan cara yang fair juga," tegas Edi.
Terus Berunding
Adapun Indonesia terus berunding dengan AS, sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjatuhkan tarif 19 persen kepada Indonesia pada Agustus 2025.
"Jadi kita kan ini masih proses negosiasi. Kita kan pingin ada komoditas yang tidak diproduksi oleh Amerika itu untuk mendapatkan 0 (persen tarif Trump)," ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso beberapa waktu lalu.
Mulanya, Mendag target kesepakatan tarif untuk beberapa komoditas tersebut bisa diselesaikan sebelum 1 September 2025. Meskipun Trump bakal memberlakukan tarif impor 19 persen mulai 7 Agustus, namun ia meyakini masih ada ruang negosiasi lebih lanjut dengan Washington DC.
Tarif Awal 32 Persen
Ia lantas mengacu pada pemberlakuan tarif awal kepada Indonesia sebesar 32 persen per 2 April 2025. Namun, Trump kemudian mengumumkan penundaan tarif selama 90 hari sejak diumumkan, yang berarti mulai berlaku pada 9 Juli lalu.
Setelah melewati proses negosiasi panjang, akhirnya Indonesia resmi mendapat pengurangan tarif menjadi 19 persen. Dengan permintaan lain, sejumlah barang impor dari AS ke Indonesia akan dipatok tarif 0 persen. Kendati begitu, Indonesia diklaim masih terus melobi Negeri Paman Sam.
"Nah sekarang resiprokal diberlakukan tanggal 7 (Agustus). Sambil kita berunding lagi, karena memang dikasih kesempatan untuk berunding," kata Mendag.