Resmi Diumumkan: Indonesia Nikmati Tarif Ekspor ke AS Paling Rendah se-ASEAN
Sebagai perbandingan, Vietnam dan Filipina masih dikenakan tarif sebesar 20 persen, Malaysia dan Brunei 25 perse, sementara Thailand 30 persen.
Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan kesepakatan dagang penting dengan Amerika Serikat, yang menghasilkan penurunan tarif ekspor produk Indonesia dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pencapaian ini membuat Indonesia menjadi negara dengan tarif ekspor ke AS paling rendah dibandingkan negara-negara ASEAN.
Sebagai perbandingan, Vietnam dan Filipina masih dikenakan tarif sebesar 20 persen, Malaysia dan Brunei 25 perse, sementara Thailand dan Kamboja di atas 30 persen.
"Nah kalau kita lihat angka-angka itu adalah angka yang terendah dibandingkan negara ASEAN yang lain, di mana Vietnam dan Filipina itu sampai saat sekarang adalah 20 persen, Malaysia dan Brunei adalah 25 persen, kemudian Kamboja 36 persen dan Myanmar-Laos sebesar 40 persen. Dibandingkan Thailand juga 36 persen dan Kamboja," kata Airlangga dalam konferensi pers, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (21/7).
Begitupun dibandingkan dengan pesaing untuk tekstil, pengenaan tarif impornya masih lebih besar negara Bangladesh 35 persen, Sri Lanka 30 persen, Pakistan 29 persen dan India 27 persen.
Airlangga mengatakan, tarif impor 19 persen ini merupakan hasil negosiasi tingkat tinggi langsung antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump.
"Kami sudah jelaskan bahwa angka 19 persen itu adalah perjanjian dari negosiasi tingkat tinggi antara Presiden Indonesia Pak Prabowo dan Presiden Amerika Donald Trump. Sehingga angka itu sudah merupakan angka yang final dan bending," ujarnya.
Dia menyebut bahwa kesepakatan ini menandai babak baru dalam kebijakan ekonomi luar negeri Indonesia, yang kini dinilai lebih proaktif dan agresif dalam membangun kemitraan strategis.
Posisi Ekspor Indonesia Makin Kompetitif
Airlangga juga menjelaskan bahwa dari total 11.555 pos tarif, sekitar 60 persen produk Indonesia ke AS sudah mendapatkan bea masuk di bawah 5 persen.
Dengan kesepakatan baru ini, mayoritas dari pos tarif tersebut akan mendekati nol persen, menyamai perlakuan yang sebelumnya hanya diberikan kepada negara-negara mitra FTA seperti ASEAN-China atau CEPA dengan Eropa.
"Nah, dengan adanya perjanjian tersebut, maka Amerika kita perluas menjadi mayoritas menjadi nol persen dan ini sudah kita berikan kepada CEPA-CEPA yang lain," ujarnya.
Strategi Diplomasi Ekonomi Baru
Kesepakatan ini menjadi salah satu capaian konkret dari pendekatan baru Presiden Prabowo dalam menjalankan diplomasi ekonomi.
Kata Airlangga, alih-alih hanya mengandalkan protokol dan kerangka kerja sama jangka panjang, pemerintah kini lebih fokus pada negosiasi konkret yang langsung berdampak terhadap dunia usaha.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Washington beberapa waktu lalu disebut menjadi titik balik yang membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan tarif ini. Airlangga menyebut bahwa selain membahas tarif, kedua kepala negara juga membuka diskusi mengenai isu-isu non-tarif dan potensi investasi lanjutan.