Isi Lengkap 8 Poin Penting Perjanjian Perdagangan Indonesia-AS
Simak delapan poin utama dari Perjanjian Perdagangan antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Indonesia telah resmi menyepakati perjanjian perdagangan dengan tarif timbal balik sebesar 19 persen dengan Amerika Serikat (AS). Dalam kesepakatan ini, terdapat 1.819 pos tarif yang diatur antara kedua negara. Penandatanganan perjanjian yang disebut Agreement on Reciprocal Trade (ART) dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan ini ditandatangani setelah pertemuan Dewan Perdamaian untuk Gaza atau Board of Peace (BoP) yang pertama. "Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerjasama ekonomi," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers daring pada Jumat (20/2/2026).
1. Hapus Hambatan Tarif atau Memberikan Tarif 0%
Indonesia berkomitmen untuk menghapus hambatan tarif pada lebih dari 99% produk yang diekspor dari AS ke Indonesia di semua sektor. Ini termasuk produk pertanian, kesehatan, makanan laut, teknologi informasi dan komunikasi, otomotif, serta bahan kimia.
2. Hapus Hambatan Nontarif
Indonesia juga akan mengatasi berbagai hambatan non-tarif yang ada, seperti membebaskan perusahaan AS dan barang-barang asalnya dari persyaratan kandungan lokal. Selain itu, Indonesia akan menerima standar keselamatan dan emisi kendaraan bermotor federal AS, serta standar FDA untuk alat kesehatan dan farmasi. Langkah-langkah ini mencakup penghapusan persyaratan sertifikasi dan pelabelan yang memberatkan, penghilangan persyaratan pra-pengiriman, serta penyelesaian masalah kekayaan intelektual yang telah berlangsung lama.
3. Bebaskan Produk Pangan dan Pertanian
Indonesia akan menghapus hambatan terhadap penjualan produk pertanian dari AS di pasar domestik. Ini termasuk membebaskan produk pangan dan pertanian dari semua rezim perizinan impor di Indonesia, serta memastikan transparansi dan keadilan dalam hal indikasi geografis, yang mencakup daging, keju, dan produk lainnya.
4. Menghapus Hambatan dalam Perdagangan Digital
Indonesia berkomitmen untuk mengurangi hambatan dalam perdagangan digital. Ini termasuk menghapus tarif HTS pada "produk tidak berwujud", mendukung moratorium permanen untuk bea masuk atas transmisi elektronik di Organisasi Perdagangan Dunia, dan memastikan adanya persaingan yang adil bagi perusahaan layanan pembayaran elektronik asal AS.
5. Bergabung dengan Forum Baja
Indonesia telah bertekad untuk menjadi anggota Global Forum on Steel Excess Capacity. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas global di sektor baja dan dampak yang ditimbulkannya.
6. Meningkatkan Ketahanan Rantai Pasokan
Amerika Serikat dan Indonesia akan berkolaborasi dalam meningkatkan ketahanan rantai pasokan. Kerja sama ini bertujuan untuk mengatasi penghindaran bea masuk dan memastikan adanya kontrol ekspor yang memadai serta keamanan investasi. Selain itu, Indonesia juga akan menghapus semua pembatasan ekspor ke Amerika Serikat untuk semua jenis komoditas industri, termasuk mineral penting.
7. Penerapan Larangan Impor Kerja Paksa
Indonesia telah berkomitmen untuk menerapkan larangan terhadap impor yang melibatkan kerja paksa. Selain itu, negara ini juga akan menghapus ketentuan dalam undang-undang ketenagakerjaan yang membatasi kebebasan pekerja dan serikat pekerja dalam menjalankan hak berserikat dan melakukan tawar-menawar secara kolektif.
8. Komitmen dalam Investasi dan Impor
Amerika Serikat dan Indonesia saling mengapresiasi atas pencapaian kesepakatan komersial besar yang bernilai sekitar 33 miliar dolar AS, yang berfokus pada investasi di sektor pertanian, kedirgantaraan, dan energi di Amerika Serikat. Kesepakatan ini juga berkontribusi pada peningkatan ekspor AS ke Indonesia, yang mencakup:
- Pembelian komoditas energi dari AS senilai sekitar 15 miliar dolar AS.
- Pengadaan pesawat komersial dan layanan terkait penerbangan yang mencapai sekitar 13,5 miliar dolar AS, termasuk dari perusahaan Boeing.
- Pembelian produk pertanian dari AS yang nilainya lebih dari 4,5 miliar dolar AS.