Tak Lagi Andalkan Timur Tengah, Indonesia Mulai Mengimpor Minyak dari Amerika Serikat
Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa proses impor minyak dari Amerika Serikat akan dilakukan secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan dari Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah telah mulai mengalihkan sumber impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
"Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap," jelas Bahlil dalam wawancaranya dikutip dari Antara, Kamis (5/4/2026).
Menurut Bahlil, pengalihan sumber impor minyak ini tidak dapat dilakukan secara mendadak. Salah satu faktor yang menghambat adalah keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak mentah (storage) di dalam negeri. Saat ini, Indonesia hanya memiliki cadangan minyak yang dapat bertahan selama 25 hingga 26 hari.
Hal ini dinilai masih jauh dari standar internasional yang umumnya memiliki cadangan energi hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan. Oleh karena itu, pemerintah berencana untuk mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak guna meningkatkan ketahanan energi nasional.
"Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival," tambah Bahlil.
Pemerintah Bangun Fasilitas Penyimpanan Minyak Baru
Pemerintah juga sedang mempersiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah baru sebagai langkah untuk memperkuat cadangan energi nasional, selain mengalihkan sumber impor minyak. Menurut Bahlil, Indonesia telah berhasil menarik minat investor untuk proyek pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut, yang rencananya akan dibangun di wilayah Sumatra.
Saat ini, proyek ini masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study) sebelum memasuki fase konstruksi. Pemerintah menargetkan bahwa pembangunan fasilitas ini dapat dimulai pada tahun ini.
Dengan adanya tambahan fasilitas penyimpanan ini, diharapkan kapasitas cadangan energi nasional dapat meningkat hingga 90 hari, sesuai dengan standar internasional. Langkah ini dianggap sangat penting untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.