Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp 16.450 pada 2026, Imbas Kenaikan Suku Bunga The Fed
Diperkirakan bahwa The Fed akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan pada tahun depan, yang tentunya akan memengaruhi nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan menguat di bawah Rp 16.500 secara rata-rata pada tahun 2026. Hal ini sejalan dengan harapan bahwa bank sentral AS, The Fed, akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan pada tahun depan.
"Dengan asumsi bahwa rupiahnya lebih stabil, kita expect sebenarnya rupiah akan appreciated on average di tahun 2026 di Rp 16.450," ungkap Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, dalam sesi webinar pada Kamis (4/12/2025).
Rully juga menjelaskan bahwa penurunan indeks dolar AS (DXY) dan Fed Funds Rate akan berkontribusi pada kestabilan kurs rupiah. Ia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan tetap berada di kisaran Rp 16.500-16.600 per dolar AS pada akhir tahun 2025, asalkan tidak ada lonjakan signifikan yang mengganggu pasar. "Jadi ini juga akan sangat bergantung dari harmonisasi kebijakan. Saat ini Bank Indonesia berusaha mempertahankan stabilitas," tambahnya.
Dalam beberapa hari terakhir, kurs rupiah menunjukkan sedikit tren penguatan meskipun masih berada di atas Rp 16.600 per dolar AS. Oleh karena itu, Rully berharap The Fed dapat memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga acuannya pada akhir tahun ini.
"Dengan penurunan suku bunga di bulan Desember nanti juga relatif price in. Sehingga kita expect mungkin sampai akhir tahun di kisaran sekitar Rp 16.550 per dolar AS. Mungkin akan ada sedikit ruang penguatan, terutama kalau nanti The Fed itu akan lebih jelas dalam memberi sinyal akan arah penurunan suku bunga di 2026," tuturnya.
Nilai rupiah mengalami koreksi kembali
Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menyebabkan rupiah mengalami pelemahan pada awal perdagangan di hari Kamis pagi ini. Nilai tukar rupiah dibuka turun 2 poin atau 0,01 persen, mencapai Rp 16.630 per dolar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.628 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya tekanan yang masih kuat dari kurs dolar, di tengah sentimen global yang cenderung berhati-hati.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa para investor masih menunjukkan sikap waspada menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. "Investor tetap berhati-hati menjelang rilis data ekonomi AS dan pertemuan FOMC minggu depan," ujarnya.
Ia memperkirakan bahwa pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp 16.550 hingga Rp 16.650 per dolar AS. Menurutnya, potensi pelemahan rupiah dapat terhambat oleh penurunan permintaan terhadap dolar setelah adanya rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan adanya perlambatan.
Kinerja Sektor Jasa
Lebih lanjut, Josua menekankan pentingnya laporan ketenagakerjaan dari Automatic Data Processing (ADP) yang menunjukkan adanya kontraksi yang cukup signifikan. Pada bulan November 2025, ADP melaporkan penurunan sebanyak 32 ribu pekerjaan, angka ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penurunan sebesar 10 ribu pekerjaan, serta menurun tajam dari 47 ribu pekerjaan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Catatan ini menjadi yang terendah sejak Maret 2023 dan memberikan sinyal adanya pelemahan yang signifikan di sektor tenaga kerja Amerika Serikat.
Di sisi lain, kinerja sektor jasa menunjukkan hasil yang bervariasi. S&P Global US Services PMI mengalami penurunan ke level 54,1 pada November 2025, dibandingkan dengan 55,0 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, ISM Services Index justru mencatat kenaikan tipis ke angka 52,6 dari 52,4. Data-data ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap dinamika nilai tukar dolar, sehingga membuat investor terus memantau perkembangan ekonomi AS dengan seksama.