Pengamat Tekankan Penguatan Infrastruktur Bulog Hadapi Puncak Panen Raya 2026
Pengamat pertanian menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur pengering dan gudang Bulog untuk sukses hadapi puncak panen raya padi Maret 2026, demi menjaga stabilitas harga gabah dan penyerapan optimal.
Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menekankan urgensi penguatan infrastruktur Bulog dalam menghadapi puncak panen padi yang diperkirakan terjadi pada Maret 2026. Langkah ini krusial untuk memastikan penyerapan gabah petani berjalan optimal serta mencegah anjloknya harga di tingkat petani. Kapasitas pengering dan gudang penyimpanan menjadi sorotan utama yang perlu segera ditingkatkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan puncak panen padi Maret 2026 akan menghasilkan produksi signifikan, mencapai 9,29 juta ton gabah kering giling (GKG) dari lahan seluas 1,71 juta hektare. Durasi panen raya tahun ini juga diprediksi lebih panjang, berlangsung dari Februari hingga April 2026, berpotensi mengulang capaian swasembada beras seperti tahun sebelumnya.
Namun, potensi positif ini dapat terhambat oleh keterbatasan infrastruktur. Khudori mengingatkan bahwa kapasitas pengering (dryer) dan gudang Bulog yang belum memadai bisa menjadi kendala serius dalam penyerapan gabah. Oleh karena itu, persiapan matang dan investasi pada fasilitas pendukung sangat dibutuhkan guna menjaga stabilitas pangan nasional.
Tantangan Kapasitas Bulog dalam Penyerapan Gabah
Keterbatasan kapasitas mesin pengering dan penggilingan menjadi perhatian utama dalam menghadapi panen raya mendatang. Khudori menyoroti bahwa bukan hanya kapasitas mesin yang terbatas, tetapi juga modal yang kurang memadai, terutama bagi penggilingan padi skala kecil. Kondisi ini berpotensi menyebabkan harga gabah di tingkat petani terjun bebas jika tidak ada intervensi yang kuat dari Bulog.
Saat ini, Bulog memiliki 10 sentra pengolahan padi (SPP) dan 7 sentra pengolahan beras, dengan total kapasitas giling sekitar 306 ribu ton beras per tahun. Angka ini hanya sekitar 7,65 persen dari target penyerapan Bulog yang mencapai 4 juta ton setara beras. Kesenjangan kapasitas ini menunjukkan perlunya peningkatan signifikan dalam infrastruktur pengolahan.
Meskipun Bulog telah menggandeng sekitar 3.000 mitra pengadaan dan makloon, kapasitas pengering mitra juga masih terbatas. Kapasitas pengering gabah kering panen (GKP) dari mitra hanya berkisar antara 59 ribu hingga 77 ribu ton per hari, yang mungkin tidak cukup untuk menampung lonjakan produksi saat puncak panen. Situasi ini memerlukan evaluasi dan strategi komprehensif untuk meningkatkan daya serap secara keseluruhan.
Pentingnya Pemetaan Infrastruktur dan Penyaluran Stok
Untuk mengatasi potensi masalah penyerapan, Khudori merekomendasikan pemetaan infrastruktur secara menyeluruh. Pemetaan ini harus mencakup fasilitas pengering, penggilingan, dan transportasi antarwilayah, agar gabah hasil panen dapat ditangani tanpa keterlambatan. Penanganan gabah yang cepat sangat penting, mengingat dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) kerja sama Bulog dengan mitra, gabah harus dikeringkan maksimal 1x24 jam setelah diterima.
Jika proses pengeringan terlambat, gabah berisiko menghitam dan bahkan berkecambah, yang akan menurunkan kualitas dan nilai jualnya. Oleh karena itu, efisiensi dalam rantai pasok, mulai dari penjemputan hingga pengeringan, adalah kunci untuk menjaga kualitas gabah petani. Koordinasi yang baik antara Bulog dan mitranya menjadi esensial dalam menjalankan SOP ini.
Selain kapasitas pengolahan, kebutuhan gudang penyimpanan juga menjadi sorotan. Khudori menyoroti perlunya tambahan gudang berkapasitas hingga 1,3 juta ton untuk menampung stok beras yang berpotensi menembus lebih dari 7 juta ton. Ketersediaan gudang yang memadai akan memastikan stok beras nasional aman dan terlindungi dari kerusakan.
Lebih lanjut, Khudori menekankan bahwa Bulog perlu segera menyalurkan stok beras sebesar 3,2 juta ton yang masih tertahan. Penyaluran stok ini penting agar penyerapan gabah pada panen berikutnya dapat berjalan lancar. Langkah ini tidak hanya membuat Bulog lebih lincah dalam operasionalnya, tetapi juga meminimalkan risiko penyusutan volume dan penurunan mutu beras yang tersimpan.
Potensi Swasembada dan Strategi Bulog ke Depan
Dengan proyeksi panen raya yang lebih panjang dari Februari hingga April 2026, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengulang capaian swasembada beras seperti tahun sebelumnya. Namun, potensi ini hanya dapat terwujud jika Bulog didukung dengan infrastruktur yang kuat dan strategi penyerapan yang efektif. Peningkatan kapasitas pengering dan gudang menjadi investasi krusial untuk mencapai tujuan tersebut.
Strategi Bulog ke depan harus fokus pada efisiensi dan kecepatan dalam penanganan gabah. Ini termasuk optimalisasi kerja sama dengan mitra, peningkatan fasilitas pengolahan, serta memastikan ketersediaan modal yang cukup bagi penggilingan skala kecil. Dengan demikian, Bulog dapat berperan maksimal dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.
Penguatan infrastruktur tidak hanya berdampak pada kemampuan Bulog menyerap gabah, tetapi juga pada kesejahteraan petani. Dengan adanya jaminan penyerapan dan harga yang stabil, petani akan lebih termotivasi untuk meningkatkan produksi. Ini adalah langkah strategis jangka panjang untuk ketahanan pangan nasional.
Sumber: AntaraNews