Bulog Targetkan Penyerapan Beras 3 Juta Ton di Semester I 2026 untuk Jaga Stabilitas Pangan Nasional
Perum Bulog optimis mampu menyerap 3 juta ton beras pada semester pertama 2026. Target penyerapan beras Bulog ini krusial untuk menjaga stabilitas harga, serapan petani, dan keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menargetkan penyerapan beras sebanyak 3 juta ton pada semester pertama tahun 2026. Target ambisius ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga pangan, memastikan serapan hasil panen petani, serta mendukung keberlanjutan program swasembada pangan nasional. Pernyataan ini disampaikan Rizal di Jakarta, pada Minggu (12/1).
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan penyerapan gabah petani setara beras mencapai 4 juta ton sepanjang tahun 2026 untuk memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Dari total tersebut, 3 juta ton diupayakan terserap secara maksimal pada enam bulan pertama. Rizal menyatakan keyakinannya bahwa target ini dapat terealisasi berkat pengalaman historis panen yang mendukung, kesiapan operasional Bulog, serta koordinasi yang erat dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan para petani.
Puncak panen raya di Indonesia umumnya terjadi pada semester pertama setiap tahunnya. Sementara itu, volume panen cenderung menurun sekitar 30 hingga 40 persen di semester kedua karena faktor cuaca, terutama curah hujan tinggi musiman yang berulang. Oleh karena itu, strategi penyerapan beras difokuskan sejak awal tahun untuk memaksimalkan hasil panen dan mengisi cadangan pemerintah.
Target Ambisius Penyerapan Beras Nasional
Perum Bulog menetapkan target penyerapan gabah petani setara beras sebesar 4 juta ton untuk tahun 2026, dengan fokus utama pada semester pertama. Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa 3 juta ton dari target tersebut diharapkan dapat terserap pada periode Januari hingga Juni. Sisa 1 juta ton akan menjadi target penyerapan di semester kedua.
Rizal optimistis bahwa realisasi penyerapan beras ini dapat tercapai. Optimisme ini didasari oleh pengalaman historis panen yang menunjukkan hasil melimpah di awal tahun, kesiapan operasional Bulog di lapangan, serta koordinasi yang solid antara Bulog dengan pemerintah daerah dan petani. Kesiapan ini menjadi kunci dalam mencapai target penyerapan beras yang vital bagi ketahanan pangan.
Strategi Penyerapan Berfokus pada Semester Awal
Strategi penyerapan beras oleh Bulog difokuskan pada semester pertama karena periode ini merupakan puncak panen raya di sebagian besar wilayah Indonesia. Rizal menjelaskan bahwa volume panen cenderung menurun drastis di semester kedua, biasanya sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan semester pertama. Penurunan ini disebabkan oleh faktor cuaca, khususnya curah hujan tinggi yang kerap terjadi di akhir tahun.
Curah hujan tinggi dapat menghambat proses panen dan pengeringan gabah, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen. Oleh karena itu, Bulog mengintensifkan upaya penyerapan sejak awal tahun untuk memanfaatkan momentum panen maksimal. Pendekatan ini diharapkan dapat mengamankan pasokan beras nasional sebelum musim paceklik atau kondisi cuaca ekstrem memengaruhi produksi.
Kualitas dan Harga Gabah Petani
Bulog menegaskan kesiapannya untuk menyerap gabah dan beras dari petani dengan berbagai kualitas, asalkan memenuhi standar usia panen yang tepat. Penyerapan ini dilakukan untuk memastikan mutu hasil tetap terjaga, sehingga tidak merugikan baik petani maupun konsumen. Gabah dari petani akan dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram, memberikan kepastian harga bagi para petani.
Pentingnya panen gabah sesuai usia matang ditekankan oleh Rizal. Gabah yang dipanen sebelum waktunya berisiko menghasilkan beras yang mudah pecah dan memiliki kualitas rendah, yang pada akhirnya akan berdampak negatif pada nilai jual. Disiplin dalam menentukan waktu panen menjadi sangat krusial bagi petani untuk menjaga kualitas produk dan memastikan serapan yang optimal oleh Bulog.
Dukungan Lintas Sektor untuk Swasembada Pangan
Untuk mendukung keberhasilan target penyerapan beras dan keberlanjutan swasembada pangan, Bulog mengharapkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas diharapkan dapat aktif mendampingi petani. Pendampingan ini bertujuan agar petani memanen gabah sesuai usia panen yang optimal, demi menjaga kualitas dan kuantitas hasil.
Rizal kembali menyatakan optimismenya bahwa target penyerapan dapat tercapai, didukung oleh riset, pengalaman historis, dan kesiapan di lapangan. Namun, ia juga menyoroti potensi gangguan cuaca ekstrem sebagai satu-satunya kekhawatiran yang dapat menghambat kelancaran panen dan penyerapan. Saat ini, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada awal tahun mencapai lebih dari 3,2 juta ton, yang merupakan beras peralihan dari tahun 2025 dan tersimpan aman di gudang-gudang Perum Bulog.
Sumber: AntaraNews