Dirut Bulog Dorong Maksimalisasi Penyerapan Gabah Petani Antisipasi El Nino
Direktur Utama Bulog instruksikan jajaran untuk genjot penyerapan gabah petani hingga Juli 2026. Langkah ini krusial untuk mengamankan stok beras nasional di tengah ancaman El Nino dan gejolak global.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, meminta seluruh pimpinan wilayah dan cabang Bulog di seluruh Indonesia untuk memaksimalkan penyerapan gabah dari petani. Imbauan ini bertujuan untuk mengamankan target nasional di tengah potensi dampak El Nino serta gejolak geopolitik global yang dapat memengaruhi pasokan pangan.
Rizal menekankan pentingnya periode panen raya awal tahun ini hingga bulan Juli 2026 sebagai momen krusial untuk penyerapan gabah secara optimal. Hal tersebut disampaikan usai Rapat Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah Setara Beras di Kantor Bulog Jakarta pada Senin lalu.
Langkah strategis ini diambil sebagai antisipasi terhadap kemungkinan El Nino yang berkepanjangan hingga akhir tahun, meskipun puncak El Nino diperkirakan bertepatan dengan masa panen raya. Kondisi cuaca panas justru dinilai menguntungkan untuk proses pengeringan gabah.
Strategi Bulog Hadapi Tantangan Iklim dan Geopolitik
Rizal menjelaskan bahwa periode Juni hingga Juli 2026 diprediksi menjadi puncak El Nino, namun masa ini juga bertepatan dengan panen raya di berbagai sentra produksi padi nasional. Kondisi cuaca panas selama panen dianggap menguntungkan karena membantu pengeringan gabah, sehingga kualitas hasil panen petani menjadi lebih baik dan siap diserap Bulog.
“Untuk antisipasi kalau nanti El Nino-nya berkepanjangan bahkan di November dan lain sebagainya,” ujar Rizal, menegaskan urgensi penyerapan gabah saat ini. Dengan percepatan penyerapan ini, Bulog optimistis dapat mencapai target 4 juta ton beras secara maksimal.
Pencapaian target tersebut tidak hanya mengamankan stok, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan pangan nasional sepanjang tahun ini. Komitmen Bulog untuk menjaga ketersediaan pangan nasional tetap aman sangat penting di tengah tekanan global dan perubahan iklim yang berdampak pada banyak negara.
Capaian dan Target Penyerapan Gabah Bulog
Hingga 13 April 2026, Bulog mencatat capaian penyerapan gabah telah mencapai sekitar 48,7 persen dari target yang ditetapkan pemerintah, atau setara dengan 1,9 juta ton beras. Target keseluruhan Bulog adalah menyerap 4 juta ton beras pada tahun ini.
Stok beras Bulog saat ini tercatat mencapai 4,727 juta ton. Dengan adanya percepatan penyerapan di lapangan, stok ini diproyeksikan akan menembus angka 5 juta ton dalam waktu dekat.
Rizal menegaskan bahwa intensitas kerja Bulog saat ini ditingkatkan, bahkan hampir tanpa hari libur, demi memastikan proses penyerapan dan pengelolaan beras berjalan optimal sesuai target. Ia menyebutkan bahwa pegawai Bulog mengorbankan waktu akhir pekan untuk mendukung operasional penyerapan dan pengemasan beras sebagai bentuk pengabdian kepada negara.
Sinergi dan Komitmen untuk Ketahanan Pangan Nasional
Komitmen Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya stabilitas pangan nasional dan dukungan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang kokoh. Bulog terus berupaya memperkuat ketahanan pangan.
Untuk memperkuat ketahanan pangan, Bulog juga meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak. Ini termasuk kementerian/lembaga terkait, BUMN pangan, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan.
Bulog juga memperkuat koordinasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), khususnya Komisi IV dan Komisi VI, serta sektor swasta logistik. Sebuah command center juga dibentuk di Kantor Pusat Perum Bulog untuk memantau dinamika global dan potensi El Nino secara real time.
Dalam menjaga stabilitas harga, Bulog rutin memantau pasar bersama Badan Pangan Nasional dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan. Mereka juga aktif melakukan operasi pasar dan pengawasan produsen secara langsung di lapangan.
Sumber: AntaraNews