Luhut Ungkap Rahasia di Balik Rencana Family Office Indonesia: Awalnya Iseng Tanya ChatGPT
Luhut mengaku sempat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), yakni ChatGPT, untuk mencari referensi awal dan pemetaan masalah terkait kebijakan tersebut.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap cerita menarik di balik rencana pembentukan Family Office di Indonesia. Ia mengaku sempat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), yakni ChatGPT, untuk mencari referensi awal dan pemetaan masalah terkait kebijakan tersebut.
“Saya iseng akhirnya tanya Chat GPT semua, dalam setengah jam sudah keluar semua,” kata Luhut dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, di Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, hasil penelusuran cepat itu dijadikan dasar awal bagi tim DEN untuk menyusun studi yang lebih komprehensif, mencakup aspek hukum, perpajakan, hingga potensi dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Setelah mendapatkan hasil awal dari ChatGPT, Luhut kemudian menugaskan tim eksekutif di kantornya untuk menyusun studi mendalam berbasis temuan tersebut.
“Saya bilang ke direktur eksekutif di kantor saya, sudah kamu dari sini basis studi dia buatlah studi kita lihat masalah legal, masalah pajak dan seterusnya, ada enggak yang merugikan negara, enggak ada,” ujarnya.
Tak Gunakan APBN
Lebih lanjut, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, bahwa inisiatif pembentukan Family Officedi Indonesia sama sekali tidak berkaitan dengan penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, langkah ini murni ditujukan untuk menciptakan ekosistem investasi yang lebih kompetitif dan menarik bagi para investor asing.
“Kita harus friendly ke foregn investment itu harus jalan bagus. Oleh sebabnya saya usulin buatlah family office. Family office tidak ada urusan dengan APBN,” ujarnya.
Meniru Sukses Negara Maju
Luhut mengungkapkan, ide Family Office terinspirasi dari keberhasilan pusat keuangan dunia seperti Singapura, Hong Kong, dan Abu Dhabi yang berhasil menarik dana pribadi miliarder dunia untuk dikelola di negara mereka.
Menurut Luhut, dengan skema ini, investor dapat menempatkan asetnya dengan perlakuan pajak yang lebih bersahabat.
“Orang asing bikin family office banyak sekali di Singapura, di Hongkong, di Abudhabi. Mereka juga pengen mengapa hanya di Singapura aja? proyeknya kurang, di Indonesia proyeknya banyak ya kenapa enggak kita tarik kemari, logikanya di situ,” pungkasnya.