Cara Arkeolog Mencium Bau Mumi Kuno, Bukan Asal Hirup
Arkeolog punya cara tersendiri bagaimana mencium bau mumi kuno.
Ilmuwan dan arkeolog kini memiliki cara unik untuk “mencium” bau mumi tanpa harus langsung menghirupnya. Dengan teknologi modern, mereka bisa mengungkap aroma yang tersisa dari tubuh mumi yang telah berusia ribuan tahun.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis senyawa organik volatil (VOCs) yang masih melekat pada kain pembungkus atau sisa tubuh mumi. Para ahli menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), yang mampu mendeteksi zat kimia dalam jumlah sangat kecil.
“Hasilnya cukup mengejutkan. Beberapa mumi memiliki aroma khas seperti damar, mur, atau kemenyan, bahan yang memang digunakan dalam proses pembalsaman di Mesir kuno,” ujar Dr. Ahmed Hassan, pakar arkeologi dari Universitas Kairo dari beragam sumber, Jumat (14/3).
Selain GC-MS, ilmuwan juga menggunakan Spektroskopi Inframerah (FTIR) untuk mengidentifikasi jejak molekuler dari zat pembalsaman. Dengan metode ini, mereka bahkan bisa merekonstruksi bau asli yang kemungkinan besar tercium saat mumi pertama kali diawetkan.
Penelitian ini bukan sekadar soal bau. Dengan memahami aroma yang dihasilkan mumi, para arkeolog dapat menggali lebih dalam tentang teknik pembalsaman, kehidupan, hingga status sosial seseorang di masa lalu. Misalnya, mumi dari kalangan bangsawan cenderung memiliki lebih banyak lapisan resin aromatik dibandingkan rakyat biasa.
Penemuan ini membuka peluang baru dalam dunia arkeologi, khususnya dalam memahami budaya kuno dengan cara yang lebih mendetail.
“Kami tidak hanya melihat dan menyentuh artefak, tapi kini juga bisa ‘mencium’ masa lalu,” tambah Dr. Hassan.
Penelitian ini diharapkan dapat terus berkembang dan membantu mengungkap lebih banyak misteri dari peradaban kuno, khususnya Mesir yang terkenal dengan teknik mumifikasinya yang maju.